Pengurangan Lot Saham Harus Sejalan Jumlah Investor - Jadi Daya Tarik Investor

NERACA

Jakarta - Kajian PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai pengurangan lot sahammenjadi 100 lembar per lot akan menjadi udara segar bagi para investor ritel. Pasalnya jumlah 500 lembar per lot dirasa kurang menarik investor untuk bermain dalam pasar saham.

Analis Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, rencana ini merupakan ide bagus dan akan sangat menarik bagi investor, tapi perlu diingat untuk mensosialisasikan dengan jelas ke pelaku pasar, “Ini merupakan salah satu upaya BEI untuk meningkatkan investor saham di BEI,”katanya kepada Neraca di Jakarta kemarin.

Dia juga menjelaskan, dengan pengurangan nilai lot tersebut akan membuat banyak saham yang ditransaksikan. Namun pengurangan nilai saham ini harus sejalan dengan penambahan jumlah investor agar tidak percuma nantinya dan hanya dimainkan oleh pemain lama di pasar saham. “Dengan pengurangan lot ini bukan hanya pemain lama yang bermain namun minat investor-investor baru untuk investasi di bursa saham akan menambah transaksi,”katanya.

Mengenai dampak bagi emiten, Reza menilai tidak akan terlalu berdampak bagi emiten,karena saham yang mereka miliki telah dilepas di pasar, “Semakin banyak saham yang ditransaksikan perusahaan akan menambah brand awardness dan juga para investor terutama investor baru akan mengenal dan mau berinvestasi pada perusahaan tersebut di pasar saham,”ungkapnya.

Kata Reza, dampak terasa pengurangan lot saham saat diterapkan nanti adalah investor akan lebih banyak memiliki jumlah lembar saham. Oleh karena itu, rencana ini diyakini akan banyak menarik minat investor ritel berinvestasi di pasar modal.

Targetkan Semester I

Sebelumnya, PT BEI mengajukan usulan mengenai pengurangan nilai lot ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada 2012. diharapkan pada tahun ini usulan tersebut dapat diterapkan. Saat ini kajian pengurangan lot saham tengah dimatangkan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan rencana rampung awal Direktur Utama BEI, Ito Warsito pernah bilang, untuk merealisasikan hal tersebut butuh kesiapan seluruh sistem, baik di pasar modal sendiri, maupun perusahaan efek anggota bursa. Pasalnya, perubahan lot saham dari 500 menjadi 100 bukan hanya persiapan sistem di BEI tetapi juga di KPEI, KSEI, broker dan sistem bank kustodian.

Dengan adanya perubahan lot saham, lanjut dia, diharapkan dapat meningkatkan jumlah investor di pasar modal. Seperti sebelumnya dicontohkan, sebuah saham yang memiliki harga Rp10 ribu misalnya, biasanya investor harus merogoh kocek Rp5 juta untuk satu lot. Nantinya, dengan adanya pengurangan lot, hanya akan menjadi Rp1 juta.

Karena itu, hal ini dinilai dapat meningkatkan transaksi harian saham. Adapun jumlah sub account yang terdaftar di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Januari 2013, yaitu mencapai 363.566, dibandingkan Januari 2012 sekitar 365.321 rekening.

Permudah Investor

Sementara Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen pernah mengatakan, pengurangan jumlah saham dalam satuan lot merupakan salah satu upaya untuk mempermudah investor membangun portofolio. Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih dari 200 juta dan luas wilayah yang besar, sehingga diharapkan dengan pengurangan jumlah saham itu dapat mendorong partispasi investor ritel lebih banyak.

Namun, tidak dipungkiri, menurut Hoesen, untuk merealisasikan pengurangan jumlah saham dalam satuan lot tidak mudah, yaitu butuh kesiapan infrastruktur, terutama sistem pada information technology (IT) di BEI dan perusahaan efek.

Sebaliknya para pelaku pasar menilai harga saham murah di pasar modal sudah sangat banyak sehingga tidak perlu dilakukan pengurangan jumlah lot saham. “Likuiditas saham tidak perlu menurunkan lotnya, lebih baik di stock split saja,”kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Pardomuan Sihombing.

Penguatan basis investor serta memperbanyak emiten, menurut Pardomuan, dianggap lebih mumpuni untuk menaikkan likuiditas saham. Dia mencontohkan stock split yang dilakukan PT Astra Internasional Tbk (ASII) pada harga Rp 6.800 per lembar saham dari harga sebelumnya Rp 60.000 per lembar saham menjadi salah satu acuannya.”Sekarang semua orang bisa memiliki saham Astra karena sudah murah. Kalau jumlah lot dikurangi, bagaimana dengan harga saham yang kecil-kecil di level Rp 50,” tuturnya. (Nurul)

BERITA TERKAIT

Rifan Financindo Berjangka Optimis Tercapai - Targetkan Transaksi 500 Ribu Lot

NERACA Surabaya - Meskipun Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX) memangkas target transaksi 30% lantaran kondisi ekonomi…

CPPD Sukabumi Berhasil Tarik PKB Sebesar Rp 104.578.000 - Lakukan Opgab Tiga Hari

CPPD Sukabumi Berhasil Tarik PKB Sebesar Rp 104.578.000 Lakukan Opgab Tiga Hari NERACA Sukabumi - Cabang Pelayanan Pendapatan Daerah (CPPD)…

Pelaku Pasar Butuh Kepastian Hukum - Berpotensi Merugikan Investor

NERACA Jakarta – Kepastian hukum bagi pelaku usaha merupakan hal yang penting dalam keberlangsungan usaha dan begitu juga halnya dengan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Hary Tanoe Terima Gelar Kehormatan Sulsel

NERACA Makassar - Chairman MNC Group, Hary Tanoesoedibjo menerima gelar warga kehormatan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) yang diberikan…

BEI Suspensi Perdagangan Saham Malacca

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), berikutnya perdagangan saham PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk (MTWI) dihentikan…

Panorama Bikin Anak Usaha Mitra Global

Menggeliatnya bisnis pariwisata saat ini memacu PT Panorama Sentrawisata Tbk (PANR) untuk lebih agresif mengembangkan bisnisnya. Teranyar, perseroan membentuk anak…