Tiga Calon Emiten Diminta Lepas 20% Saham

NERACA

Jakarta- Menyusul penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) PT Dyandra Media International Tbk, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan ada tiga emiten lagi yang bakal IPO pada semester pertama 2013. “Mereka sudah mini ekspose. Mudah-mudahan bisa listing pada semester pertama.” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dari ketiga perusahaan tersebut, lanjut dia, yaitu PT Mitra Pinasthika Mustika, PT Dharma Satya Nusantara, dan PT Austindo Nusantara Jaya. Ketiganya akan melakukan penawaran global (global offering) dalam rangka penawaran saham perdananya dan menggunakan laporan keuangan Desember 2012.

Disebutkan, perusahaan yang akan mencatatkan sahamnya memiliki total nilai aset sekitar Rp5 triliun. Dalam penawaran sahamnya, pihak otoritas mengimbau agar perusahaan tersebut dapat melepas sahamnya sebesar 20% ke publik. “Persentasenya dikatakan tergantung pricing-nya. Tetapi kita menghimbau mendekati 20% dan jangan 10%.” ujarnya.

Menurutnya, sebagai penjamin pelaksana emisi efek, PT Mitra Pinasthika Mustika, distributor sepeda motor di Surabaya, Jawa Timur telah menunjuk PT Indopremier Securities. Sementara PT Dharma Satya Nusantara yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit, menunjuk PT Ciptadana Securities. Adapun PT Austindo Nusantara Jaya menunjuk PT Bahana Securities sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Peluang Pasar

Di lain kesempatan, Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan semester pertama ini menjadi masa bulan madu bagi pasar saham. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan aksi beli bersih oleh asing yang cukup tinggi menjadi sinyal positifnya. Karena itu, ini menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan oleh calon emiten untuk melaksanakan IPO.

Sementara pada semester kedua, kata dia, akan mulai beranjak volatile dikarenakan adanya sentimen politis.” Investor asing di semester kedua sudah mulai mengerem, terlebih di 2014 kondisinya sama dengan 2004 di mana kita tidak dapat memprediksikan siapa pemimpinnya. Ini membuat market suatu volatilitas yang tinggi.” jelasnya.

Hal yang sama juga pernah diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan. Pasar saham Indonesia dalam posisi sangat positif, dimana demand asing terus bertambah pada kisaran belasan triliun. Hal tersebut didukung oleh kondisi fundamental Indonesia, di samping belum pulihnya pasar dan situasi ekonomi di Amerikan dan Eropa.

Bahkan dia memproyeksikan aksi beli bersih (net buy) asing diperkirakan melebihi Rp 40 triliun pada akhir tahun ini. Selain itu, kinerja sektor pertambangan juga menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan. Menurutnya, faktor politis tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kondisi pasar saham. “Investor kita sudah sangat rasional saat ini. Apa yang terjadi dalam praktik politik praktis tidak banyak mempengaruhi pasar, “ ujarnya. (lia)

Related posts