Media Bisa Edukasi Masyarakat Soal Investasi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai peran media dapat menjadi pendamping masyarakat dalam memberikan edukasi investasi yang ada di Indonesia, “Dengan edukasi yang intensif dapat meminimalisir masyarakat yang terkena penipuan investasi,"kata Deputi Komisioner OJK Bidang Pengawas Pasar Modal, Robinson Simbolon di Jakarta, Kamis (7/3).

Dia menambahkan, pihaknya juga merencakan untuk membentuk market intelijen yang terdiri dari pegawai OJK dan beberapa lembaga lainnya. Saat ini, market intelejen yang ada mencapai 800 orang.

Sementara itu, sebagai langkah preventif perlindungan nasabah terhadap praktek penipuan investasi, OJK terus menguatkan kinerja Satuan Tugas Waspada Investasi yang sudah dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor:Kep-208/BL/2007 yang ditetapkan pada tanggal 20 Juni 2007, yang terakhir diperpanjang dengan Surat Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor:Kep-124/BL/2012 yang ditetapkan pada tanggal 19 Maret 2012.

Kata Robinson, masyarakat dapat mewaspadai dari kisah sukses beberapa kalangan yang telah melakukan investasi. Dengan modus operandi seperti itu biasanya akan memakan korban."Orang-orang pertama di bisnis itu selalu mendapat keuntungan besar, karena mendapatkan bunga yang tinggi diperoleh dari nasabah berikutnya. Jadi 'success story' itu menggiurkan, memang bukan cerita bohong," ujarnya.

Sementara anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Kusumaningtuti Soetiono menambahkan, OJK akan menggalakkan iklan layanan publik agar masyarakat menjadi lebih waspada terhadap penipuan investasi."Pada dasarnya kita mempunyai perilaku yang menginginkan imbal hasil yang tinggi dari dana yang ditanamkan. Sayangnya ada keterbatasan dari layanan produk yang ada,”tuturnya.

Saat ini ada 1.069 BPR, asuransi, dan 200 perusahaan keuangan belum bisa menjangkau seluruh populasi kelompok masyarakat Indonesia. Produk-produknya juga masih terbatas yaitu deposito, reksa dana, dana pensiun, dan asuransi.

Oleh karena itu, hal tersebut menyebabkan layanan investasi yang tidak diawasi (unsupervised) dan diatur regulasinya oleh otoritas berwenang, “Apalagi bila produk investasi itu ditawarkan dengan imbal hasil tinggi yang tidak masuk akal bila dibandingkan dengan suku bunga bank,”katanya. (lia)

BERITA TERKAIT

Pintar Nusantara Terbitkan MTN US$ 40 Juta

Guna mendanai pengembangan bisnisnya, perusahaan investasi yang memiliki spesialisasi di industri satelit telekomunikasi PT Pintar Nusantara Sejahtera menerbitkan surat utang…

Convivial Navigation Investor Baru PSSI

Setelah merampungkan aksi korporasi berupa pelaksanaan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement, PT Pelita…

Sritex Tetapkan Kupon Obligasi 7,25%

Emiten tekstil dan garmen terintegrasi, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex menawarkan tingkat kupon obligasi sebesar 7,25% per…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Percepat Dokumentasi Kredit - Bank BTN Luncurkan Web e-Mitra Operation

Dalam rangka meningkatkan kualitas kredit dan layanan kepada debitur, khususnya debitur Kredit Pemilikan Rumah (KPR), PT Bank Tabungan Negara (Persero)…

Lagi, BUMI Bayar Cicilan Utang US$ 31,8 Juta

NERACA Jakarta – Pangkas beban utang untuk menjaga pertumbuhan bisnis dan kesehatan keuangan, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membayar cicilan…

Targetkan Penjualan Rp 400 Miliar - Itama Ranoraya Perkuat Jaringan di Enam Kota

NERACA Jakarta – Keputusan pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan diharapkan bisa membawa dampak positif terhadap kinerja keuangan PT Itama Ranoraya…