Bursa Indonesia Lebih Likuid Dibanding Malaysia - Pilihan Investor Asing

NERACA

Jakarta–Banyak alasan mengapa dana asing begitu derasnya masuk ke pasar modal, pertama selain pertumbuhan ekonomi yang positif, inflasi yang terjaga juga karena pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) lebih berkorelasi.

Kata Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo, pergerakan indeks dalam negeri yang lebih berkorelasi menjadi pemicu investor asing lebih tertarik untuk berivestasi di pasar modal Indonesia dibandingkan bursa Malaysia, “Karena pergerakan IHSG lebih berkorelasi dibandingkan bursa Malaysia, makanya banyak asing tertarik di bursa dalam negeri,”katanya di Jakarta, Rabu (6/3).

Terlebih asumsi pertumbuhan di sepanjang Desember 2012-Januari 2013, pasar modal Indonesia tumbuh 7,6% atau lebih tinggi dibandingkan Bursa Malaysia yang mencapai 3,3%. Selain itu, pasar di Indonesia juga lebih luas karena jumlah penduduknya yang lebih besar dibandingkan Malaysia.

Dia menambahkan, meski acuan harga komoditas global saat ini ada di Malaysia, namun emiten sektor komoditas bukan merupakan penggerak indeks (market mover) bagi Bursa Malaysia.

Pergerakan level Bursa Malaysia lebih dipengaruhi oleh emiten dari sektor finansial dan infrastruktur.Selain itu korelasi pasar modal Indonesia terhadap bursa global juga lebih baik dibandingkan dengan pasar modal Malaysia.

Menurut Satrio, hal tersebut mengindikasikan bahwa risiko investasi di Malaysia lebih besar dibandingkan di Indonesia. Atas dasar asumsi tersebut maka Satrio optimis perkembangan pasar modal Indonesia akan lebih baik dibandingkan dengan pasar modal Malaysia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, total kapitalisasi pasar modal Indonesia saat ini adalah sekitar US$ 447,36 miliar atau Rp4.609,63 triliun. Jika mengacu kepada data World Federation Index, per akhir Januari, total kapitalisasi pasar Bursa Malaysia adalah US$ 445,22 miliar.

Sebagai informasi, derasnya dana asing yang masuk ke pasar modal membawa indeks BEI tumbuh signifikan dan bahkan menembus level tertinggi di 4.800. Kepala Riset MNC Securties, Edwin Sebayang pernah bilang, kenaikan tersebut membuat beberapa harga saham semakin premium.

Oleh karena itu, investor perlu selektif dalam melakukan transaksi. “Dengan kenaikan tersebut membuat banyak saham secara valuasi makin mahal sehingga investor perlu melakukan selective buying.”jelasnya.

Dia menilai, secara teknikal data mingguan mengindikasikan adanya peluang penguatan pada pekan ini di kisaran 4699-4870 poin. Sementara data bulanan mengindikasikan perlambatan aksi beli sepanjang Maret di kisaran 4764-4861 poin. (bani)

BERITA TERKAIT

Gandeng Kerjasama HIPMI - ModalSaham Siap Bawa Perusahaan IPO

NERACA Jakarta – Dukung pertumbuhan industri pasar modal dengan mengajak pelaku usaha go public, ModalSaham sebagai perusahaan starup akan menggandeng…

Produksi Nikel Vale Indonesia Terkoreksi 6,81%

NERACA Jakarta –Besarnya potensi kenaikan permintaan nikel di pasar, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terus memacu produksi nikel, meskipun di…

Progres Pabrik di Sumses Capai 30% - Buyung Poetra Perbesar Kapasitas Produksi Beras

NERACA Jakarta – Meskipun tengah dihadapkan pada kondisi musim kemarau yang berkepanjangan, emiten produsen beras PT Buyung Poetra Sembada Tbk…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Percepat Dokumentasi Kredit - Bank BTN Luncurkan Web e-Mitra Operation

Dalam rangka meningkatkan kualitas kredit dan layanan kepada debitur, khususnya debitur Kredit Pemilikan Rumah (KPR), PT Bank Tabungan Negara (Persero)…

Lagi, BUMI Bayar Cicilan Utang US$ 31,8 Juta

NERACA Jakarta – Pangkas beban utang untuk menjaga pertumbuhan bisnis dan kesehatan keuangan, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membayar cicilan…

Targetkan Penjualan Rp 400 Miliar - Itama Ranoraya Perkuat Jaringan di Enam Kota

NERACA Jakarta – Keputusan pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan diharapkan bisa membawa dampak positif terhadap kinerja keuangan PT Itama Ranoraya…