Produksi Garam Cirebon Bisa Meningkat

NERACA

Cirebon – Walaupun cuaca saat ini tidak stabil, namun produksi garam yang dihasilkan oleh para petani di kabupaten Cirebon, bisa ditingkatkan. Tercatat, dari jumlah produksi standar antara 60 sampai 80 ton/musim, para petani saat ini bisa menambah produksi sekitar 90 ton/musimnya. Hal ini dikarenakan penerapan tekhnologi ulir. Walaupun begitu, tetap saja cuaca dan iklim saat ini yang tidak stabil, berpengaruh besar kepada jumlah produksi.

Ketua Assosiasi Pengusaha Garam Seluruh Indonesia (APGASI) Korwil Jawa Barat . M. Taufiqurohman mengatakan, akibat tidak stabilnya musim, maka produksi garam tahun kemarin, gagal total. Ini akibat kurangnya panas matahari yang memang berperan sangat besar dalam produksi garam. Untuk tahun ini menurutnya, sudah ada sebagaian petani yang melaksanakan penggarapan lahan.

“Memang semuanya tergantung pada cuaca. Kalau cuacanya hujan terus pasti tidak akan bisa. Tahun kemarin panen kita gagal total. Jadi Kabupaten Cirebon nol dalam produksi garam, karena hujan terus,” kata Taufik.

Menurut dia, untuk mensiasati cuaca yang tidak menentu, pihaknya menggandeng kalangan akademisi, untuk menciptakan teknik pembuatan garam yang cepat. Saat ini, pihak Universitas Indonesia (UI) sedang mengadakan riset, untuk menciptakan proses pembuatan garam yang cepat, tanpa menunggu cuaca.

“Kita sudah menggandeng UI untuk melakukan riset. Sebentar lagi mungkin sudah bisa diterapkan. Intinya, kita buat suatu alat untuk memanaskan air yang akan dicetak. Masalahnya, kendala yang paling lama dalam proses ini, ya pembuatan air tua. Tapi kami yakin, kalau tekhnologi ini sudah diterapkan, produksi garam kita akan semakin meneningkat,”ungkap Ketua APGASI Korwil Jabar.

Taufik mengatakan, dari luas lahan petani garam sekitar 12 ribu hektare, hanya ada 2251 hektare lahan yang potensial. Lahan tersebut berada di daerah Kapetakan, Suranenggala, Gunung Jati, Mundu, Pangenan, Gebang serta Losari. Sedangkan jumlah petaninya hingga saat ini berjumlah ribuan orang.

“Kita harus bisa mengakomodir ribuan petani. Jumlahnya saya tidak tahu persis, namun tinggal menghitung saja dari 1 hektare lahan dikalikan 3 orang petani. Yang paling banyak produksi ya di daerah tengah, yaitu daerah Pangenan. Di sini produksinya sangat banyak sekali,” aku Taufik.

Untuk penjualan, Garam produksi Kabupaten Cirebon dijual ke daerah Indramayu, Tasik serta Bandung. Harga standar tahun 2009 ungkap dia, adalah Rp. 200,- setiap kilogramnya. Harga tersebut, harga yang diterima para petani garam di lokasi panen. Namun pihaknya mengaku, akan memperjuangkan harga Rp. 550,-/kg, namun barang sampai gudang.

“Memang standar harga tahun 2009 sangat kecil. Petani hanya mendapatkan Rp. 200,-. Kami akan upayakan tahun ini harganya bisa mencapai Rp. 550,- per kilogram, tapi sampai gudang. Jadi petani bisa untung Rp. 450,- dari setiap kilogramnya. Harga ini harus terealisasi, karena untuk mensejahterakan kehidupan petani garam,” tukasnya.

Taufik menambahkan, saat ini beberapa KUD petani garam yang cukup bagus, namun tidak sedikit juga dalam keadaan mati suri. Beberapa KUD petani garam tersebut adalah KUD Mina Jaya Bakti, Arum Sari, serta KUD Tirta Kencana.

Related posts