“Earning Season” Berakhir, Indeks Dibayangi Pelemahan - Waspadai Aksi Ambil Untung

NERACA

Jakarta- Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup pada perdagangan pekan kemarin di level 4.874 masih seiring momentum dikeluarkannya laporan tahunan (earning season). Karena itu, sejauh ini IHSG dinilai masih dibayangi pelemahan yang perlu cermati, terlebih setelah kuartal pertama berakhir. "IHSG naik dikarenakan pas momen “earning season”. Setelah earning season berakhir, atau kuartal pertama, maka perlu diperhatikan level 4.585-4.715." kata Analis PT Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta akhir pekan kemarin.

Jika IHSG menembus level tersebut, menurut dia, maka akan membuka peluang terjadinya pelemahan lanjutan. Namun selama sentimen positif ada di bursa, yaitu dengan aksi beli yang masih lebih banyak dilakukan pemodal maka indeks akan terus mencoba tes resisten terbarunya. Meskipun sudah berada di atas area titik jenuh beli (overbought). "Kalau memang posisinya kuat, indeks akan menguji level resisten 4.950-5.025." ujarnya.

Saat ini, dia menilai hampir semua sektor mendekati area overbought, kecuali saham-saham komoditas. Namun pelaku pasar memungkinkan untuk mengakumulasi saham-saham yang memiliki kinerja positif dan prospektif yang didasarkan pada kinerja fundamental emiten. Hal tersebut yang selanjutnya akan mendorong kinerja IHSG dan saham-saham yang tercatat sudah mahal ataupun berada di area titik jenuh beli, seperti halnya sektor perbankan. "Kalau pelaku pasar masih merespon positif maka IHSG maupun harga-harga saham akan tetap nyaman di area overbought-nya." jelasnya.

Menurutnya, sejauh ini hal yang dapat mendukung pertumbuhan pasar modal ke depan yaitu pihak otoritas perlu mengupayakan secara serius langkah untuk memperbanyak jumlah investor lokal. Pasalnya, investor asing yang saat ini tercatat melakukan aksi beli dan mendukung penguatan indeks bisa keluar kapan saja. Artinya, bisa terjadi pelarian dana asing (outflow) secara tiba-tiba dan bursa saham pun terancam jatuh. Selain itu, potensi investor lokal sebenarnya masih cukup besar bahkan lebih hebat dari investor asing. Hanya saja, sejauh mana upaya yang telah dilakukan pihak otoritas, seperti melakukan edukasi kepada masyarakat.

Track Record Emiten

Senada dengan Reza. Analis saham, Lucky Bayu Purnomo mengatakan sejauh ini investor asing memanfaatkan adanya momen “earning season” pada kuartal pertama ini. Setelah itu sangat dimungkinkan mereka akan menarik uangnya kembali, yaitu di bulan April-Juni. Pasalnya, mereka akan kembali mempertimbangkan seperti apa dan bagaimana investasinya di masa depan. "Biasanya sebelum dan pada saat earning season mereka masuk, kemudian melakukan koreksi." ujarnya.

Pada kuartal kedua, lanjut dia, investor akan melihat jejak rekam kinerja emiten selama setahun dan rencana bisnis yang akan dilakukan pihak emiten ke depan. Karena itu, dia pun memperkirakan IHSG dapat terkoreksi di level 4.650 pada periode ini.

Menurutnya, hal yang perlu diupayakan agar pasar saham tidak hanya menarik pada saat momen-momen tertentu, pihak otoritas dan regulator perlu menggali sentimen positif yang paling fundamental, yaitu berani memberikan kepastian hukum dengan sikap yang tegas terhadap permasalahan yang terjadi di pasar modal. Hal tersebut sekaligus dapat mendukung pihak otoritas dalam melakukan penyuluhan dan himbauan berinvestasi. "Kuncinya pada penyampaian informasi. Diperlukan adanya statemen yang tegas mengenai regulator pasar modal." jelasnya.

Adapun hal lainnya, kata dia, yaitu mendorong agar perusahaan-perusahaan swasta di Indonesia dapat melepas sahamnya ke publik melalui mekanisme penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/ IPO). Sentimen terakhir yang juga bisa diupayakan adalah penerbitan obligasi oleh pemerintah. “Bisa dengan upaya penerbitan obligasi yang dibeli negara sendiri atau pemerintah melakukan buyback.” ucapnya.

Ditempat terpisah analis pasar modal Pardomoan Sihombing mengatakan, pergerakan indeks BEI kedepan akan menembus level 5.000- 5.300 dengan dipicu sentimen positif pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat yang bagus, inflasi yang terjaga dan rating investment grade yang didapat pemerintah Indonesia di level BBB+,”Beberapa saham yang direkomendasikan di sektor properti, perbankan, infrastruktur dan sektor konsumsi,”ungkapnya.(lia)

Related posts