Diversifikasi Pasar, Berau Terbitkan Obligasi Dolar - Pilih Malaysia dan Vietnam

NERACA

Jakarta –Dalam rangka diversifikasi pasar batu bara, PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) berencana menerbitkan obligasi dalam bentuk mata uang dolar tahun ini. Namun hingga saat ini, rencana tersebu masih dikaji dan belum dapat dipastikan.

Direktur Utama PT Berau Coal Energy Tbk, Eko Santoso Budianto mengatakan, rencana penerbitan obligasi dalam bentuk dolar masih dikaji, “Saat ini kami memang melihat ada kesempatan untuk obligasi, tapi itu bisa di-call lagi nanti Juli, sementara obligasi itu jatuh tempo pada 2015. Hingga kini belum kami putuskan untuk exercise atau didiamkan," katanya di Jakarta, Kamis (7/3).

Lebih lanjut, Eko menambahkan rencana manajemen terkait rencana ke depan adalah untuk diversifikasi pasar ke Filipina, Malaysia, dan Vietnam. Eko menuturkan, diversifikasi pasar itu dilakukan untuk mengantisipasi penurunan harga batu bara.

Tahun ini, perseroan menargetkan produksi sekitar 23,5 juta ton pada 2013 dari produksi 2012 sekira 21 juta ton. Sebagai informasi, hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) memutuskan Eko Santoso Budianto sebagai Direktur Utama (Dirut) BRAU menggantikan Rosan Perkasa Roeslani yang telah menjabat sebagai Dirut BRAU sebelumnya selama 3 tahun terakhir.

Sementara Rosan Perkasa Roeslani mengundurkan diri dari jabatannya tersebut karena ingin kembali fokus mendorong value creation di Grup Recapital yang juga pemegang saham BRAU. Menurutnya, saat ini bisnis Recapital sedang mengalami pertumbuhan yang positif di sektor perbankan, finansial, infrastruktur serta di sektor properti dan pariwisata.

Sedangkan Eko, sebelumnya menjabat sebagai Direktur Operasional PT Berau Coal, anak usaha BRAU sebelum dipercayakan untuk memimpin BRAU. Dia bertanggung jawab atas seluruh aspek kegiatan seperti eksplorasi, pengiriman batubara hingga pemeliharaan lingkungan serta keselamatan kerja. Selama menjalani jabatan tersebut, PT Berau Coal mencapai tingkat pertumbuhan produksi 3 juta ton per tahun sejak 2010.

Keluar Dari Grup Bakrie

Lebih lanjut, saat dikonfirmasi mengenai rencana proposal Grup Bakrie untuk berpisah dengan Bumi Plc, menurutnya hal itu merupakan urusan pemegang saham. Asal tahu saja, Bumi Plc yang diwakilkan oleh CEO Bumi Plc Nick Von Schirnding memberikan sinyal rencana perpisahannya dengan grup Bakrie bakal terwujud. Pasalnya, uang muka cerai grup Bakrie dengan Bumi Plc sebesar US$ 50 juta telah ada di escrow account melalui JP Morgan Amerika Serikat (AS)."Kami akan memulai finalisasi kesepakatan pemisahan grup Bakrie dengan Bumi Plc, hingga kini rencana transaksi grup Bakrie menukar 23,8% saham Bumi Plc miliknya dengan 10,3% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik Bumi Plc dengan transaksi sekitar US$ 278 juta tidak menjadi masalah,"katanya.

Menurut dia, dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPSB) yang akan dilakukan Bumi Plc pada April mendatang, para pemegang saham akan setuju dengan rencana tersebut.

"Mayoritas pemegang saham akan menyetujui untuk berpisah dengan grup Bakrie. Selain itu, saat ini pihaknya fokus untuk mengembangkan usaha di Indonesia terutama PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU),”jelasnya.

Nick menambahkan, saat ini BRAU menjadi salah satu kunci perseroan tetap hidup. Oleh karena itu, Bumi Plc akan fokus kepada anak perusahaannya tersebut. "Kami fokus kepada anak usaha kami, saat ini banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Selain itu kami juga harus melanjutkan efisiensi operasional dan ekspansi," tukas dia. (Nurul)

Related posts