Ekonom: Naikkan BBM Bersubsidi - Atasi Defisit NPI

NERACA

Jakarta - Pengamat ekonomi mengatakan,salah satu cara untuk mengatasi defisit neraca perdagangan Indonesia (NPI), di mana impor lebih besar ketimbang ekspor, adalah dengan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Bersubsidi. Hal itu disampaikan Mirza Adityaswara kepadaNeracadi Jakarta, Selasa (5/3).

“Sumber pembengkakan impor BBM yang harus ditangani yaitu dengan membuat harga BBM agak lebih mahal. Atau yang berarti juga adanya sedikit kenaikan harga BBM,” jelas Mirza. Dia juga mengatakan, selain menaikkan harga BBM, yang bisa dilakukan untuk membuat neraca perdagangan menjadibalancekembali adalah dengan melemahkan rupiah dan melambatkan perekonomian.

Sedangkan pilihan lain, lanjut Mirza, adalah dengan menaikkan suku bunga. Ancaman defisit neraca perdagangan luar negeri Indonesia akan diperkirakan terus berlanjut dan diprediksi mengoreksi kinerja perekonomian nasional. Defisit perdagangan yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) kini mencapai US$171 juta pada Januari 2013, memberikan sinyal bahwa ekonomi negeri ini tengah menuju zona bahaya.

Ahmad Erani Yustika mengungkapkan apabila pemerintah tidak segera memperbaiki defisit neraca perdagangan tersebut bisa membahayakan perekonomian Indonesia. "Ini menunjukan beberapa aspek ekonomi Indonesia menunjukkan masalah," ujarnya, kemarin. Dia juga memaparkan, hal paling krusial yang mendorong membesarnya defisit neraca perdagangan adalah impor bahan bakar minyak (BBM).

“Sebenarnya, pemerintah sudah mengetahui tindakan yang seharusnya dilakukan untuk mencegah defisit terulang kembali. Yakni, tinggal melakukan penghematan BBM, karena hanya itu salah satu cara untuk mencegah terjadinya defisit neraca perdagangan dalam jangka waktu pendek, jika pemerintah tidak mau menaikan harga BBM,” lanjutnya.

Celakanya, menyangkut defisit neraca perdagangan, menurut dia, pemerintah selalu menyalahkan krisis global. Padahal, krisis global hanyalah faktor pemicu. Namun pemerintah menganggapnya sebagai penyebab utama merupakan sebuah kesalahan.

“Di luar itu, faktor lain yang perlu dicermati adalah ketergesaan Indonesia untuk meliberalisasi perekonomian secara masif sehingga mematikan insentif produksi domestik, termasuk di sektor pertanian. Impor komoditas bak air bah tanpa bisa dibendung, sehingga makin menyulitkan upaya mencetak surplus perdagangan,” tegas Erani.

Dengan demikian, Erani mendesak pemerintah untuk menerapkan beberapa strategi yang jelas untuk mengatasi masalah tersebut. “Pertama dengan mengintensifkan promosi dan diplomasi perdagangan internasional. Strategi diplomasi ini ditempuh melalui pendekatan komoditas dan negara tujuan dari beberapa tahun lalu. Kedua, adalah memperbanyak ekspor produk-produk bernilai tambah untuk mengantisipasi penurunan harga komoditas di pasar internasional. Ketiga, pemerintah fokus untuk ekspor ke pasar-pasar non-konvensional yang masih tumbuh tinggi,” kata Erani seraya mengusulkan.

Perbaikan manufaktur

Di lain pihak, berdasarkan dataHSBC Purchasing Managers’ Index™(PMI™), bahwa terdapat indikasi perbaikan dalam kesehatan sektor manufaktur, meskipun baru terbilang kecil. Su Sian Lim, Ekonom ASEAN HSBC Group, memaparkan indeks yang disesuaikan secara berulang kali merangkak kembali di atas tanda tidak berubah 50,0 selama Februari 2013, dengan nilai 50,5 atau meningkat dari 49,7 di Januari 2013 lalu.

“Ini artinya, sejumlah perusahaan yang beroperasi dalam sektor penghasil barang Indonesia mengindikasikan tidak ada perubahan dalamoutput-nya selama Februari,” kata Su, dalam siaran persnya. Sejumlah perusahaan tersebut juga mengindikasikan kenaikan produksi yang kecil, disebabkan oleh tingkat permintaan baru yang lebih tinggi.

Namun, banjir yang terjadi di akhir Januari dan awal Februari mengakibatkan pengiriman bahan baku terlambat, sehingga menyebabkan beberapa perusahaan tidak dapat memenuhi persyaratan permintaan. “Aktivitas manufaktur berekspansi hanya secara moderat di Februari. Tetapi cuaca yang tidak bersahabat, seperti yang jelas terekam dalam jadwal pengiriman pemasok yang buruk, terus menjadi beban,” tuturnya.

Volume pekerjaan baru yang datang ke sejumlah perusahaan manufaktur di Indonesia, kata dia, meningkat selama Februari 2013, di tengah-tengah sejumlah laporan menguatnya permintaan domestik serta pemasaran. Namun tingkat ekspansi permintaan baru kurang signifikan, meskipun terjadi peningkatan selama sembilan bulan berturut-turut.

Lalu, secara kontras, permintaan ekspor baru turun, yang merupakan kontraksi pertama yang tercatat sejak September 2012. Tingkat penurunan keseluruhan cukup solid , dan tercatat tercepat dalam tujuh bulan terakhir. “Lebih dari seperlima dari sejumlah perusahaan yang dipantau mengindikasikan tingkat lebih rendah terhadap bisnis ekspor, karena adanya permintaan lebih lemah dari klien Eropa dan Amerika. Ini merupakan hal mengejutkan, padahal secara perlahan situasi global telah membaik,” imbuhnya.

Tingkat penyusunan staf juga menurun selama Februari 2013, seperti yang terjadi sejak November 2012, namun hal ini tidak signifikan. Sejumlah perusahaan manufaktur menyatakan bahwa mundurnya para staf yang tidak tergantikan, juga kenaikan dalam upah minimum, menyebabkab perubahan terbaru dalam jumlah penurunan penggajian (payroll).

“Sejumlah peningkatan yang signifikan atas penumpukkan pekerjaan juga tercatat selama Februari. Tepatnya 17% dari sejumlah panelis mengindikasikan tingkat lebih tinggi bisnis yang tidak terselesaikan, akibat keterlambatan pengiriman bahan baku dan kekurangan tenaga kerja. Tapi catatan penumpukkan pekerjaan mengindikasikan adanya ekspansi terus menerus di sektor manufaktur ke depannya,” katanya.

Kenaikan beban

Inflasi hargainputjuga terus berlanjut selama Februari 2013, di tengah-tengah laporan kenaikan biaya bahan plastik, bahan bakar, listrik, serta tenaga kerja. Oleh karena itu, pembebanan ditingkatkan kembali. Hargainputdanoutputjuga meningkat sepanjang periode survei sejak 23 bulan lalu. Sehingga sejumlah manufaktur menambah harga pembelian input mereka pada Februari 2013, setelah adanya penurunan yang terindikasi di Januari 2013.

“Tidak disangsikan, permintaan akan cukup baik, terutama dari sektor domestik, yang secara konsisten menjadikan hargainputdanoutputsemakin tinggi setiap bulannya.Ini cukup mengkhawatirkan.Akan tetapi, tingkat ekspansi hanya tercatat kecil. Bukti observasi singkat mengindikasikan bahwa kenaikan yang diantisipasi pada permintaan mengakibatkan pembelian jumlah barang yang tinggi. Tapi hujan yang deras selama sebulan berdampak pada semakin memburuknya performavendor. Waktu tenggang pemesanan (lead lites) rata-rata lebih panjang, dan pada tingkat tercepat dalam periode rangkaian survei,” paparnya.

Sebagai informasi, HSBC IndonesiaManufacturingPMI didasarkan pada data yang dikumpulkan dari tanggapan bulanan hingga kuesioner yang dikirimkan ke eksekutif bagian pembelian di sekitar 400 perusahaan manufaktur. Panel bertingkat secara geografis dan oleh grup Standard Industrial Classification (SIC), berdasarkan pada kontribusi industri hingga PDB Indonesia.

Tanggapan survei merefleksikan perubahan, jika ada, dalam bulan berjalan dibandingkan bulan sebelumnya didasarkan pada data yang dikumpulkan di pertengahan bulan. Purchasing Managers’ Index™(PMI™) adalah indeks komposit berdasarkan pada lima indeks individual dengan pertimbangan sebagai berikut. Permintaan Baru - 0,3; Output - 0,25; Ketenagakerjaan - 0,2; Waktu Pengiriman Pemasok - 0,15; Stok Jumlah Barang Dibeli - 0,1; dengan indeks Waktu Pengiriman diinversikan agar bergerak di arah yang berbanding.

SurveiPurchasing Managers’ Index™(PMI™)ini tersedia di 32 negara dan juga wilayah utama termasuk zona Eropa. Survei ini adalah survei bisnis yang paling diminati di dunia, dipilih oleh sejumlah bank sentral, pasar keuangan dan para pembuat keputusan bisnis dikarenakan kemampuan memberikan tren ekonomi terkini, akurat dan indikator unik perbulan yang khas. [ria]

Related posts