Impor Bahan Baku Mamin Ditaksir Rp 66 Triliun - Pasokan Lokal Minim

NERACA

Jakarta - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) memperkirakan impor makanan dan minuman (mamin) yang mayoritas berupa bahan baku hingga akhir tahun ini bisa mencapai US$ 7 miliar atau sekitar Rp 66 triliun karena minimnya pasokan dari dalam negeri.

“Diproyeksikan impor bahan baku pada tahun ini menyentuh US$ 7 miliar, naik 16,6% dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar US$ 6 miliar. Minimnya pasokan bahan baku seperti gandum, membuat produsen harus mengimpor dari negara lain,” kata Ketua Umum Gapmmi, Adhi S. Lukman, di Jakarta, Kamis (7/3).

Pemerintah, menurut Adhi, diharapkan fokus di sektor hulu apabila tidak ingin impor terus meningkat. “Bahan baku produsen makanan dan minuman nasional saat ini sekitar 70% di antaranya masih diimpor. Tingginya impor bahan baku itu bisa mempengaruhi harga jual produk makanan dan minuman olahan di pasar domestik,” paparnya.

Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia (Apebi), Chris Hardijaya, mengatakan biaya bahan baku roti diperkirakan naik 7-15% pada kuartal I tahun ini. Kenaikan tersebut terjadi karena produsen terigu menaikkan harga jual seiring peningkatan harga gandum dan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Produsen bahan baku menaikkan harga jual ke kami produsen roti, karena berupaya menjaga margin akibat naiknya biaya produksi. Kenaikan biaya bahan baku mendorong peningkatan biaya produksi roti sebesar 22% pada tahun ini,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Adhi juga mengungkapkan kalau saat ini mendorong produsen terus mengembangkan inovasi guna meningkatkan daya saing dan menekan impor barang konsumsi termasuk makanan dan minuman. "Dari sisi produsen tentu kita harus meningkatkan inovasi produk, harus dilakukan terus karena tanpa inovasi industri ini akan berhenti," kata Adhi

Produsen, lanjut dia, juga harus bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di dalam negeri dengan mengemas dan memprosesnya menjadi produk yang unik dan tidak pasaran. "Diferensiasinya harus jelas, kalau orang lain bikin permen kita ikut bikin permen. Boleh sama tapi harus ada yang beda, karena kalau harus bersaing langsung kita pasti kalah karena bahan baku kita impor semua," katanya.

Daya Saing

Diferensiasi inovasi, menurut Adhi, penting untuk mendorong daya saing di tengah gencarnya impor. Produsen perlu mewaspadai dan menyiasati persaingan itu dengan terus berinovasi dalam pengembangan produk.

Selain itu, produsen juga perlu melakukan efisiensi guna meningkatkan daya saing produk yang menurun akibat beban biaya produksi. "Itu yang bisa dilakukan pelaku usaha selain menekan biaya produksi dengan efisiensi," katanya.

Adhi menuturkan pemerintah sebagai regulator telah melakukan upaya untuk menekan impor barang konsumsi, termasuk produk makanan dan minuman. "Pemerintah sudah melakukan pembatasan pelabuhan impor pangan, pengaturan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RPIH) serta pengaturan izin impor dengan Angka Pengenal Impor (API) juga sudah diatur," katanya.

Di tengah tren kenaikan harga bahan baku pangan dunia dan peraturan bea masuk sejumlah negara tujuan ekspor seperti Afrika dan Amerika Latin, Gapmmi menargetkan industri makanan dan minuman pada 2013 bisa tumbuh sekitar delapan persen. Nilai tersebut hampir sama dengan perkiraan total pertumbuhan industri makanan dan minuman sepanjang 2012.

Data dari Kementerian Perindustrian mencatat, hingga kuartal III 2012 pertumbuhan industri makanan dan minuman tumbuh 8,22 persen dengan nilai Rp712 triliun. "Perkiraan saya nanti finalnya Desember 2012 juga sekitar delapan persenan," kata Adhi.

Sebelumnya Adhi mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang tetap stabil dan daya beli masyarakat yang cukup baik membuat konsumsi makanan dan minuman di Indonesia mengalami peningkatan tajam. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) memprediksi pertumbuhan industri mamin akan mencapai 8,2%, tetapi kenyataannya pertumbuhan industri mamin telah mencapai 12,75%.

“Awalnya kita hanya menargetkan pertumbuhan berkisar 8,2% mengingat angka tersebut diperoleh pada kuartal III/2012. Akan tetapi pertumbuhan industri makanan justru telah mencapai 12,75%. Angka ini diluar ekspektasi para pengusaha," katanya.

Menurut dia, investasi di industri mamin juga meningkat tajam, baik investasi lokal mau asing. Data Kementerian Perindustrian memperlihatkan penanaman modal dalam negeri di industri makanan pada tahun lalu tercatat senilai Rp11,2 triliun, naik 40% dibandingkan periode yang sama pada 2011 yakni senilai Rp7,9 triliun.

BERITA TERKAIT

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

Keseriusan China Buka Produk Impor Peluang Ekspor Indonesia - Niaga Internasional

NERACA Jakarta – Indonesia baru saja mengakhiri keikutsertaan pameran dagang importir terbesar di dunia "The 1st China International Import Expo"…

BNI Salurkan Pembiayaan Rp1,1 Triliun ke PLN

      NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk ikut serta menyalurkan pembiayaan untuk Program 35.000…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kementan Salurkan 1.225 Sapi Indukan ke Peternak

NERACA Jakarta – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan menyalurkan sapi indukan jenis Brahman Cross sebanyak 1.225…

Jerman Dukung Penuh Sawit Berkelanjutan di Indonesia

NERACA Jakarta – Pemerintah Jerman mendukung pembangunan kelapa sawit berkelanjutan yang mengacu kepada mekanisme Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang…

Kemenperin Rancang Insentif, Indeks dan Inovasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Pemerintah telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 untuk kesiapan memasuki era revolusi industri 4.0. Peta jalan…