HSBC Indonesia Masih Bimbang - Penuhi CEMA atau Jadi PT Nasional

NERACA

Jakarta – The Hongkong and Shanghai Banking Group atau HSBC di Indonesia merupakan bank yang masih berposisi sebagai kantor cabang bank asing (KCBA). Sebagaimana yang sudah diatur Bank Indonesia (BI) dalam Surat Edaran (SE) Nomor 14/37/DPNP tertanggal 27 Desember 2012 bahwa KCBA wajib memenuhi Capital Equivalency Maintained Assets (CEMA) minimum sebesar 8% dari total kewajiban bank paling lambat posisi Juni 2013.

“Untuk CEMA yang memang berkaitan dengan foreign bank, kita memang harus siap memenuhinya. Kita sudah dalam tahap mengumpulkan proposal yang berisi bagaimana strategi kita memenuhi CEMA secara gradual, setup-nya seperti apa, dan untuk itu kita intens berdiskusi dengan BI. Paling lambat tanggal 6 Juni (2013) sudah harus mengumpulkan aset portofolionya,” ungkap Ali Setiawan, Direktur Global Market HSBC Indonesia, ketika ditemui Paparan Kinerja 2012 HSBC Holdings plc, di Jakarta, Senin (4/3).

Dalam hal CEMA minimum sebesar 8% terhadap rata-rata total kewajiban lebih kecil dari Rp1 Triliun sejak posisi Juni 2013 sampai dengan November 2017, KCBA tetap wajib memenuhi CEMA minimum sebesar 8% dari total kewajibannya. Sementara, kewajiban pemenuhan CEMA minimum paling sedikit Rp1 Triliun bagi KCBA, berlaku sejak posisi Desember 2017. Dalam rangka pemenuhan CEMA, aset keuangan yang digunakan harus bebas dari klaim pihak manapun yang dibuktikan dengan surat pernyataan dari KCBA tersebut.

“Kedua bank asing paling besar itu di Indonesia adalah kita, selain Citibank. Kita memang sedang berusaha memenuhi CEMA dengan tetap memperhatikan mekanisme di pasar. Secara core business, kita ingin bisa masuk dalam BUKU 3, di mana bank bisa beroperasi secara penuh seperti apa yang sudah kita lakukan sekarang,” tambahnya.

Ali mengakui bahwa banknya masih berada di BUKU 2 saat ini. Namun dia sangat yakin bahwa HSBC Indonesia akan sangat mudah bergabung di BUKU 2, tidak seperti banyak bank lain yang masih kesulitan menambah permodalan.

“Kita sekarang di BUKU 2, tapi ada tenggang waktu sampai akhir Juni 2013. Kita akan mudah masuk BUKU 3, karena posisi modal inti kita sekarang sudah mencapai Rp4,2 triliun (sedangkan minimal modal inti di BUKU 3 adalah Rp5 triliun). Sedangkan bank lain masih banyak yang kesulitan.

Ali juga mengatakan kalau HSBC Indonesia mau masuk BUKU 3 maka nanti harus lihat actual CEMA-nya atau harus Rp5 triliun. “Tapi sekarang ada wacana yang berkembang di DPR, kalau KCBA itu harus jadi PT nasional. Jadi kalau sudah locally corporation tidak akan mempertimbangkan CEMA lagi.

Maka, ujar Ali, pihaknya masih menunggu klarifikasi yang terjelas mengenai hal tersebut, apakah harus jadi PT nasional atau memenuhi CEMA selama masih jadi KCBA. “Masalah ini sedang dibicarakan di BI, atau malah bisa dua-duanya, jadi PT plus memenuhi CEMA, sehingga ini akan seperti hybrid conclution supaya kita (jadi lebih) kuat. Untuk localling our corporation, itu masih kita review. Juga untuk ini masih menunggu revisi UU Perbankan,” ujarnya.

Sementara, aturan multiple license juga berisi pengaturan pembukaan jaringan kantor cabang, yang mana wilayah di Indonesia dibagi BI dalam enam zona berdasarkan tingkat kejenuhan bank dan pemerataan pembangunan. Namun, dengan posisinya hanya sebagai KCBA maka HSBC Indonesia tidak sangat agresif dalam membuka cabang.

“Kalau secara network atau branch, kita masih kecil. Walaupun kita mau menambah cabang, tapi tidak akan seagresif bank lokal, misalnya dalam setahun bisa 20 atau 30 kantor. Kita paling buka (kantor) cabang di satu kota tertentu, karena banyak klien kita di sana,” tuturnya.

Mengenai branchless banking, Ali menjelaskan kalau banknya memang tidak terlalu fokus ke sana, karena core business mereka memang bukan mass banking, tapi commercial atau corporate banking. “Kita belum seperti mass banking, sedangkan branchless banking itu kan istilahnya nasabah melakukan transaksi perbankan yang tidak harus ke cabang. Kalau bisa dibilang transaksi kita sudah begitu, karena nasabah kita lebih banyak yang menengah ke atas, jadi sudah pakai sistem online (internet banking),” jelasnya.

Ali juga menerangkan bahwa kontribusi HSBC Indonesia kepada HSBC Holdings Plc sudah berada di peringkat enam atau tujuh jika dibandingkan dengan cabang-cabang HSBC lainnya di seluruh dunia. Namun jika dilihat secara angka, jumlah kontribusinya masih kecil.

“Kontribusi dari Indonesia masih di posisi 6 atau 7. Tahun 2012 lalu, Indonesia masih kecil kontribusinya yakni hanya US$247,3 juta, atau 1,2% dari total laba kotor holdings yang sebesar US$20,6 miliar, sedangkan Hongkong memang yang terbesar dengan jumlah US$7,5 miliar, terhadap seluruh laba HSBC Holdings. Kontribusi dari Asia Pasifik sendiri memang sekitar 50,6%, meningkat sangat tajam dari tahun 2011 yang sebesar 34%, dan yang terkuat di Hongkong. Kontribusi wilayah lain, yaitu Amerika Utara 11%, Amerika Latin 11,6%, dan Eropa minus 16%. Secara kontribusi dr Asia Pasifik meningkat sangat tajam dr 34% thn lalu menjadi 50,6% (hampir semua negara di Asia),” paparnya.

Sebagai informasi, HSBC Holdings plc menghasilkan kinerja sebagai berikut di akhir 2012, yaitu laba sebelum pajak sebesar US$20,6 miliar, turun 6% dibandingkan periode sama tahun 2011, termasuk pergerakan negatif US$5,2 miliar dari fair value on own debt. Laba underlying sebelum pajak sebesar US$16,4 miliar, naik 18% dibandingkan 2011. Core tier 1 capital ratio sebesar 12,3%, meningkat dari 10,1% di bulan Desember 2011. ROE 8,4%, turun dari 10,9% di 2011, dikarenakan oleh dampak negatif atas fair value movements on own debt, yakni pajak yang lebih tinggi dan peningkatan modal. Kemudian laba per saham sebesar US$0,74, turun 20% daripada tahun 2011.

Sementara, dari data laporan keuangan bank kepada BI, per akhir Desember 2012 (unaudited), total aset HSBC Indonesia tercatat sebesar Rp64,52 triliun, dana pihak ketiga (DPK) Rp43,32 triliun, dan total kredit Rp38,47 triliun. [ria]

Related posts