Pengiriman Lewat Kereta Api Naik 8% - Geliat Bisnis Jasa Angkut Logistik

NERACA

Jakarta - Volume pengiriman barang dengan menggunakan kereta api akan meningkat sebesar 8% di tahun ini. Dengan jumlah barang yang diangkut mencapai 25,5 juta, atau meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 23,6 juta ton.

Global Vice President Transportation & Logistic Frost & Sullivan Gopal R mengatakan peningkatan volume pengiriman barang yang menggunakan kereta api karena didukung pembangunan rel ganda Jakarta hingga Surabaya yang akan mengurangi beban jalan serta memangkas biaya dan waktu.

Selain itu, untuk volume pengiriman barang yang melalui udara meningkat mencapai 19,6 % yang mencapai 1,16 juta ton dari 970 ribu ton di 2012. "Ada potensi yang signifikan bagi industri pengiriman barang melalui udara, yaitu dari barang yang musiman yang tidak tahan lama juga peralatan dengan teknologi tinggi," ungkapnya di Jakarta, Rabu (6/3).

Gopal mengungkapkan Bandara Soekarno Hatta masih memberi kontribusi tertinggi sebagai pintu pengiriman kargo yang mencapai 36,7% dari total pengiriman udara di Indonesia. Sedangkan, untuk total volume kargo yang bergerak melalui laut Indonesia diprediksi meningkat sebesar 6,1 miliar ton pada 2013 dibanding 2012 yang hanya mencapai 943,1 juta ton.

Dalam kesempatan yang sama,Gopal juga memprediksi tahun ini industri logistik Indonesia tumbuh sebesar 14,5% atau mencapai Rp 1,634 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp 1,427 triliun. Peningkatan didorong dan didukung oleh inisiatif dan pembangunan industri logistik oleh pemerintah serta pertumbuhan ekonomi yang kuat. "Relokasi dan aliran modal yang kuat diharapkan dapat mendorong kegiatan manufaktur dan meningkatkan permintaan logistik di Indonesia," ujarnya.

Dia memprediksi perdagangan luar negeri Indonesia naik sebesar 16,7% atau mencapai US$ 446 miliar. Ini didukung aktivitas perdagangan luar negeri yang tumbuh secara berkesinambungan. "Kegiatan bisnis yang terkait dengan forwading, pengapalan dan pengangkutan barang melalui udara untuk ekspor maupun impor akan memperoleh keuntungan," ungkapnya.

Tumbuh 48%

Sebelumnya, perusahaan forwarding dan jasa pengurusan transportasi (JPT) di DKI Jakarta yang beroperasi melayani kegiatan pengurusan barang dan kepabeanan di Pelabuhan Tanjung Priok tumbuh 48% dalam 2 tahun terakhir.

Sekretaris Executive Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (Alfi) DKI Jakarta Budi Wiyono mengatakan pertumbuhan itu didorong semakin prospeknya bisnis forwarding dan JPT menyusul terus meningkatnya arus barang dan peti kemas melalui Pelabuhan Tanjung Priok-Jakarta.

Pelabuhan Tanjung Priok, kata dia, selama ini berperan lebih dari 65% sebagai pintu utama kegiatan pengapalan kargo ekspor impor maupun antar pulau. "Jika sebelumnya hanya terdapat 700 perusahaan forwarder dan JPT di DKI, kini jumlahnya sudah mencapai 1.060 perusahaan. Ada penambahan sebanyak 360 perusahaan baru selama dua tahun terakhir ini," ujarnya.

Budi mengatakan, menurut data Alfi DKI, selama dua tahun terakhir (Juli 2010-April 2012) terdapat 360 yang diberikan rekomendasi untuk mengantongi izin perusahaan forwarding dan jasa pengurusan transportasi (JPT) baru dari Dinas Perhubungan Pemprov DKI Jakarta. "Pertumbuhan perusahaan forwarder dan JPT di DKI tersebut juga karena semakin mudahnya proses pengurusan izin usaha (SIUP) pada bidang ini," jelasnya.

Dia menambahkan, berpijak pada semangat otonomi daerah (Otoda)-saat ini perizinan usaha bidang forwarder dan JPT di DKI bisa dikantongi dengan memperoleh izin dinas perhubungan daerah setempat. Hal itu sebagaimana yang diatur melalui Peraturan Gubernur (Pergub) DKI No:123/2010 tertanggal 25 Juni 2010 yang berlaku efektif pada 1 Juli 2010. "Sesuai dengan Pergub tersebut, penerbitan izin usaha bidang ini harus menyertakan rekomendasi dari asosiasi pelaku usaha terkait," ujarnya.

Keterbatasan infrastruktur membuat proses mengatur arus kontainer ke pelabuhan membutuhkan waktu berhari-hari. Pemerintah menyatakan diperlukan pembenahan agar sistem pelabuhan Indonesia lebih terintegrasi. Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, dengan melakukan pembenahan pelabuhan, Indonesia bisa menargetkan dwelling time atau waktu tunggu hanya 4 hari harus tercapai agar biaya logistik dapat ditekan. Saat ini, proses masuknya kontainer untuk ekspor maupun impor rata-rata butuh 6,5 hari. "Biaya logistik kita baru 14,8% dari biaya produksi. Ini yang harus dikejar," ungkapnya.

Related posts