Michelin Indonesia Genjot Produksi Ban Radial

Memasuki tahun ketiga operasi di Indonesia, PT Michelin Indonesia (PTMI) memiliki komitmen untuk terus meningkatkan pangsa pasar di ban radial Indonesia. Ini dikarenakan melihat pasar otomotif di Indonesia terus mengalami peningkatkan dan kebutuhan ban ikut mengalami peningkatan.

Country Director PT Michelin Indonesia, Jean Charles Simon mengatakan, bahwa ban merupakan hal yang penting bagi kendaraan. Seperti tubuh, ban seperti kaki yang mendukung semua kegiatan.

Dari tahun ke tahun, teknologi ban telah berkembang dan akhirnya mencapai teknologi ban radial. Ban radial pertama kali dirancang dan dipatenkan oleh Arthur W. Savage, seorang produsen ban dan penemu, pada tahun 1915. Ban ini merupakan pengembangan dari teknologi ban bias. Desain ini dikembangkan lebih lanjut menjadi ban radial dan dikomersialkan secara luas oleh Michelin pada tahun 1946.

Simon juga menjelaskan bahwa ban radial setidaknya memiliki tiga keunggulan dibandingkan jenis lain dari ban. Pertama, struktur tapak ban radial lebih pada permukaan jalan yang membuat tingkat keselamatan dalam berkendara lebih tinggi.

Dengan menggunakan jarak ban radial melanggar menjadi lebih pendek dan pengendara dapat membuat manuver cepat. Kedua, desain ban radial dapat mengurangi daya gesekan, sehingga itu berarti juga membantu menghemat penggunaan bahan bakar (BBM). Ketiga, ban radial lebih kuat dibandingkan jenis lainnya karena memiliki lapisan sabuk baja.

"Dengan kemampuan pengereman yang optimal, ban radial dapat memberikan keamanan dan kenyamanan berkendara di kedua jalan basah dan kering. Dalam situasi seperti hujan deras yang terjadi sekarang di seluruh Indonesia, penggunaan ban radial akan memberikan tingkat yang lebih baik dari keamanan," kata Simon.

Di pasar global, Michelin dikenal sebagai produsen ban yang memiliki komitmen untuk pengembangan dan pemanfaatan ban radial di dunia. Dengan pengalaman dan keahlian teknologi, Michelin terus memproduksi ban radial dengan tiga aspek utama: keamanan, ketahanan dan hemat bahan bakar.

Kondisi yang berbeda terjadi di Indonesia. Sampai hari ini, pasar ban radial di Indonesia masih didominasi oleh kendaraan penumpang. Mayoritas kendaraan komersial, truk dan bus yang beroperasi di Indonesia masih menggunakan ban bias. Kondisi ini berbeda dengan pengguna kendaraan jenis ini di Amerika Serikat dan Eropa.

"Di Amerika dan Eropa, sebagian besar dari kendaraan komersial, truk dan bus telah menggunakan ban radial. Karena ban radial ini dinilai memiliki banyak keuntungan, maka Michelin berkomitmen menyediakan ban radial di Indonesia yang dapat digunakan untuk semua segmen kendaraan," kata Simon di Jakarta beberapa waktu lalu.

Simon mengatakan, untuk pasar Indonesia, PTMI tahun lalu telah merilis jenis baru beberapa ban radial untuk semua segmen kendaraan. Untuk segmen truk ringan, Michelin menawarkan dua varian ban Agilis. Agilis HD disediakan untuk truk ringan dengan karakteristik medan jarak jauh dan beban berat. Sementara Agilis LT, dirancang untuk truk ringan bahwa mobilitas lebih banyak dilakukan di daerah perkotaan atau jarak pendek, dengan beban tidak terlalu berat. Agilis LT cukup tepat digunakan untuk pengangkutan produk konsumen di kegiatan usaha minimarket atau kecil (UKM).

"Produk ban radial dirancang untuk memberikan banyak manfaat, diantaranya adalah keselamatan dan kehandalan, umur panjang dan hemat bahan bakar Dengan semua manfaat tersebut, perusahaan dapat mengurangi biaya operasional dan mengurangi dampak lingkungan," tuturnya.

Di segmen kendaraan penumpang (mobil penumpang), PTMI merilis beberapa jenis ban seperti Michelin Energy XM2, yang menawarkan keseimbangan sempurna antara kinerja dan daya tahan yang lebih baik. Kemudian ada Michelin Primacy LC, yang menawarkan kemampuan untuk menyerap kebisingan dan mengurangi biaya bahan bakar.

"Kami juga telah memperkenalkan Pilot Sport 3 produk yang dapat memberikan kenyamanan dan keamanan dalam kondisi basah dan kering serta produk Pilot Super Sport yang dirancang khusus untuk mobil sport," jelas Simon.

Ia juga berharap dengan berbagai produk PT Michelin Indonesia, dapat memenuhi kebutuhan konsumen Indonesia akan ban yang memiliki aspek keamanan, ketahanan dan hemat bahan bakar.

BERITA TERKAIT

KONDISI 2018 LEBIH BURUK DIBANDINGKAN SURPLUS 2017 - BPS: Neraca Perdagangan Indonesia Defisit US$8,57 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan neraca perdagangan Indonesia (NPI) mengalami defisit hingga US$8,57 miliar sepanjang Januari-Desember 2018. Angka defisit ini…

Overburden Capai 55 Juta Ton - Samindo Klaim Produksi Lampaui Target

NERACA Jakarta -PT Samindo Resources Tbk (MYOH) telah merampungkan operasional overburden dan produksi tahun lalu dengan capaian melebihi target. Disebutkan,…

Indonesia Jadi Importir Gula Terbesar di Dunia

NERACA Jakarta – Apapun niat pemerintah untuk menjaga stabilitas harga, namun bila dilakukan dengan kebijakan impor tentu saja menuai pro…

BERITA LAINNYA DI OTOMOTIF

Pasar Otomotif Indonesia Diprediksi Lebih Positif di 2019

NERACA Jakarta – Pengamat otomotif yang juga dosen Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu memprediksi pasar otomotif dalam negeri tahun…

Ford Gandeng Mahasiswa Untuk Riset Teknologi Swakemudi

Ford Motor Company Amerika meneken kesepakatan dengan Michigan State University (MSU) untuk menggelar penelitian bersama terkait teknologi kendaraan masa depan,…

GM Jual 200.000 Kendaraan Listrik di Amerika pada 2018

General Motors (GM) secara total telah menjual 200.000 kendaraan listrik di Amerika Serikat hingga akhir 2018, memicu penghapusan kredit pajak…