Akhir Pekan, IHSG Masih Bergerak Di Zona Hijau

NERACA

Jakarta – Lambat tapi pasti, tren penguatan indeks BEI masih berlanjut ditopang sentimen positif dan aksi beli maraknya aksi borong saham. Dimana saham-saham lapis dua menjadi incaran investor dan akhirnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia,Kamis sore ditutup menguat 23,616 poin (0,49%) ke level 4.848,299. Sementara Indeks LQ45 ditutup menguat 2,911 poin (0,35%) ke level 832,315.

Kepala riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan, faktor BI rate yang tetap di posisi 5,75% menjadi salah satu pendukung naiknya indeks BEI selaian aksi borong saham,”Tingkat BI Rate yang tetap berada di level 5,75% hingga setahun ini menjadi sentimen positif bagi indeks, “katanya di Jakarta, Kamis (7/3).

Menurutnya, penetapan level BI rate itu sudah diantisipasi pelaku pasar, diperkirakan BI rate tetap hingga akhir tahun ini selama The Fed belum menaikan suku bunganya. Dia menambahkan pasar modal juga akan terus tumbuh seiring dana investor asing yang masih menempatkan dananya di pasar domestik, “Pelaku pasar asing tengah memanfaatkan peluang di negara-negara berkembang seiring dengan kondisi ekonomi eksternal yang masih belum terlihat pemulihannya,"ujarnya.

Meski demikian, dia mengaku ada kekhawatiran dari laporan keuangan emiten, dikarenakan hanya beberapa saja yang melebihi ekspektasi. Berikutnya, indeks BEI akhir pekan diproyeksikan masih tetap bertahan di zona hijau dengan tren menguat di level 4.850.

Sebagaimana diketahui, keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali memutuskan menahan suku bunga acuannya di level 5,75% menjadi penyemangat indeks BEI berada di zona hijau. Tercatat, BI telah menahan BI Rate ini selama satu tahun lebih.

Beberapa investor menilai ditahannya BI rate itu menandakan inflasi yang terkendali dan ekonomi Indonesia masih akan tumbuh. Sehingga aksi beli pun langsung marak terjadi. Pada perdagangan kemarin, posisi IHSG di level 4.848 merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Rekor tertinggi IHSG sebelumnya ada di level 4.824,683 setelah melonjak 72,982 poin (1,54%) pada penutupan perdagangan kemarin.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 191.944 kali pada volume 7,013 miliar lembar saham senilai Rp 6,33 triliun. Sebanyak 128 saham naik, sisanya 99 saham turun, dan 105 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia pada perdagangan Kamis ditutup mixed. Beberapa pelaku pasar Asia akumulasi beli saham setelah Dow Jones semalam mencetak rekor tertingginya. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Bintang (MLBI) naik Rp 2.500 ke Rp 903.000, Mayora (MYOR) naik Rp 1.950 ke Rp 26.950, United Tractor (UNTR) naik Rp 800 ke Rp 20.250, dan Lippo Cikarang (LPCK) naik Rp 675 ke Rp 4.700.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 600 ke Rp 50.100, Telkom (TLKM) turun Rp 500 ke Rp 10.600, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 400 ke Rp 77.000, dan Nipress (NIPS) turun Rp 350 ke Rp 5.650.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup tipis 5,799 poin (0,12%) ke level 4.830,482. Sementara Indeks LQ45 menipis 0,839 poin (0,10%) ke level 828,565. Saham-saham unggulan terkena aksi ambil untung, membuat laju IHSG terhambat dan terancam jatuh ke zona merah. Untungnya koreksi tersebut masih bisa ditahan oleh penguatan saham-saham lapis dua.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 105.758 kali pada volume 3,39 miliar lembar saham senilai Rp 3,207 triliun. Sebanyak 128 saham naik, sisanya 99 saham turun, dan 105 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Bintang (MLBI) naik Rp 1.500 ke Rp 902.000, Mayora (MYOR) naik Rp 1.000 ke Rp 26.000, United Tractor (UNTR) naik Rp 650 ke Rp 20.100, dan Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 400 ke Rp 5.700.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 600 ke Rp 50.100, Lippo Insurance (LPGI) turun Rp 575 ke Rp 2.650, Nipress (NIPS) turun Rp 500 ke Rp 5.500, dan Telkom (TLKM) turun Rp 400 ke Rp 10.700.

Sebaliknya, diawal perdagangan indeks BEI dibuka turun 1,44 poin atau 0,03% ke posisi 4.823,24. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,36 poin (0,04%) ke level 829,04, “Beberapa saham yang telah menguat cukup signifikan pada sebelumnya mengalami aksi ambil untung sehingga indeks BEI dibuka melemah," kata analis Samuel Sekuritas Yualdo Yudoprawiro.

Bursa regional diantaranya indeks Hang Seng pada Kamis dibuka melemah 52,58 poin (0,23%) ke level 22.725,26, indeks Nikkei-225 naik 76,35 poin (0,64%) ke level 12.008,62, Straits Times menguat 2,12 poin (0,06%) ke posisi 3.293,93. (bani)

BERITA TERKAIT

Genjot Pertumbuhan Investor - BEI Gelar Sekolah Pasar Modal HIPWI FKPPI

NERACA Jakarta – Perkuat basis investor lokal di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus perluas edukasi  manfaat pasar…

Raih Global Islamic Finance Awards - Pasar Modal Syariah Indonesia Terbaik di Dunia

NERACA Jakarta –Kesekian kalinya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapatkan penghargaan internasional Global Islamic Finance Awards (GIFA) 2019 untuk kategori…

WEGE Catatkan Kontrak Baru Rp 5,2 Triliun

NERACA Jakarta – PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) mencatatkan kontrak baru hingga pekan pertama September 2019 mencapai Rp5,2…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Kantungi Empat Proyek Baru - TOTL Pede Target Kontrak Baru Capai Rp 2 Triliun

NERACA Jakarta – Mengandalkan proyek-proyek pembangunan gedung dan infrastruktur lainnya, tidak menjadi kekhawatiran bagi PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL)…

Saat Ini Momentum Tepat Starup Go Public

Maraknya beberapa perusahaan starup yang mencatatkan saham perdananya di pasar modal, menjadi sentimen positif bagi perusahaan starup lainnya untuk mengikuti…

IPO Almazia Ditaksir Oversubscribed 3 Kali

NERACA Jakarta – Jelang pencatatan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, PT Sinarmas Sekuritas selaku penjamin emisi penawaran umum saham perdana…