Awas, Ekonomi Indonesia Menuju Zona Bahaya - DEFISIT NERACA PERDAGANGAN BAKAL TERUS BERLANJUT

Jakarta – Kalangan pengamat dan akademisi mengingatkan, ancaman defisit neraca perdagangan luar negeri Indonesia akan diperkirakan terus berlanjut dan diprediksi mengoreksi kinerja perekonomian nasional. Defisit perdagangan yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) kini mencapai US$171 juta (Jan. 2013) memberikan sinyal bahwa ekonomi negeri ini tengah menuju zona bahaya.

NERACA

Direktur Eksekutif Indef Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika mengungkapkan apabila pemerintah tidak segera memperbaiki defisit neraca perdagangan tersebut bisa membahayakan perekonomian Indonesia. "Ini menunjukan beberapa aspek ekonomi Indonesia menunjukkan masalah," ujarnya kepada Neraca, Senin (4/3).

Guru Besar Univ. Brawijaya ini memaparkan, hal paling krusial yang mendorong membesarnya defisit neraca perdagangan adalah impor bahan bakar minyak (BBM). “Sebenarnya, pemerintah sudah mengetahui tindakan yang seharusnya dilakukan untuk mencegah defisit terulang kembali. Yakni, tinggal melakukan penghematan BBM, karena hanya itu salah satu cara untuk mencegah terjadinya defisit neraca perdagangan dalam jangka waktu pendek, jika pemerintah tidak mau menaikan harga BBM,” lanjutnya.

Celakanya, menyangkut defisit neraca perdagangan, menurut dia, pemerintah selalu menyalahkan krisis global. Padahal, krisis global hanyalah faktor pemicu. Namun pemerintah menganggapnya sebagai penyebab utama merupakan sebuah kesalahan. “Di luar itu, faktor lain yang perlu dicermati adalah ketergesaan Indonesia untuk meliberalisasi perekonomian secara masif sehingga mematikan insentif produksi domestik, termasuk di sektor pertanian. Impor komoditas bak air bah tanpa bisa dibendung, sehingga makin menyulitkan upaya mencetak surplus perdagangan,” tegas Erani.

Karena itu, Erani mendesak pemerintah untuk menerapkan beberapa strategi yang jelas untuk mengatasi masalah tersebut. “Pertama dengan mengintensifkan promosi dan diplomasi perdagangan internasional. Strategi diplomasi ini ditempuh melalui pendekatan komoditas dan negara tujuan dari beberapa tahun lalu. Kedua, adalah memperbanyak ekspor produk-produk bernilai tambah untuk mengantisipasi penurunan harga komoditas di pasar internasional. Ketiga, pemerintah fokus untuk ekspor ke pasar-pasar non-konvensional yang masih tumbuh tinggi,” usulnya.

Secara terpisah, Revrisond Baswir, ekonom Univ. Gajah Mada (UGM) mengungkapkan, defisit neraca perdagangan internasional Indonesia akibat melemahnya ekspor dan melonjaknya impor barang dan jasa jelas akan mengoreksi kinerja ekonomi nasional. "Defisit itu jelas pengaruh, dan sudah terasa sekarang, bisa dilihat dari (nilai tukar) rupiah yang melemah dari segi moneter, serta inflasi yang nilainya tertinggi di Januari lalu. Kemudian pasti juga akan mempengaruhi sektor riil, walaupun sekarang aliran dana asing di pasar modal lumayan besar," tuturnya.

Tiga Faktor

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menjelaskan ada tiga faktor yang menyebabkan sektor migas selalu mengalami defisit yaitu asumsi harga migas di APBN, kurs rupiah yang fluktuatif, dan kuota BBM yang diprediksi akan membengkak. “Di APBN, asumsi harga migas mencapai US$90-105 per barel, padahal saat ini harganya mencapai US$110-115 per barel. Artinya sudah terjadi kenaikan harga,” ujarnya.

Bayu juga mengatakan nilai rupiah terhadap dolar pun cenderung melemah sehingga berakibat biaya impor menjadi membengkak. Dalam APBN 2013, asumsi nilai kurs rupiah tercatat Rp 9.300 per US$. Akan tetapi saat ini mencapai kisaran Rp 9.700. Sementara itu, kuota yang telah ditetapkan juga akan kurang sehingga perlu impor BBM. “Itu tiga sisi tekanan yang akan berpengaruh terhadap neraca perdagangan migas,” katanya.

Lebih lanjut lagi, Bayu tidak mau berargumen terlalu banyak dan hanya menyerahkan kepada kementerian teknis terkait, agar asumsi defisit migas bisa ditangani secara serius. “Saya tidak mau berspekulasi dan saya serahkan ke ESDM. Saat ini fokusnya pada penghematan energi dan langkah itu kita akan sambut. Kami hanya berbicara dalam level perdagangan internasional. Telah ada diskusi dengan intens mencoba untuk peningkatan. Penggunaan bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit terutama minyak bakar untuk industri. Ini akan menambah serapan kelapa sawit dengan harga yang kompetitif dengan minyak mentah,” cetusnya.

Staf khusus Menko Perekonomian Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, defisit neraca perdagangan terjadi akibat tidak seimbangnya kegiatan impor dengan ekspor. Terlebih derasnya investasi asing yang masuk ke Indonesia saat ini diikuti dengan tingginya impor barang modal. “Saat ini terjadi defisit global, sementara perekonomian Indonesia tumbuh kuat. Jadi, impor kuat sementara ekspor kita loyo,” jelasnya.

Oleh karena itu, menurut dia, perlu ada langkah konkret untuk menerapkan strategi industri yang cukup bagus untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun sayang, realisasinya akan memakan waktu yang cukup panjang atau sekitar 4-5 tahun. Dalam jangka pendeknya, defisit neraca perdagangan ini tidak akan berlanjut jika pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan jangka pendek, seperti menurunkan nilai tukar rupiah.

Meski demikian, defisit neraca perdagangan tidak selalu selalu mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang buruk. Hal ini seiring dengan rencana pemerintah untuk menaikkan kapasitas produksi ke era pertumbuhan yang lebih cepat. Di samping itu, devisa pun masih tumbuh. Selain itu, saat ini beberapa negara seperti Amerika, Jepang telah memberikan stimulus moneter kepada masing-masing negara sehingga diharapkan menjadi indikasi bagi perbaikan domestik.

Ditambah lagi saat inipun ketergantungan Indonesia telah berkurang dari sebelumnya 29%, menjadi 24%. Sehingga dengan upaya ini pertumbuhan ekonomi pun tidak perlu dikhawatirkan, “Jika kondisinya stabil seperti ini, perekonomian bisa tumbuh sebesar 6.5%, sedang terburuknya adalah seperti yang terjadi pada 2009, yaitu hanya tumbuh 4.6%,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan memprediksi, neraca perdagangan pada kuartal I-2013 dan akhir tahun akan mengalami defisit. “Kuartal pertama tahun ini kemungkinan defisit. Hingga akhir tahun saya perkirakan defisitya sama seperti tahun lalu, US$1,6 miliar. Tapi ini kan ada fluktuasi dan seasonal,” ujarnya.

Gita menjelaskan untuk mengatasi defisit neraca perdagangan, pemerintah mempertimbangkan beberapa alternatif. Antara lain dari sisi fiskal, yakni pengetatan subsidi BBM dan peningkatan ekspor. “China diperkirakan akan tumbuh kembali, dengan demikian akan membutuhkan barang mentah dari Indonesia. Ini akan meningkatkan ekspor dan berdampak pada trade and current account,” bebernya.

Related posts