Hatta: inflasi Tinggi Akibat Panceklik dan Banjir

NERACA

Jakarta - Laju inflasi di bulan Januari-Februari 2013 cukup tinggi akibat musim paceklik dan musibah banjir. Menurut Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, mengaku bahwa inflasi yang terjadi di dua bulan pertama tahun ini didorong oleh sektor pangan, karena musim paceklik.

“Walaupun tinggi, tapi kita bisa jelaskan karena dari analisis memang menurun suplai karena banjir sehingga suplai kurang," kata Hatta di Jakarta, Senin (4/3). Sementara dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) penyebab inflasi Februari yang mencapai 0,75% karena pengetatan impor holtikultura. Namun Hatta mengisyaratkan akan membicarakan itu dengan kementerian terkait.

"Ini akan dianalisa Menteri Pertanian (Suswono) dan Meneri Perdagangan (Gita Wirjawan). Nanti pada Rabu (6/3) besok akan ada rapat dan dilihat secara keseluruhan," terang dia. Hatta tidak menginginkan adanya pendapat inflasi itu penyebab tunggal adalah soal impor tersebut.

Padahal kebijakan pengetatan impor itu sebagai dukungan terhadap petani lokal. Tetapi memang petani lokal belum siap mensuplay pasokan yang diminta masyarakat. "Jangan sampai kebijakan kita untuk menolong petani dalam pengetatan impor hortikultura, justru dongkrak inflasi tinggi. Ini harus segera dikendalikan," jelasnya.

Dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi pada Februari mencapai 0,75%. Menurut dia, laju inflasi Februari sebesar 0,75% sebenarnya cukup tinggi. Namun lebih rendah ketimbang Januari kemarin sebesar 1,1%. Penyebabnya adalah pembatasan impor hortikultura.

"Akibat adanya pembatasan impor hortikultura oleh pemerintah menyebabkan Inflansi 0,75% pada Februari ini," ujar Kepala BPS, Suryamin, pekan lalu. Menurut dia, pembatasan impor hortikultura untuk melindungi petani dalam negeri, menyebabkan harga komoditas tersebut naik tinggi. Inflasi juga dipicu harga yang bergejolak pada bawang merah dan bawang putih.

Sementara Menteri PPN/Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana, menyebut inflasi pertengan tahun dipicu bertepatan dengan tahun ajaran baru. "Penyokong inflasi pertengan tahun adalah karena jadwal sekolah, tahun ajaran baru, puasa itu Juli dan lebaran Juli-Agustus," papar dia.

Apabila stabilitas pangan telah tercapai akibat masa panen, namun tetap diwaspadai Juni-Agustus. Inflasi bisa terkerek tinggi. Menyikapi hal itu, Armida menganggap itu adalah sebuah tantangan. "Saya prediksi Juni-Agustus itu memiliki tantangan bagi pemerintah," tambah Armida. [ardi]

BERITA TERKAIT

Sasa Inti Kembali Meraih Penghargaan Marketing Award

    NERACA   Jakarta - PT Sasa Inti kembali meraih apresiasi dari masyarakat yakni lewat produk Sasa Bumbu Komplit,…

Meski Ada Tekanan, Sri Mulyani Optimis Target Penerimaan Pajak Tercapai

    NERACAJakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku optimistis target penerimaan pajak tahun 2019 akan tercapai meski menghadapi…

DPR Tolak Kenaikan Iuran BPJS Kelas Tiga

    NERACA   Jakarta - Ketua Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf mengatakan para legislator sepakat menolak kenaikan iuran…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Chakra Jawara Targetkan Jual 60 Unit Truk - Pameran Indonesia Energy & Engineering Show 2019

      NERACA   Jakarta – Ajang Pameran Indonesia’s Energy & Engineering Show 2019 dijadikan sebagai langkah bagi distributor…

Aplikasi Masduit Memudahkan Transaksi Emas

    NERACA   Jakarta - Platform jual beli emas secara online bernama Masduit resmi diluncurkan sekaligus menindaklanjuti kerjasama strategis…

GM Tractors Targetkan Penjualan Alat Berat Naik 20%

    NERACA   Jakarta - PT. Gaya Makmur Tractors (GM Tractors), distributor alat berat untuk sejumlah sektor industroi menargetkan…