Investor Lebih Tertarik Asuransi Asing Ketimbang Lokal - Akibat Fundamental dan Ukuran Kecil

NERACA

Jakarta - Perusahaan investasi milik pemerintah, PT Danareksa Sekuritas, menilai investor lebih tertarik memilih saham asuransi asing ketimbang asuransi nasional. Menurut Vice President Head of Equity Research Danareksa Sekuritas, Chandra Pasaribu, mengatakan hal itu karena ukuran perusahaan asuransi nasional masih tergolong kecil di pasar modal.

"Berbeda dengan asuransi global (asing) yang sudah melakukan ekspansi usahanya ke berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Apalagi, perusahaan-perusahaan asuransi lokal yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih minim," kata dia di Jakarta, Rabu (6/3). Menurut Chandra, ukuran perusahaan asuransi nasional relatif kecil, sehingga saat melakukan aksi korporasi seperti penawaran umum saham perdana atau IPO (initial public offering) kurang diminati investor.

Selain masalah ukuran, lanjut dia, kemampuan fundamental perusahaan asuransi juga menjadi faktor utama karena belum banyak investor yang masuk ke sektor tersebut. "Masalah fundamental juga masuk, namun yang utama dilihat dari ukuran. Kalau disuruh memilih, perusahaan asuransi global dengan asuransi lokal yang kecil, ya, investor asing memilih yang besar tentunya," jelas Chandra.

Di tempat yang sama, Dewan Komisioner Bidang Industri Keuangan Nonbank Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Firdaus Djaelani, mengaku akan mendorong pihak asosiasi asuransi untuk mempercepat proses pembuatan sertifikasi keagenan. "Hal ini bertujuan untuk mengurangi jumlah agen yang menjual produk asuransi tanpa memiliki sertifikasi keagenan.

Menurut dia, OJK tidak mempermasalahkan beberapa perusahaan asuransi yang mengizinkan agennya menjual produk asuransi tanpa memegang sertifikat keagenan. "Dalam keadaan darurat boleh saja, karena mungkin masih banyak agen yang belum memiliki sertifikasi karena memang proses pemberian sertifikasinya masih berjalan," ungkap Firdaus.

Namun demikian, kata Firdaus, menjadi tanggung pihak asuransi jika terjadi sesuatu masalah terkait hal ini. "Sertifikat itu menjadi tanda keahlian agen dalam menjual. Yang penting konsekuensinya perusahaan asuransi bertanggung jawab kepada agen," terangnya.

Sebelumnya, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) tengah merancang sertifikasi online. Namun, hal itu belum bisa dipastikan kapan diluncurkan. Pasalnya, sistem ini ternyata tidak mudah dan membutuhkan dana besar. Oleh karena itu, melalui kantor baru AAUI ini, diharapkan pelatihan untuk agen dan sertifikasi semakin mudah dan cepat.

Saat ini, jumlah perusahaan asuransi yang mengandalkan keagenan baru sekitar 15 perusahaan dari total 80 perusahaan asuransi. Sementara agen asuransi umum bersertifikasi mencapai 16 ribu orang dari total agen sebanyak 20 ribu orang. Tahun lalu saja, kontribusi premi keagenan mencapai angka 20%, dengan kontribusi terbesar masih dari broker.

Hambatan sertifikasi

Sementara itu, Direktur Asuransi Sinar Mas, Dumasi MM Samosir, mengatakan tahun ini mematok kontribusi agen lima persen dari target total premi 2013 sekitar Rp4,3 triliun. Namun, itu tidak mudah karena sertifikasi agen asuransi umum terbatas.

"Di Asuransi Sinar Mas, tahun lalu memiliki pasukan 10.203 agen. Dari jumlah itu, agen bersertifikasi hanya 908 orang. Inginnya semua tersertifikasi, tapi belum bisa cepat," kata dia. Menurut Dumasi, keterlambatan sertifikasi disebabkan karena layanan sertifikasi agen asuransi tidak bisa secara online. Ujian sertifikasi hanya berlangsung di kota-kota besar saja.

Sebenarnya, lanjut dia, para pengurus asosiasi sudah berusaha mendorong kemudahan sertifikasi dengan memfasilitasi ujian di daerah-daerah. Namun, syarat minimal peserta 100 orang dan itu terlalu banyak. Hal senada juga diungkapkan Assosiate Director Marketing and Sales MNC Asuransi Indonesia, Banua Sianturi.

Menurut dia, lambatnya sertifikasi karena sistem belum online. Namun, Banua mengaku sudah punya solusi. Di MNC Insurance, imbuh dia, jumlah agen sekitar 200 orang. Kontribusi sepanjang 2012 lalu mencapai 31,7% atau Rp26 miliar dari total premi senilai Rp82 miliar. Manajemen menargetkan, kontribusi agen pada tahun ini meningkat menjadi Rp78 miliar. [ardi]

Related posts