Negosiasi CEPA RI-Korsel Rampung 2013 - Penanaman Modal dan Perdagangan Internasional

NERACA

Jakarta - Negosiasi Perjanjian Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) antara Indonesia dengan Korea Selatan ditargetkan akan rampung pada akhir 2013. Pasalnya Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Young Sun-kim sangat berharap kerja sama ekonomi dua negara bisa ditingkatkan salah satunya dengan perjanjian CEPA tersebut.

"Perjanjian CAPE sangatkan strategis dalam mendongkrak investasi maupun nilai perdagangan. Dengan CEPA yang lebih luas lagi maka implikasi terhadap kedua negara bisa sama-sama memperkuat industrinya masing-masing. Pastinya investasi ke Indonesia maupun sebaliknya dapat bertambah lagi," ujarnya di Jakarta, Selasa (5/3).

Pihaknya mengaku hampir tidak ada hambatan dalam pembahasan kerjasama antar Indonesia dengan Korsel. Untuk itu, Ia menegaskan bahwa Korsel tidak hanya menginginkan pembebasan bea masuk produk dari Korsel akan tetapi juga diharapkan adanya alih teknologi barter di bidang pendidikan sumber daya manusia, dan pengurangan hambatan tarif untuk beberapa komoditas unggulan masing-masing. "Kalau hanya menginginkan pembebasan bea masuk pasti kami memilih FTA saja, bukan CEPA," cetusnya.

Pembicaraan CEPA dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Korsel Lee Myung-bak tahun lalu. Meski kini presiden negara yang kondang dengan musik K-pop itu berganti dan dipimpin presiden perempuan Park Geun-hye, tidak akan ada perbedaan kebijakan. "Negosiasi (CEPA) sekarang masih dijalankan, akhir tahun ini kami janjikan bisa selesai dibahas," kata Young.

Sejauh ini dari data pemerintah Korsel, ada lebih dari 2.000 perusahaan asal Negeri Ginseng itu berinvestasi di Tanah Air, dan membuka 1,1 juta lapangan kerja. Sementara investasi dari Korea ke Indonesia mencapai USD 1,7 miliar tahun lalu. Nilai perdagangan kedua negara tercatat sudah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Perdagangan Indonesia dan Korea Selatan pada 2007 nilainya baru USD 11 miliar, meningkat menjadi USD 30 miliar tahun lalu, dengan Indonesia mencatat surplus USD 3,2 miliar.

Lebih Menguntungkan

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menilai perjanjian kemitraan komprehensif Indonesia dengan Uni Eropa akan lebih menguntungkan dibandingkan ketika dengan China. "Dinilai bisa menguntungkan karena produksi Indonesia tidak ada diproduksi di negara-negara Uni Eropa dan termasuk sudah jauh lebih berkembang majunya industri di negara itu dibanding Indonesia," katanya.

Ia menjelaskan dengan berbedanya produksi, maka ekspor Indonesia akan tidak terganggu, sementara dengan majunya industri di negara Uni Eropa, maka aliran investasi negara itu ke Indonesia akan semakin besar. "Kondisi Indonesia-Uni Eropa berbeda dengan kerja sama Indonesia-China. Saya yakin CEPA akan menguntungkan Indonesia, tetapi memang masyarakat dan pengusaha nasional harus dipersiapkan dalam menyambut dan menghadapi CEPA itu," katanya.

Wakil Kepala Delegas Uni Eropa Untuk Indonesia, Brunei Darusslam, dan Asean, Colin Crooks, mengatakan, hubungan Uni Eropa dan Indonesia semakin berkembang pesat sejak 2004. UE (Uni Eropa), dewasa ini mitra dagang ketiga dan sumber penanaman modla asing kedua bagi Indonesia. Hubungan yang mampu bertahan lama dan masih eksis di saat terjadi krisis mengindikasikan hubungan kerja sama bisa semakin membaik. "CEPA dinilai bisa lebih membuat lebih baik hubungan UE dan Indonesia, bahkan mungkin bisa lebih baik dari hubungan ke negara lainnya seperti UE-Malaysia yang sudah cukup besar US$45 miliar," katanya.

Dengan adanya CEPA, PMA dari UE di Indonesia bisa akan lebih besar dari US$ 130 miliar dolar AS dewasa ini. "PMA UE di Indonesia yang hanya 1,6% dari total PMA UE ke Asia masih sangat kecil," katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kerja Sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian Agus Tjahajana Wirakusumah, menyebutkan, pengusaha harus memahami CEPA, karena kerja sama UE-Indonesia akan lebih meluas termasuk ke soal jasa seperti tenaga kerja. "Jangan nanti sudah CEPA ditandatangani, ada keluhan atau protes kenapa banyak warga UE bekerja di Indonesia,"katanya.

Ketua Apindo Sumut Parlindungan Purba mengungkapkan Apindo Sumut sedang melakukan pemetaan terhadap dampak dan keuntungan CEPA bagi pengusaha daerah itu. "Apindo Sumut berharap pemerintah daerah juga merubah perda-perda yang menyulitkan pengusaha,"katanya.

Related posts