Permata Syariah Salurkan Pembiayaan Rp7,1 Triliun

NERACA

Jakarta – Unit Usaha Syariah (UUS) PermataBank menyalurkan pembiayaan sebesar Rp7,1 triliun di akhir 2012 lalu, meningkat 136% dari Rp3,0 triliun di periode sama tahun 2011. “Pembiayan kita ada di lima sektor utama, yaitu KPR, SME/UMKM, middle market, dan corporate, serta ada pembiayaan kendaraan bermotor (joint finance). Ini semua naik, dan rata-rata juga double (pertumbuhannya),” kata Achmad K Permana, Head of PermataBank Syariah, ketika ditemui wartawan di Jakarta, Kamis (7/3).

Permana menambahkan kalau secara proporsi, pembiayaan di PermataBank Syariah adalah KPR 32%, , Corporate 32%, UMKM & Middle Market 24%, KKB (joint finance) 12%. “Kredit sindikasi belum, tapi tahun ini kita akan coba,” imbuhnya.

KPR PermataBank Syariah, ungkap Permana, tumbuh tinggi yakni sebesar 266%, dari Rp680 miliar di akhir 2011 ke Rp2,26 triliun pada periode sama 2012. “Kita membiayai rumah-rumah yang menengah ke atas (di atas 70 m2), semisal apartemen. Karena kita memang mau segmen targetnya (jelas) ke mana. Kalau BTN itu kan (segmennya) di bawah 70 m2 ya. Jadi kita harus commit dengan itu. KPR kita lebih banyak landed dan premium developer sebesar 75%, sedangkan rumah second-nya sekitar 25%,” ungkapnya.

Perbankan syariah juga akan terkena aturan loan to value (LTV) yang dimulai pada April 2013 mendatang. Maret ini merupakan bulan terakhir pembiayaan KPR dan KKB di bank syariah tidak terkena pembatasan pembayaran uang muka (down payment/DP) tersebut. “Tapi produk IMBT (Ijarah Muntahiyah Bittamlik) kan beda 10%. Jadi LTV IMBT itu 80%, kalau yang konvensional kan 70%, sehingga DP (di bank syariah) masih 10% lebih bagus,” ujarnya.

Produk IMBT ini, tutur Permana, merupakan salah satu sumber utama yang menyebabkan peningkatan pendapatan operasional PermataBank Syariah sebanyak 89% (yoy) dari Rp139,1 miliar di 2011 menjadi Rp262,5 miliar di 2012.

“Itu akan kita manfaatkan (DP yang hanya 20%), tapi mungkin pendapatan kita dari sana tidak seperti sekarang, yang mana kita bisa booked setiap bulan rata-rata Rp250 miliar. Kondisi ini terjadi terutama pada kuartal keempat 2012 sampai kuartal pertama 2013. Jadi mungkin setelah April akan turun sedikit, tapi kita akan maksimalkan. KKB juga akan kena pengaruh aturan tersebut. Harus ada inisiatif-inisiatif baru yang kita luncurkan, ya untuk me-maintain (pertumbuhan pembiayaan), karena kita juga akan luncurkan MMQ,” paparnya.

Musyarakah Mutanaqisah (MMQ) adalah semacam produk KPR yang memungkinkan nasabah memiliki rumah atau bangunan secara bertahap. Produk ini adalah sesuatu yang baru yang mau dirilis perbankan syariah di Indonesia.

“Untuk MMQ ini, kita jangan bersaing dengan sesama bank syariah, karena kita masih 4,5% market share-nya, jadi buat apa? Kita maunya bersaing dengan bank konvensional saja yang 95% market share-nya. Karena kita propose ke BI-nya sama-sama nih (soal produk MMQ), satu proposal melalui Asbisindo. Jadi kita tidak ada compete internalnya. Begitu dapat approval (dari BI) ya sudah kita lakukan,” ucapnya.

Permana mengakui, kalau di PermataBank memang ada nasabah induknya yang konvensional pindah ke UUS, dikarenakan belum adanya aturan DP. Akibat perpindahan itu, pembiayaan di bank syariah naik sekitar 40% di KPR. “Tapi tidak semua bank (syariah) sudah punya produk IMBT dan MMQ, jadi darimana mereka bisa dapatkan benefit dari perbedaan itu, karena mereka sendiri belum punya produknya. Jadi kita sudah punya produk ketika (persetujuan BI) itu dikeluarkan,” katanya.

Sementara, dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil diperoleh sampai akhir 2012 sebesar Rp7,4 triliun, tumbuh 101%, dari periode sama 2011. Tabungan meningkat 71% (yoy) menjadi Rp3,2 triliun, deposito berjangka meningka 146% (yoy) menjadi Rp3,9 triliun, dan giro naik 21% menjadi Rp246,5 miliar. Dengan demikian, komposisi dana murah (CASA) mencapai 74% dari total simpanan sampai akhir 2012.

Dari jumlah DPK tersebut, maka menyebabkan perbaikan di financing to deposit ratio (FDR) menjadi 96,9% di akhir 2012, dari 82,3% di periode sama 2011. Kemudian, rasio pembiayaan macet (non performing financing/NPF) menjadi 0,23% di akhir tahun lalu, dari 1,02% di akhir 2011.

“CAR kita sebesar 19,37%, naik dari 2011 yang sebesar 16,23%. Dengan CAR segitu, jadi masih bisalah (tanpa menambah modal dalam waktu dekat. Mungkin tambah modal di akhir tahun saja. Karena penambahan modal juga harus efisien, jangan sampai kita menumpuk sampai 25% tapi tidak diapa-apakan,” jelasnya.

Kemudian, laba bersih setelah pajak (konsolidasi-diaudit) sebesar Rp256,4 miliar di akhir 2012, naik 93%, dari jumlah Rp133,1 miliar di akhir 2011. “Jadi aset kita tumbuh 103% dibandingkan akhir 2011, secara keuntungan juga tumbuh signifikan 93% yang sekitar Rp133 miliar ke Rp256 miliar, dan ini ketiga terbesar setelah BSM dan Bank Muamalat. Sementara, target peningkatan aset dalam RBB kita tahun ini sekitar 65%-70%,” ungkapnya.

Mengenai spin off menjadi entitas bank syariah sendiri, Permana bilang bahwa UUS yang dipimpinnya itu belum berniat ke sana, walaupun sedang memiliki kinerja yang bagus. “Kita belum ada rencana spin off, karena kita lagi bagus-bagusnya, jadi buat apa melakukan itu. Apa yang spin off itu sudah dijamin bagus (kinerjanya)? Coba tanyakan kepada teman-teman yang spin off, apalagi dengan sekarang adanya aturan tentang modal inti. Kalau tidak spin off, modal intinya kan pakai induk, jadi enak dong,” pungkasnya. [ria]

Related posts