UBS: Indonesia Berhasil Lewati Krisis

NERACA

Jakarta - Senior Economist Bank UBS, Edward Teather, menilai kalau Indonesia berhasil mengatasi krisis ekonomi yang terjadi pada 2008 lalu, dan mencatat tren kenaikan PDB lebih baik ketimbang negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. "Performa PDB Indonesia berada di atas negara-negara lain. Indonesia berhasil mengatasi krisis," kata Edward di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, hal tersebut disebabkan iklim usaha Indonesia yang telah membaik. Dia juga menyebut, dibandingkan dengan negara anggota ASEAN-5, Indonesia adalah satu-satunya negara yang memiliki nilai investasi terhadap PDB lebih tinggi daripada ketika sebelum terjadi krisis ekonomi.

Perbaikan iklim usaha ini ditunjang oleh kebijakan ekonomi Pemerintah yang lebih liberal. Selain itu, membaiknya iklim usaha juga mendorong peningkatan pendapatan masyarakat. "Ekonomi liberal membuat iklim usaha menjadi lebih mudah," jelas Edward.

Sementara terkait dengan krisis utang yang terjadi di Eropa, menurut dia, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menurunkan suku bunga acuan terbukti membantu melindungi perekonomian Indonesia. Jika melihat perkembangan ekonomi indonesia pada 2012, maka nilai defisit fiskal tidak terlalu besar, namun subsidi energi berakibat naiknya jumlah konsumsi dan defisit fiskal.

Untuk ekspor, dia menjelaskan, Indonesia mengalami penurunan ekspor seperti yang dialami banyak negara lain. "Ekspor menurun, namun permintaan domestik cukup baik," terang Edward. Menurut dia, setelah masa reformasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi, namun inflasi masih tetap rendah.

Namun demikian, pemerintah harus tetap mewaspadai melonjaknya nilai inflasi karena data pada awal 2013 agak mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Edward mengingatkan supaya Pemerintah harus tetap waspada. Sementara itu, defisit neraca transaksi berjalan terjadi karena kenaikan belanja negara yang bersumber dari utang.

Oleh karena itu, Edward memperkirakan pemerintah akan mempertahankan kebijakan ekonomi yang fleksibel seperti yang diterapkan saat ini sehingga bisa berpeluang untuk menaikkan ekspor serta memperkecil defisit neraca transaksi berjalan.

Dia juga mengatakan kebijakan tersebut bisa menstabilkan nilai tukar rupiah. Sementara untuk jangka panjang, menurut dia, pemerintah perlu melakukan reformasi untuk meningkatkan investasi dan memperluas lapangan kerja. [ardi]

Related posts