HSBC Targetkan Penyaluran Kredit Tumbuh 15% - Di 2013

NERACA

Jakarta – Bank HSBC Indonesia menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 13%-15% di 2013. Bank asal Hongkong, China itu masih akan tetap fokus di segmen kredit korporasi, seperti yang selama ini dikuasainya. Porsi kredit di segmen korporasi mencapai 91%, kemudian kredit ritel yang terdiri atas kartu kredit dan personal/consumer loan porsinya sekitar 9%.

“Kita targetkan di tahun ini aset kami tumbuh 13%-15%, yang mana ini sama dengan target pertumbuhan kredit, namun ini memang masih jauh dari achievement di 2012. Ini merupakan sedikit perubahan dalam RBB (rencana bisnis bank), karena kita sedikit konservatif melihat kondisi global yang lesu. Kemudian segmen kredit korporasi masih merupakan core kita,” kata Direktur Global Market HSBC Indonesia, Ali Setiawan, ketika ditemui di Jakarta, belum lama ini.

Untuk segmen korporasi, HSBC Indonesia juga fokus terhadap pengembangan produk-produk wealth management, bukan produk yang termasuk di segmen mass banking. “Core business kita memang servicing multinational corporation (MNC) yang ada di Indonesia, dan kita juga kuat di trade finance. Jika dibandingkan dengan bank-bank asing lainnya, selain bisnis yang besar di large corporate, kita juga cukup bersaing di commercial banking. Ini yang menyebabkan kita tidak takut bersaing dengan mereka,” tuturnya.

Sementara untuk nasabah korporasi lokal, HSBC Indonesia banyak mempunyai nasabah di bidang consumer goods dan pertambangan. Mengenai kekuatannya dalam trade finance (ekspor-impor), selain dalam dolar AS, HSBC Indonesia juga menyediakan pembiayaan perdagangan dalam mata uang renminbi atau yuan.

“Tapi untuk kredit dalam renminbi masih belum, karena ini baru sebatas pada trade finance atau transaksi ekspor-impor (Letter of Credit/LC) saja. Jadi kita bantu untuk ekspor dan impor ke Cina. Namun kita masih belum ada rencana di bisnis trustee,” ujarnya.

Ali menambahkan bahwa porsi kredit banknya memang banyak bertumbuh dalam valas. “Nasabah juga tahu jika ingin mencari kredit valas itu sebaiknya ke foreign bank karena bunganya lebih murah. Jadi porsi kredit kita sekarang sebanyak 60% valas, dan 40% rupiah,” imbuhnya.

Dikarenakan HSBC Indonesia memang tidak terlalu fokus kepada segmen kredit ritel, maka kredit pemilikan rumah (KPR) yang disalurkannya juga tidak besar.

“KPR kita masih sedikit sekali, dan tidak mungkin tumbuh besar seperti bank tetangga yang mencapai hampir 40%, karena kita tidak iklankan dengan besar. Sebenarnya untuk KPR ini sudah dimulai sekitar tiga tahun lalu, tapi marketing promotion-nya baru gencar tahun lalu. Kita memberikan tenor 2 tahun dengan bunga 6,99%. Untuk KPR ini, kita sebatas kerjasama dengan developer dan nasabah premier. Rata-rata rumah yang dibiayai adalah yang harganya berkisar Rp1-2 miliar,” jelasnya.

Menurutnya, persaingan di bidang KPR itu sangat kompetitif antara perbankan di Indonesia. Hal ini dikarenakan banyak bank yang agresif sekali dalam memberikan KPR dalam jumlah besar.

“(Bank) yang duitnya paling banyak dalam rupiah, (menyalurkan) KPR secara masif tidak akan masalah, karena cost of fund-nya rendah. Mereka menyalurkan KPR sebab ingin membuang uang, karena itu yang susah, kalau uang mendekam saja di bank pasti akan rugi. Makanya mereka diversifikasi di KPR. Maka itu, prospek di KPR masih akan tumbuh, karena kita (bank) akan berusaha dapat return dari channel yang lain,” ucapnya.

Sementara, Hana Tantani, Deputy Chief Financial Officer HSBC Indonesia, juga menerangkan bahwa sebagai institusi bank, HSBC Indonesia tidak hanya berfokus pada pendapatan bunga saja, tapi juga dari fee based income. Dan total dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil diperoleh sampai akhir tahun lalu yakni sebesar Rp43,32 triliun. “Kredit tahun lalu tumbuh 24%, sama dengan industri. NPL (rasio kredit macet) nett sebesar 0,5% di 2011, turun jadi 0,3% pada 2012,” tandasnya. [ria]

Related posts