Kadin: Produk UKM Perlu Masuk Pasar Ritel - Kembangkan Usaha

NERACA

Jakarta - Guna mengembangkan produk Usaha Kecil Menengah (UKM), Kamar Dagang dan Industri (Kadin) meminta kepada pengusaha ritel untuk menerima produk-produk hasil UKM. Pasalnya dengan masuknya produk UKM di pasar ritel, maka pengusaha UKM akan semakin bergairah dalam mengembangkan produknya. Hal itu seperti diungkapkan Wakil Ketua Kadin Bidang UKM dan Koperasi Erwin Aksa ketika ditemui dalam seminar Inovasi untuk Pengembangan Usaha di Daerah, di Jakarta, Selasa (5/3).

"Ada varietas baru dari buah pepaya yang telah diciptakan. Namun tidak banyak orang yang mengetahuinya. Maka dari itu, produk-produk tersebut harus disinergikan dengan jaringan ritel. Pengusaha Kadin kan ada beberapa yang bergerak dibidang pasar ritel, maka nanti kita meminta kepada pengusaha khususnya di daerah untuk bisa memberikan kesempatan bagi produk UKM di pasar ritel," ungkap Erwin.

Menurut dia, dengan adanya Asean Economic Community (AEC) 2015 yang mana negara-negara Asean akan mudah masuk ke Indonesia dapat mengancam para pengusaha UKM. Maka dari itu, dengan memfasilitasi dan memberikan kemudahan UKM untuk masuk ke pasar ritel maka pengusaha UKM bisa tetap bertahan ditengah gempuran produk impor.

Tidak hanya memberikan fasilitas kepada UKM untuk masuk di pasar ritel, lanjut dia, pengusaha UKM juga perlu meningkatkan inovasi agar produknya semakin kompetitif. Akan tetapi ia menyayangkan bahwa sektor UKM masih terkendala permodalan, teknologi dan produktifitas. "Sebelum produk UKM masuk ke pasar ritel, maka perlu ditingkatkan dulu produktifitasnya dan yang paling penting adalah inovasinya," lanjutnya.

Sebelumnya, Head of Public Affairs PT Carrefour Indonesia Tbk, Satria Hamid menjelaskan ada penilaian-penilaian tersendiri. terlebih dengan ditambah adanya program Capacity Building Carrefour bagi UKM yang sudah berjalan sejak 1 tahun yang lalu. "Dahulu, memang kami siap menampung produk UKM yang diproduksi oleh siapa saja, tapi kami menghimbau agar produk yang dihasilkan itu bisa diminati oleh konsumen. Jangan hanya bisa growth produk, tapi konsumen enggan membelinya. Itu penting. Jadi peran teknologi informasi, peran dari produk UKM itu sendiri lah yang harus berinovasi," lanjutnya.

Lebih lanjut lagi dikatakan Hamid, pihaknya hanya menyiapkan piranti atau display produknya. Setelah itu, yang berkompetisi adalah produk-produk UKM itu sendiri. "Bagaimana produk-produk tersebut bisa mempunyai nilai tambah terhadap kompetitor yang ada. Itu yang diciptakan. UKM harus mencari kelebihan yang dipunyai produk-produknya. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana peran teknologi informasi bisa kami serap dan implementasikan. Itu yang pertama ingin kami raih. Tidak bisa sendiri. Harus kerja sama dengan semua pihak," jelasnya.

Untuk itu, Hamid menyarankan agar pelaku usaha UKM untuk tidak boleh lelah dan terus mengembangkan UKM. "Kami posisikan diri sebagai rumah bagi UKM. Tapi UKM mana yang siap berkompetisi itu yang akan kami ambil. Kami tidak ingin UKM yang lemah. Kami ingin UKM yang bisa berkompetisi," katanya.

Ramah Lingkungan

Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Neddy Rafinaldy Halim mengungkapkan, pemerintah menjalin kemitraan antar pelaku koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah (KUMKM) untuk meningkatkan pemahaman tentang arti penting produk ramah lingkungan dan peluang pemasaran produk ramah lingkungan. Rafinaldy mengatakan, melalui fasilitasi pemerintah antara KUMKM di bidang eco-product dengan usaha besar, pelaku usaha sektor riil lebih siap bermitra dengan usaha besar.

Dia menilai KUMKM tersebut adalah yang berhasil mengembangkan usaha dibidang eco-product seperti kerajinan daur ulang dari limbah, batik pewarna alam, dan furnitur atau mebel berbahan baku yang dinyatakan dilindungi negara. Selain itu, dia menambahkan, melalui pertemuan antara pelaku sektor riil dengan usaha besar, akan memberi pemahaman tentang eco-product kepada pembina atau pemerintah daerah, KUMKM, usaha besar, serta instansi terkait. KUMKM yang akan difasilitasi melaksanakan pertemuan dengan usaha besar pada 2012 sebanyak 100 dari berbagai provinsi.

Rafinaldy menerangkan tujuan utama kegiatan itu untuk memperluas jaringan pemasaran dengan pola subkontrak melalui kemitraan antara KUMKM dengan usaha besar. “Usaha besar yang dipilih menjadi mitra KUMKM secara khusus yang bergerak di industri elektronik, spare part kendaraan bermotor, dan alat-alat pertanian,” kata Rafinaldy.

Rafinaldy mengatakan, Kemenkop dan UKM siap mengakomodasi para pelaku UKM yang berbasis menggunakan dan menghasilkan produk ramah lingkungan. Dia mengakui, proses menuju eco-green ini butuh dilakukan secara bertahap. Namun, para pelaku UKM harus terus didorong agar mereka dapat memproduksi produk yang ramah lingkungan. Menurut dia, produk-produk UKM bisa lebih mudah masuk ke pasar ritel modern. Selama ini bagi UKM, untuk dapat masuk ke pasar ritel modern dirasakan cukup sulit, namun hal tersebut tidak perlu dirisaukan oleh pelaku UKM, jika produknya sudah ramah lingkungan.

Dia menegaskan, tuntutan pasar dan konsumen akan produk yang ramah lingkungan perlu direspons oleh pelaku UKM secara bijak. Tuntutan ini bukan hanya pada tingkatan lokal saja namun juga pada tingkat global, sehingga lambat laun akan menjadi tren.

Related posts