Efektifkan Kebiasaan Hidup Bersih - G21H Lifebuoy

Program Gerakan 21 Hari (G21H) yang telah dijalankan pada 2012 lalu, dan telah menjangkau 1.370 SD di 10 provinsi, dengan total siswa mencapai 364.645 orang. Terbukti kesadaran anak-anak untuk meningkatkan hidup yang lebih bersih dan sehat sangat tinggi, ini bisa kita lihat dari jumlah siswa tersebut sebanyak 264.271 berhasil membentuk kebiasaan sehat. Bahkan jumlah siswa dan sekolah tersebut meningkat hampir dua kali lipat dari tahun lalu.

Sancoyo Antarikso mengatakan, PT Unilever Indonesia, Tbk., melalui misi sosial sabun kesehatan Lifebuoy, mengelar program G21H untuk membantu membentuk dan meningkatkan PHBS salah satunya CTPS di keluarga Indonesia, terutama bagi anak-anak. “Satu upaya penting untuk menjaga kesehatan dan mewujudkan Indonesia yang lebih sehat adalah melalui tindakan preventif dengan menerapkan PHBS khususnya dengan CTPS,” tutur Sancoyo.

Saat ini PHBS di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Secara nasional persentase pencapaian rumah tangga yang ber-PHBS baik baru mencapai 53,89%. Satu indikator utama PHBS di sekolah dan rumah tangga adalah Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). CTPS merupakan langkah sederhana berdampak luar biasa bagi kesehatan. Hasil riset menunjukkan CTPS dapat mencegah tingkat kejadian diare hingga 50%, dan ISPA hingga 45%.

Pada program G21H, Lifebuoy mengajak siswa SD dan keluarga Indonesia untuk bersama-sama melakukan kebiasaan sehat minimal di 5 saat penting. Lima saat penting tersebut adalah Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) sebelum makan pagi, sebelum makan siang, sebelum makan malam, dan setelah dari toilet, serta mandi menggunakan sabun. Diharapkan melalui kebiasaan yang dilakukan selama 21 hari secara terus-menerus tanpa putus, perilaku baik ini dapat menjadi perilaku sehari-hari.

Menurut Amalia Sarah Santi, berdasarkan hasil evaluasi program yang diukur secara kualitatif dan kuantitatif yang kami lakukan bersama pihak sekolah, dan didukung oleh Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan daerah, hasil pelaksanaan G21H 2012 memberikan manfaat positif bagi bidang kesehatan dan pendidikan.

Sarana Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) juga memperlihatkan peningkatan dan kegiatan UKS kini menjadi lebih aktif. Dampaknya terlihat seperti di SD Sentul 1 Kota Blitar yang semula tidak memiliki UKS, setelah melaksanakan program G21H kini menjadi UKS Percontohan se-kota Blitar serta mengikuti seleksi tingkat provinsi dan nasional.

Program G21H meningkatkan kesadaran sekolah peserta G21H untuk menyediakan atau menambah sarana kebersihan seperti fasilitas cuci tangan dan tempat pembuangan sampah. Beberapa sekolah yang sebelumnya tidak memiliki sarana cuci tangan kini telah memiliki sarana tersebut.

Sedangkan bagi sekolah yang memiliki fasilitas cuci tangan dengan jumlah yang masih minim, kini telah menambah sarana cuci tangan sehingga jumlah yang cukup. Sebagai contoh SD BPI Bandung, Jawa Barat secara swadaya menambah sarana CTPS sebanyak 12 keran. Sehingga hal ini dapat menunjang pelaksanaan PHBS.

Manfaat pada bidang kesehatan tersebut berdampak pula ke bidang pendidikan secara tidak langsung. Rata-rata tingkat absensi siswa di sekolah peserta G21H dilaporkan turun menjadi 5 - 10% dari sebelumnya sekitar 10 – 15%. “Dalam setahun, jumlah hari sekolah 260 hari, ini berarti melalui G21H sebanyak 4,7 juta hari sekolah tidak terbuang sia-sia dari rata-rata 364.645 siswa di 10 Provinsi,” Sarah menjelaskan.

Evaluasi mengenai hari sekolah tidak terbuang dengan mengupayakan siswa tetap sehat sehingga mengurangi tingkat absensi telah dilakukan juga di dunia internasional. UNICEF menyatakan bahwa 1,9 miliar hari sekolah tidak terbuang jika masalah sanitasi dan tingkat kejadian diare bisa dikurangi. Tidak hanya itu, WHO menyatakan pemberdayaan (empowerment) masyarakat termasuk pada generasi muda telah berdampak pada peningkatan kesehatan dan pendidikan.

Manfaat lain dari program G21H di bidang pendidikan terlihat dari peningkatan kreatifitas para guru. Mereka menyampaikan materi edukasi PHBS dan CTPS melalui wayang, drama, dan lagu. Ini menunjukkan kepada siswa dan komunitas sekolah lainnya bahwa edukasi dapat dilakukan dengan cara yang fun, menarik dan edukatif.

Related posts