Upaya Pengentasan Kemiskinan - CSR dan Kewirausahaan Sosial

Mewujudkan bisnis sosial yang berkelanjutan memang membutuhkan jaringan dan kerjasama dengan berbagai pihak melalui program CSR sebuah perusahaan. Baik kewirausahaan sosial maupun CSR mengupayakan keuntungan yang maksimal dengan tetap mempertimbangkan misi sosial dalam setiap gerak aktivitasnya.

NERACA

Masalah kemiskinan merupakan fenomena negara berkembang, namun bukan tak mustahil untuk diatasi. Menjawab kebutuhan ini, kewirausahaan sosial merupakan pendekatan yang potensial untuk membangun bangsa. Konsep universal ini dinilai mampu memberikan sumbangsih bagi pengentasan kemiskinan bukan saja melalui penguatan kelompok maupun individual melainkan pula pemberdayaan masyarakat sekitar.

Bagaimana tidak? Selain menjadi salah satu alternatif model bisnis, kewirausahaan sosial tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan keuntungan semata tetapi juga dapat memecahkan masalah sosial melalui pemberdayaan masyarakat.

Presiden ASGAR Muda Foundation, Goris Mustaqim menuturkan bahwa Dengan lebih mengedepankan pemberdayaan dan partisipasi masyarakat dalam prosesnya, baik itu mengenai kepemilikan maupun dalam proses bisnisnya, kewirausahaan sosial merupakan cara mengatasi persoalan sosial dengan pendekatan kewirausahaan.

Kewirausahaan sosial itu sendiri merupakan aktivitas pembangunan masyarakat melalui berbagai solusi kewirausahaan. Ini artinya masyarakat diajak dan dibina untuk menjadi pengusaha dengan membangun bisnis yang berorientasi pada isu-isu sosial.

Pendiri Yayasan Asgar Muda yang lahir di Garut ini mengatakan, secara praktek kewirausahaan sosial sudah lama dijalankan. Semisal Saung Angklung Udjo. Namun menyoal kemunculan tren wirausaha sosial di Indonesia, dirinya agak menyesalkan mengapa baru belakangan ini orang muda rajin membahas hal ini sebagai jawaban untuk pemberdayaan ekonomi penduduk.

Lalu bagaimana kewirausahaan sosial bisa terhubung dengan program CSR? Isu sustainability secara finansial dan kelembagaan selalu menjadi tantangan terbesar bagi para wirausaha sosial. Ya, untuk mewujudkan bisnis sosial yang berkelanjutan memang membutuhkan jaringan dan kerjasama dengan berbagai pihak.

“Kewirausahaan sosial mengandung 2 faktor, yakni masalah sosial yang hendak ditanggapi dan pola bisnis (business model) yang perlu dijalankan untuk menanggapinya,” kata Goris.

Berangkat dari hal tersebut, konsep kewirausahaan sosial dapat dipadu-padankan dengan konsep Corporate Social Responsibility (CSR), dimana keduanya berupaya mencari titik kesimbangan antara profit motive dan social motive. Baik kewirausahaan sosial maupun CSR mengupayakan keuntungan yang maksimal dengan tetap mempertimbangkan misi sosial dalam setiap gerak aktivitasnya.

Tak hanya itu, ada faktor utama yang dibutuhkan dalam membangun bisnis sosial, yakni kemampuan untuk berpikir kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, perusahaan juga harus menguatkan jejaring dengan perguruan tinggi dalam bentuk memberikan pelatihan serta membekali para mahasiswa sebagai upaya menguatkan aktivitas pendukungan dalam menangani masalah-masalah sosial kemasyarakatan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat di lingkungan secara utuh.

Mengapa? jika perusahaan memiliki kemampuan finansial untuk menyokong program CSR, maka universitas memiliki intellectual capital berupa pemahaman yang lebih dalam mengenai isu-isu sosial dan pemberdayaan masyarakat melalui kewirausahaan sosial.

Dengan menggabungkan kedua kekuatan ini, maka program CSR bisa dirancang, diterapkan, dan dikembangkan menjadi sebuah aktivitas pemberdayaan masyarakat yang tak hanya mengurangi permasalahan sosial, tapi juga bisa menciptakan kantung-kantung ekonomi baru secara berkelanjutan.

Beberapa contoh korporasi yang mengalokasikan dana CSR untuk pengembangan kewirausahaan sosial misalnya Asgar Muda bermitra dengan Cheveron dan Indonesia Power. Dengan jaringan pergaulan Goris yang luas, Asgar Muda banyak menerima bantuan dari program CSR Chevron dan PT Indonesia Power, tak terkecuali pemerintah Kota Garut dan Jawa Barat. Dengan bantuan modal tersebut, Asgar Muda mampu mendirikan galeri UKM kreatif, warung internet, dan kafe. Keuntungan usaha ini dijadikan investasi membangun usaha lain.

Korporasi lainnya seperti Bank Danamon melalui Danamon Award, memberikan penghargaan berupa dana pengembangan usaha bagi individu, kelompok, organisasi baik bisnis maupun nirlaba yang mampu menjadi problem solver bagi lingkungan. Sedangkan Group Danone Indonesia mengajak para mahasiswa untuk menciptakan perubahan melalui ide bisnis sosial.

Dengan pola seperti ini, maka peran korporasi tidak hanya sebagai pemberi bantuan saja, tetapi juga berperan aktif memunculkan dan mengembangkan kewirausahaan sosial di Indonesia, sehingga bisa menciptakan kantung-kantung ekonomi baru secara berkelanjutan.

Related posts