Bedah Plastik, Operasi Paling Berisiko

Setiap tindakan operasi sekecil apa pun, pasti ada risikonya. Baik dari faktor pasien, dokter atau dari peralatan yang digunakan. Untuk operasi plastik, apa saja sih risikonya?

"Berbicara efek samping atau dampak, artinya kita berbicara tentang risiko. Setiap operasi sekecil apa pun tentu ada risikonya. Mulai dari risiko yang dimiliki pasien itu sendiri seperti risiko alergi, berpenyakit jantung, asma, atau adanya gangguan pembekuan darah dll," tulis dr Budiman, SpBP, dari Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (PERAPI).

Risiko operasi, lanjut dr Budiman, juga bisa berasal dari kompetensi dokter, seperti dokter yang tidak kompeten, tidak teliti, dan risiko yang berhubungan dengan rumah sakit tempat tindakan operasi itu dilakukan.

Sama halnya saat harus terbang dengan pesawat, untuk menekan risiko kecelakaan, seseorang harus memilih maskapai penerbangan yang pesawatnya sudah sesuai standar, dan awaknya dijamin memiliki kompetensi dan tersertifikasi.

"Maka dalam persiapan operasi pun dokter akan menyarankan serangkaian pemeriksaan laboratotium, rontgen foto, dan lainnya, serta mempersiapkan pasien seaman mungkin, misalnya harus puasa bila akan dilakukan operasi dalam pembiusan umum, serta mempersiapkan suatu team operasi yang baik dengan peralatan yang terstandarisasi. Dan dokter pun kemudian melakukan operasi dengan teknik yang sudah establish dengan kecermatan dan kehati-hatian yang tinggi," tambah dr Budiman.

Risiko terakhir biasanya berkaitan dengan parut atau bekas sayatan. Untuk risiko ini, dr Budiman menyarankan pasien harus rajin kontrol untuk melihat perkembangan parutnya agar sembuh dengan baik, tidak berkembang menjadi keloid atau parut hypertropik.

Hal yang sama juga disampaikan oleh dr. Aditya Wardana, SpBP, dokter dari Divisi Bedah Plastik, Departemen Ilmu Bedah FKUI/RSCM. Seperti operasi pada umumnya, dr Aditya mengharuskan pasien untuk dinyatakan sehat terlebih dahulu. Hal ini dapat dilihat melalui hasil medical check up sebelum melakukan operasi plastik.

Dia juga menekankan untuk pasien dengan umur di atas 40 tahun harus melalui rekam jantung. Jika pasien ternyata memiliki asma, harus menjalani konsultasi terlebih dulu ke dokter paru-paru.

Selain itu, penjelasan yang jelas dari dokter mengenai setiap proses dan risiko yang akan terjadi harus dapat dipahami pasien, setelah prosedur dijalankan maka pasien berkewajiban menandatangani surat persetujuan tindakan medis.

"Operasi ini akan aman jika pasien dan dokter 'match' dalam penyampaian keinginan dan tindakan yang dapat dilakukan. Serta pasien sudah mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh dokter (medcheck dan konsultasi). Operasi ini akan berisiko jika dokter tidak menjelaskan secara rinci dampak setelah operasi dan pasien tidak memahami serta dalam keadaan tidak sehat pada saat operasi," jelas dr Aditya.

Related posts