Pertamina Kembalikan 24.947 Km Lahan Migas - Sulit Dieksplorasi

NERACA

Jakarta - PT.Pertamina (Persero) melalui anak usahanya Pertamina Eksplorasi dan Produksi (Pertamina EP) akan mengembalikan sekitar 24.947 kilometer wilayah kerja Pertamina EP kepada negara. Hal itu dilakukan karena lahan tersebut sulit untuk dieksplorasi lantaran lahan kota. "Ada sekitar 24.947 kilometer wilayah kerja Pertamina EP yang nantinya akan kita kembalikan ke negara," ungkap Direktur Eksplorasi dan Pengembangan Pertamina EP Doddy Priambodo ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (7/3).

Ia menjelaskan bahwa saat ini wilayah kerja Pertamina EP seluas 138.611 km yang terbagi menjadi 3 bagian yaitu area produksi dan eksplorasi sebesar 90.745 km atau 65%, area relinquish 24.347 km atau sekitar 18% dan no data sebesar 22.920 km atau sekitar 16%. "Lokasi relinquish yang dikembalikan kepada negara tersebut berada di daerah perkotaan seperti di Jakarta, Surabaya maupun di Medan. Sehingga kami tidak bisa melakukan survei seismik untuk mengetahui potensi minyak dan gas bumi," katanya.

Menurut Doddy saat ini ajuan pengembalian tersebut berada di tangan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). "Kita tidak akan mungkin mengeksplor minyak di perkotaan, karena akan menanam dinamit untuk mensurvei, makanya wilayah tersebut dikembalikan ke negara," tegas dia.

Kemudian, lanjut dia, ada juga daerah WKnya yang belum mempunyai data dan berdekatan dengan pabrik kelapa sawit sehingga apabila Pertamina ingin eksplorasi maka akan menimbulkan perlawanan dari masyarakat. "Di daerah Lampung juga tidak bisa kita eksplorasi karena ada pabrik gula, ada tanaman tebu, bila pertamina masuk akan sangat khawatir, soalnya di situ ada pabrik terbesar di Indonesia, takut ada kontra dari masyarakat," jelasnya.

Ditemui di tempat yang sama, Vice President Eksplorasi Pertamina EP Nanang Abdul Manaf menjelaskan bahwa berdasarkan UU Migas, Pertamina EP juga mendapatkan wilayah kerja sama seperti Kontraktor Kerjasama (KKS) lainnya. "Berdasarkan kontrak, Pertamina EP melakukan eksplorasi sampai 2035. Akan tetapi pada tahun ke 10, Pertamina harus menyisihkan kepada negara sebesar 10%. Saat ini kita mengembalikan sebesar 18%, jauh dari yang ditetapkan," ujarnya.

Terkait dengan pengeboran sumur, Doddy mengakui bahwa pihaknya telah mengebor sumur eksplorasi sebanyak 83 sumur sejak 2008 sampai 2012 atau setara 16 sumur per tahun. Bahkan, tahun ini, Pertamina EP menargetkan mengebor sumur eksplorasi sebanyak 26 sumur. Sumur-sumur tersebut terdiri 17 sumur kering atau dry hole atau sebesar 20 persen. "Lalu sumur produksi mencapai 26 sumur dengan prosentase 31%," ujar Doddy.

Doddy menjelaskan untuk rencana pengeboran masih terdapat 17 sumur atau 21%, sedangkan yang masih dalam tahap pengembangan (plan of development/PoD) terdapat 9 sumur atau 11%, serta dalam tahap evaluasi ada 14 sumur atau 17%. "Sedangkan untuk tahun 2013 ini, Pertamina EP merencanakan 26 sumur akan selesai dikerjakan, dan yang sudah berjalan sebanyak 5 pengeboran sumur," jelasnya.

Dalam reserves to replacement ratio (RRR), tren Pertamina EP dari tahun ke tahun meningkat hampir naik sebesar 200%. Oleh sebab itu, Pertamina EP menjadi tulang punggung produksi minyak dari induk usaha, Pertamina. "Walaupun untuk eksplorasi tahun 2011, hanya mampu 50%. Karena gangguan perizinan dan masalah non teknis lainnya, tapi dari keseluruhan naik," ungkapnya.

Cadangan terbukti saat ini 4 miliar setara barel minyak. Sebagian besar peningkatan cadangan terbukti itu bukan berasal dari hasil penemuan cadangan baru.

Belum Terjamah

Sebelumnya, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini menyebut bahwa lapangan migas milik PT Pertamina (Persero) 70% masih belum dieksplorasi. Karena itu, dirinya meminta Pertamina mengeksplorasi lahan tersebut. Untuk itu, pihaknya mendorong produksi minyak mencapai 200 ribu barel per hari. "Pertamina memiliki lapangan migas 70% masih perawan atau belum di eksplorasi," ungkap Rudi.

Rudi menargetkan, Pertamina mampu untuk meningkatkan dengan menggunakan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). "Saya telah memanggil Direktur Pertamina untuk menggunakan teknologi EOR," pungkasnya. Saat ini, tambah Rudi, perusahaan migas pelat merah tersebut hanya berhasil menyedot minyak sebesar 120 ribu bph. Meski begitu, Rudi yakin dengan menggunakan teknologi EOR, lima tahun mendatang Pertamina akan mencapai target produksi 200 ribu bph.

Sementara itu, menurut pengamat Migas dari ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto menilai guna menjadi perusahaan minyak dan gas (migas) skala dunia, untuk itu sejumlah pihak menilai bahwa PT Pertamina (Persero) harus aktif mengeksplorasi, tetapi bukan hanya mengakuisisi blok migas di luar negeri. Untuk itu, Pertamina harus mengambil risiko dalam mengeksplorasi lahan migas.

Pri Agung menjelaskan, saat ini Pertamina bisa menambah teknologi enhanced oil recovery untuk meningkatkan produksi sekitar 15% dari yang sekarang baru mencapai 15%. Jadi nanti akan ada tambahan sebanyak 300 barel per hari (bph).

Di lain kesempatan, Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Ferrari Romawi menyatakan, di masa yang akan datang Pertamina harus bisa meningkatkan produksi minyak mentahnya. Karena hingga saat ini Pertamina belum berhasil membangun refinery baru.

Related posts