Pelaku Usaha Indonesia Masih Jago Kandang

NERACA

Jakarta - Asian Development Bank (ADB) Institute menilai para pelaku usaha Indonesia masih enggan memanfaatkanfree trade areas(FTAs). Oleh karena itu, pelaku usaha Indonesia tidak memanfaatkan kondisi di luar negeri dan lebih menikmati berusaha di negara sendiri atau dengan kata lain jago kandang."Sebanyak 85,3% pelaku usaha enggan karena kekurangan informasi tentang FTAs," kata Director of Research ADB Institute, Ganeshan Wignarajan, dalam keterangan tertulisnya kepadaNeraca, Selasa, (5/3).

Menurut Ganeshan, sebanyak 30,5% dari 95 responden lebih memilih untuk menggunakan skema lain, misalnyaeconomic processing zone, dibanding FTAs. Proses dokumentasi ekspor yang terhambat juga menjadi alasan 25,3% responden untuk tidak memanfaatkan FTAs. “Kompleksnya peraturan dalam negeri dianggap 23,2% reponden sebagai faktor untuk tidak masuk dalam FTAs,” ujarnya.

Selain itu, Ganeshan mengatakan para pelaku tidak tertarik untuk melakukan perdagangan dengan partner internasional, tidak melihat pentingnya FTAs, tidak ada dukungan dari pihak manajemen, kecilnya margin, serta ukuran nontarif yang dipakai partner dalam FTAs.Sementara itu, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Syarifuddin Hasan, menyatakan para pelaku UKM dalam negeri harus siap menghadapi persaingan di Asean Economic Community.

"Kadang pelaku kita ke luar negeri, promosi. Begitu dapatorder, pulang menjadi bingung," ungkapnya.Dia juga mengatakan para pelaku UKM dalam negeri itu, masih menghadapi kendala dalam permodalan dan sumber daya manusia. Hal tersebut, dinilai mampu memperlambat pengiriman produk kepada pembeli di luar negeri. Dia juga menuturkan keterlambatan itu akan merusak citra Indonesia. "Saya cenderung fokus ke pasar dalam negeri," ujarnya.

Syarifuddin menuturkan, yang terpenting, para pelaku UKM Indonesia menjadimarket leaderdi pasar dalam negeri. Dia menyebut pasar dalam negeri sangat luas. Bahkan, menurutnya, para pelaku UKM asing berusaha masuk ke pasar dalam dalam negeri Indonesia. Ia mengatakan Indonesia memiliki kekuatan dalamfurnituresertahandicraft. “para pelaku UKM Indonesia mampu mengasilkanfurnituredanhandicraftdengan sentuhan budaya yang tidak dimiliki pelaku UKM asing,” katanya.

Perlu diketahui sebelumnya, Pakar ekonomi senior ADB Edimon Ginting mengatakan proyeksi ADB menunjukkan bahwa empat pilar pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tumbuh positif dan para pelaku usaha Indonesia harus memanfaatkan ini. "Ada empat engine penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini," katanya.

Edimon mengatakan, tahun ini konsumsi domestik masih memegang peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dia memproyeksikan konsumsi domestik menyumbang sekitar 3% kepada produk domestik bruto (PDB). Apabila sektor konsumsi kuat, lanjut Edimon, akan menggerakkan mesin berikutnya yaitu investasi. "Indonesia tetap menjadi daerah yang menarik bagi negara lain. Indonesia menjadi negara keempat tujuan investasi," ujarnya.

Edimon mengatakan, Indonesia menjadi negara tujuan investasi keempat setelah Amerika Serikat, China, dan India. "Ini juga didukung oleh pertumbuhan kredit domestik, ini tidak hanya akan memberikan pertumbuhan sekarang tapi juga masa depan," ungkapnya. [mohar]

Related posts