Peluang Indeks Dibalik Kepercayaan Investor Asing - IHSG Ditopang Dana Asing

NERACA

Jakarta – Derasnya dana asing yang masuk ke industri pasar modal dalam beberapa pekan kemarin, membuat performance kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menguat hingga memecahkan rekornya di level 4.800 point. Kondisi ini menurut beberapa analis, merupakan dampak positif lantaran pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang positif dan juga tingkat kepercayaan investor asing yang besar.

Deputy Head & Director Corporate Communications UBS Singapura dan Asia Tenggara Rachel Lin mengatakan, investor asing masih tertarik dengan kinerja perusahaan-perusahaan di Indonesia, “Tingkat kepercayaan investor asing semakin besar karena mendapatkan akses langsung ke jajaran senior manajemen serta informasi dan masukan yang lebih dalam akan Indonesia sebagai target investasi. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan Indonesia bakal berkesempatan melebarkan basis pemegang saham mereka,”katanya dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (5/3).

Dia menambahkan, sejak 2007, UBS telah menjadi tuan rumah acara UBS Indonesia Conference yang menawarkan kesempatan mendapatkan wawasan lokal untuk investor asing. Para investor tersebut dapat bertemu secara eksklusif dengan para jajaran manajemen perusahaan dan melakukan kunjungan ke lapangan.

Seperti diketahui, UBS telah bertindak sebagai penasihat bagi pemerintah Indonesia sejak 1974, sedangkan UBS masuk ke Indonesia pada 1990. Pada 1996, UBS menjadi broker berlisensi penuh yang diakui oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dan BEI.

Sebelumnya, Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang pernah bilang, penguatan IHSG tersebut didukung oleh tingginya aksi beli bersih (net buy) asing yang tercatat dalam pekan kemarin sebesar Rp 4.61 triliun dan selama sembilan minggu berjumlah Rp 18.77 triliun,”Angka tersebut cukup fantatis jika dibandingkan dengan total net buying asing sepanjang tahun 2012 yang sebesar Rp 15 triliun,”katanya.

Menurutnya, kenaikan tersebut membuat beberapa harga saham semakin premium. Oleh karena itu, investor perlu selektif dalam melakukan transaksi. “Dengan kenaikan tersebut membuat banyak saham secara valuasi makin mahal sehingga investor perlu melakukan selective buying.” Jelasnya.

Dia menilai, secara teknikal data mingguan mengindikasikan adanya peluang penguatan pada pekan ini di kisaran 4699-4870 poin. Sementara data bulanan mengindikasikan perlambatan aksi beli sepanjang Maret di kisaran 4764-4861 poin.

Sejumlah Saham

Beberapa saham yang menurut dia harus diwaspadai investor akibat sudah berada di area jenuh beli (overbought) antara lain saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT Charoen Phokphand Tbk (CPIN), dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).

Sementara untuk saham yang dapat diakumulasi investor, dengan strategi akumulasi saat harga sahamnya sedang melemah, yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT).

Menanggapi tingginya aksi beli bersih (net buy) oleh asing, Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Hutomo mengatakan, hal ini didukung oleh kondisi regional yang saat ini masih menjadi magnit bagi investor asing.

Oleh karena itu, selama tidak ada berita-berita “aneh” dari pemerintah terkait kebijakan perekonomian maka asing akan terus melakukan net buying. “Seperti halnya yang terjadi pada tahun lalu, setelah pemerintah menaikkan BBM, membuat asing dalam posisi jual.” jelasnya.

Beberapa saham yang mendukung pergerakan IHSG, menurut dia, antara lain berasal dari sektor perbankan, properti, dan konstruksi. Selain itu, kinerja IHSG juga ditopang dengan adanya pergerakan saham-saham lapis dua dan tiga oleh investor lokal. “Saat ini baik lapis kedua maupun ketiga bergerak semua. Sementara asing sebagian besar masih pada saham-saham blue chip,” jelasnya.

Dia menambahkan, hal dikhawatirkan pasar apabila terjadi pelemahan rupiah yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap nilai portofolio saham. Sementara dalam jangka panjang, terkait rencana pemerintah melakukan redenominasi akan berpengaruh terhadap inflasi, yang kemudian mendorong kenaikan tingkat suku bunga dan pada akhirnya berimbas pada kinerja saham.(bani)

Related posts