IHSG Melejit, Waspadai Potensi Pembalikan

Oleh : Dr. Agus S. Irfani

Lektor Kepala FE Univ. Pancasila

Sentimen positif bursa global dan regional di awal Maret 2013 telah menghantarkan IHSG melejit ke singgasana tertingginya sepanjang sejarah di level 4.874 pada penutupan akhir pekan lalu. Capaian ini menempatkan kinerja IHSG tertinggi kedua di antara indeks bursa dunia dengan angka peningkatan sebesar 12,32% selama tahun 2013. Posisi ini dibawah Nikkei Jepang (14,80%) tetapi lebih tinggi daripada SET Thailand (12,03%), ASX Australia (10,06%), FTSE 100 Inggris (9,46%), Dow Jones AS (9,11%), Straits Times Singapura (3,94%), dan sejumlah indeks bursa dunia dan regional lainnya. Bahkan selama tahun ini Sensex India dan KLCI Malaysia melorot masing-masing -0,90% dan -2,20%.

Masih besarnya ketergantungan IHSG terhadap peran investor asing merupakan realitas yang harus diakui. Jika fenomena melejitnya IHSG ini dikaitkan dengan net buy investor asing yang mencapai Rp20,28 triliun pada akhir pekan lalu, hal ini mengindikasikan bahwa saham-saham yang diborong investor asing di BEI sudah overbought. Sebagai konsekuensinya, bursa perlu mewaspadai potensi reversal (pembalikan) dalam pekan ini. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa proporsi kepemilikan saham oleh investor asing di BEI pada akhir Februari 2013 mencapai 59,2% dari total Rp2.882 triliun dan hingga 8 Maret diduga meningkat lagi menjadi di atas 60%.

Price earning ratio (PER) BEI yang sekarang ini sudah mencapai 19,12 kali yang berarti lebih tinggi daripada PER KLCI Malaysia (14,67 kali), PER Hang Seng Hong Kong (11,35 kali), dan PER SE Thailand (17,91 kali). Hal ini ikut menyumbang potensi reversal dalam waktui dekat. Relatif tingginya PER juga mengindikasikan sudah semakin mahalnya saham-saham yang diperdagangkan di BEI bagi investor lokal. Fakta empirik menunjukkan pula bahwa selama tiga bulan terakhir ini proporsi kepemilikan saham oleh investor lokal kembali menurun dari 41,2% pada Desember 2012 menjadi 40,8% pada awal Maret 2013.

Apabila dikaitkan dengan indikator ekonomi, jauh lebih kecilnya perkiraan PDB per kapita Indonesia 2013 (US$4.061) dibanding Thailand (US$6.364), Malaysia (US$11.513), dan Singapura (US$50.899) juga menggambarkan masih lemahnya daya beli investor lokal atas aset investasi, termasuk saham yang diperdagangkan di bursa. Hal ini mengindikasikan bahwa peranserta investor asing di BEI masih diperlukan. Tetapi para pelaku pasar hendaknya tetap mewaspadai bahwa arus dana asing yang masuk ke bursa lokal merupakan hot money dalam bentuk transaksi jangka pendek dengan pola “positive feedback trading”. Mereka masuk ketika pasar bullish dan mereka segera keluar ketika pasar bearish.

Oleh karena itu potensi reversal dalam waktu dekat hendaknya cukup diwaspadai saja tetapi tidak perlu disikapi terlalu berlebihan. Mantapnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, kestabilan tingkat inflasi, dan banyak dirilisnya kinerja emiten yang cemerlang selama pekan lalu akan mendukung kinerja bursa sehingga tetap memikat investor asing. Artinya pembalikan tersebut tidak akan menjadi “sudden reversal” (pembalikan mendadak).

BERITA TERKAIT

Waspadai Defisit Perdagangan

Data BPS mencatat neraca transaksi perdagangan Indonesia (NPI) pada akhir Desember 2018 defisit US$8 miliar lebih, kontras dengan periode akhir…

Optimisme Ekonomi Positif Bawa IHSG Menguat

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis ditutup menguat seiring penilaian investor terhadap…

Aksi Beli Bawa IHSG Kembali di Zona Hijau

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (16/1)kemarin, indeks harga saham gabungan ditutup naik tipis…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Koperasi Syariah vs RUU Perkoperasian

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Setelah lama tak terdengar dan telah  meredup cahayanya  bertahun – tahun, akhirnya draf…

Lagi, Impor Gula

Oleh: Nailul Huda Peneliti Indef   Dalam satu minggu terakhir pembahasan mengenai gula kembali mencuat. Pasalnya adalah impor gula yang…

Infrastruktur Berkualitas Rendah - Oleh ; EdyMulyadi, Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Proyek infrastruktur di Indonesia ternyata berkualitas rendah dan tidak memiliki kesiapan. Bukan itu saja, proyek yang jadi kebanggaan Presiden JokoWidodo itu…