Denmark Sumbang Indonesia US$50 Juta - Sebut Berperekonomian Terbesar di Asia Tenggara

NERACA

Jakarta - Pemerintah Kerajaan Denmark memberikan bantuan kepada Indonesia senilai US$50 juta untuk meningkatkan kerja sama bilateral dalam mengatasi masalah lingkungan, energi, dan perubahan iklim. Kerja sama tersebut ditandai dengan kesepahaman antara Menteri PPN/Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana dengan Menteri Perdagangan dan Investasi Denmark, Pia Olsen Dyhr di Jakarta, Senin (4/3).

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana, mengatakan kerja sama ini merupakan program tahap ketiga dalam meningkatkan pembangunan kapasitas lingkungan di Indonesia, dengan pemerintah Denmark. "Kerja sama ini intinya untuk capacity building agar aspek manajemen pengelolaan lingkungan jadi bagus. Denmark merupakan salah satu negara yang menerapkan ini sejak 1980," katanya.

Armida mengatakan kerja sama ini juga mencakup pemberian bantuan teknis dan pengalaman Denmark kepada Indonesia terkait penggunaan energi terbarukan serta pemanfaatan energi lain secara efisien. "Penggunaan energi Denmark sudah efisien dan mereka telah menggunakan energi terbarukan secara efektif seperti angin," paparnya.

Dia menambahkan, bantuan ini juga memiliki tujuan untuk menurunkan target emisi rumah kaca sebanyak 26% pada 2020 mendatang, yang telah masuk dalam Rencana Aksi Nasional Gerakan Rumah Kaca. Sementara, Menteri Perdagangan dan Investasi Denmark, Pia Olsen Dyhr, mengatakan bagi Indonesia saat ini sangat penting untuk memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi yang berkelanjutan dengan memperhatikan masalah lingkungan hidup.

"Perekonomian Denmark sudah meningkat tiga kali lipat sejak 1980-an tanpa menambah konsumsi energi. Pengalaman ini yang ingin kami bagi dengan Indonesia. Kami bisa mengeksplorasi kebutuhan energi dan efisien dalam penggunaan air," ujarnya. Pia Olsen juga mengatakan adanya kemungkinan peningkatan kerja sama bilateral dalam investasi pemanfaatan energi angin yang lebih bermanfaat secara efektif dan ramah lingkungan di Indonesia.

"Indonesia dapat memanfaatkan sumber energi lain seperti angin. Kita telah mengundang perusahaan Denmark untuk membantu pengembangan offshore energy," ujarnya. Pia Olsen juga melihat Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara. Apalagi, Indonesia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi ketujuh dunia.

"Saya juga perlu menegaskan perkembangan ekonomi Indonesia menarik buat Denmark karena kami negara yang sangat mengandalkan ekspor. Sebanyak 54% GDP Denmark berasal dari kinerja ekspor," ujar Pia Olsen. Beberapa sektor yang tengah diminati Denmark, di antaranya makanan, pengolahan air, energi, dan infrastruktur. Dia meyakinkan bahwa perusahaan-perusahaan Denmark memiliki kompetensi memadai untuk menggarap sektor-sektor tersebut.

Namun dia menyebut kalau ada beberapa perusahaan Denmark yang sudah mengutarakan minatnya untuk berinvestasi di Indonesia. Sayangnya, dirinya enggan menyebutkan nama perusahaan tersebut. "Inilah mengapa kami ke sini karena banyak perusahaan Denmark yang ingin berinvestasi di sini," tambahnya.

Menurut dia, pemerintah Denmark hanya bertugas memfasilitasi keinginan perusahaaan-perusahaan swasta yang tertarik untuk berivestasi di Indonesia. Proses penjajakan investasinya tidak melibatkan pemerintah. Meski ingin meningkatkan ekspor ke Indonesia, Pia Olsen menyatakan tidak melihat Indonesia sekadar sebagai pasar yang potensial.

"Sebaliknya, dengan komitmen investasi yang telah disuarakan beberapa perusahaan Denmark pada saya, hal itu berarti penciptaan lapangan kerja bagi Indonesia," ujar dia. Pia Olsen juga bilang, Indonesia merupakan salah satu negara yang perdagangannya surplus dengan Uni Eropa. Warga Denmark juga mengkonsumsi produk-produk asal Indonesia seperti tekstil dan barang konsumen dan makanan.

Perwakilan Confederation of Danish Industry, Jens Holst-Nielsen, menambahkan bahwa penguatan kerja sama pengusaha bisnis di Denmark dengan pengusaha Indonesia akan dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU). Dia lalu menyebutkan akan ada sekitar 13 perusahaan Denmark yang ingin berinvestasi di Indonesia.

"Kami tidak hanya fokus di energi, tapi mengubah persepsi seperti bagaimana menggunakan teknologi dan sumber daya yang tepat," katanya. Saat ini, volume perdagangan Denmark ke Indonesia sebesar US$150 juta. "Banyak yang bisa dikembangkan dalam perdagangan dan investasi bisnis. Ini bisa jadi faktor pendorong," katanya. Pada 2016 mendatang, pemerintah Denmark menargetkan bisa meningkatkan volume perdagangan dua kali lipat dari nilai yang sudah ada saat ini. [ardi]

Related posts