Biaya Produksi Otomotif Bakal Terkerek - Dampak Kenaikan Harga Baja

NERACA

Jakarta - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan agen pemegang merek (APM) akan menghitung ulang potensi peningkatan biaya produksi tahun ini menyusul kenaikan harga baja lokal sebesar 15% sejak bulan lalu.

“Tingginya harga baja lokal akan terasa 2-3 bulan mendatang karena produsen otomotif saat ini masih memiliki stok bahan baku,” kata Ketua Umum Gaikindo, Sudirman Maman Rusdi, di Jakarta, Kamis (7/3).

Tingginya harga bahan baku seperti baja, menurut Sudirman, berpotensi mendorong kenaikan harga jual produk. Pasalnya, lebih dari 60% komponen otomotif menggunakan baja.

“Kami masih mencoba menghitung kenaikan harga baja, termasuk upah pekerja, dan exchange rate (nilai tukar rupiah) terhadap kenaikan biaya produksi dan dampak lainnya. Untuk memproduksi satu unit mobil multi purpose vehicle (MPV) dibutuhkan baja sebanyak 650 juta kilogram, di luar kebutuhan baja untuk komponen seperti pelek, chasis, mesin, dan transmisi,” paparnya.

Dari total kebutuhan baja pada industri otomotif, lanjut Sudirman, 95% memakai baja impor yang dipasok dari beberapa negara seperti Korea, Jepang, dan Taiwan. “Dari segi kualitas, ketebalan, dan spesifikasi khusus, produsen otomotif lebih mengutamakan bahan baku impor. Baja dari produksi dalam negeri jumlahnya masih sedikit sehingga belum cukup untuk memenuhi kebutuhan,” tandasnya.

Sebelumnya Sudirman juga mengutarakan,Kenaikan harga jual produk baja sebesar 13-15% terpaksa harus dilakukan oleh industri baja nasional akibat bahan baku baja seperti besi bekas (scrap), bijih besi (iron ore pellet) dan baja setengah jadi (slab) naik secara signifikan.

Bahan baku baja yang sebagian besar masih diimpor, sejak awal 2013, mulai merambat naik. Misalnya, harga scrap baja sejak Januari 2013 telah mencapai US$ 430 per ton, naik 13% jika dibanding harga pada Oktober 2012 sebesar US$ 380 per ton.

Harga bijih besi impor, juga naik 30% dari US$ 115 per ton menjadi US$ 150 per ton pada awal tahun. Sementara baja setengah jadi importelah mencapai US$ 540 per ton, naik 1 % dari US$ 470 per ton pada Oktober 2012.

Sampai Mei 2013, kenaikan harga baja diperkirakan berkisar US$ 80 sampai US$ 90 per ton dibandingkan posisi Desember 2012. Wakil Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia, Irvan Kamal Hakim, menyebutkan besaran kenaikan tersebut seiring peningkatan harga bahan baku baja (scrap) dan meningkatnya permintaan.

Harga bahan baku baja internasional kualitas 1 naik dari US$ 390 per ton pada Desember 2012 menjadi US$ 430. Sementara harga baja menyentuh level sekitar US$ 700 per ton. Dia memperkirakan permintaan baja juga akan tumbuh 6% sampai 9% pada tahun ini. Kenaikan permintaan terdorong sektor infrastruktur, konstruksi dan otomotif.

Kenaikan Harga

Sementara itu, pelaku industri jasa konstruksi mewaspadai kenaikan harga baja menyusul potensi peningkatan harga komoditas tersebut dalam jangka panjang akibat melonjaknya harga minya dunia yang menembus US$103,37 per barel.

Asosiasi industri baja mengestimasikan jika tren kenaikan harga minyak berlangsung cukup lama, dapat dipastikan akan mempengaruhi harga energi primer lainnya, seperti gas dan batu bara yang dibutuhkan industri baja, sehingga harga baja secara otomatis akan naik. Pada kondisi saat ini, kenaikan harga baja bisa mencapai 12%.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Soeharsojo mengatakan kenaikan harga minyak mentah dunia itu dapat mendongkrak harga komponen penentu harga baja dalam beberapa waktu ke depan.

Dia menjelaskan pihaknya kini tengah menghitung besaran kenaikan harga baja tersebut serta dampaknya terhadap peningkatan nilai kontrak, yang masuk dalam komponen penawaran keikutseertaan tender proyek pemerintah yang akan datang.

“Kami masih menghitung seberapa besar dampak kenaikan harga minyak tersebut terhadap peningkatan harga baja, sehingga bisa disesuaikan dalam penghitungan nilai penawaran proyek,” katanya.

Soeharsojo menuturkan, penghitungan nilai proyek tersebut tentunya didasarkan pada penggunaan baja dalam komponen bangunan pada masing-masing proyek yang tidak sama antara jalan, jembatan dan bangunan gedung.

Dia menuturkan komponen baja bisanya lebih banyak digunakan pada konstruksi bangunan gedung bertingkat yang atap dan rangka betonnya menggunakan baja, selain itu juga dalam pembangunan jembatan yang konstruksinya diperkuat dengan baja.

“Untuk bangunan gedung bertingkat, tentu akan menyerap komponen baja lebih banyak dibandingkan dengan proyek jalan, demikian juga dengan konstruksi pembangunan jembatan,” ujarnya.

BERITA TERKAIT

Operasional Pelabuhan Perikanan Tidak Terpegaruh Covid-19

NERACA Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) memastikan aktivitas di pelabuhan perikanan tetap berjalan sesuai…

Covid-19 Meluas, Pemerintah Dorong Skema Program Bantu Koperasi

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM siap mendorong koprasi yang terkena dampak dari virus covid-19 Sekretaris Kementerian…

Covid-19 Meluas, Industri Kelapa Sawit Gelontorkan Bantuan

NERACA Jakarta – Terus meluasnya serangan virus covid-19 membuat industri kelapa sawit untuk menggelontorkan sejumlah bantuan, salah satunya Wilmar. Wilmar…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Pertamina Menggandeng UNPAD, Produksi Hand Sanitizer

NERACA Bandung - PT Pertamina (Persero) mendukung berbagai pihak untuk memproduksi produk pencegahan penyebaran virus Covid-19. Salah satunya dengan Fakultas…

Mencegah Corona, Panen Tetap Harus Mengikuti Prosedur

NERACA Indramayu – Pandemi covid-19 tidak menjadi halangan bagi petani untuk panen. Di Desa  Nunuk, Kecamatan Lelea, Indramayu, para petani…

Covid-19 Tak Mempengaruhi Akses Pengiriman Logistik Perikanan

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meminta akses pengiriman sarana produksi dan logistik di Bidang Kelautan…