Menteri PU Minta Kaji MPDT Lebih Teliti

NERACA

Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto meminta kepada Tim Pengkaji Terowongan Raksasa Multiguna (Multi Purpose Deep Tunnel/MPDT) untuk meneliti lebih detail terkait rencana pembangunan terowongan tersebut.Tim Pengkaji MPDT yang diketuai oleh Direktur Penatagunaan Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PU Arie Setiadi memaparkan hasil kajian kepada Menteri PU dan pimpinan Kementerian PU lainnya di Jakarta, Senin (4/3)

Dari laporan hasil kajian yang dipaparkan, Djoko Kirmanto menilai, hasil penelitian tim tersebut belum cukup mendetail khususnya hitungan potensi keuntungan ekonomi masyarakat dengan keberadaan infrastruktur tersebut nantinya. Dalam paparannya, tim gabungan dari Kementerian PU dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut menyajikan hal-hal teknis mengenai kondisi geologi, hidrologi, dan finansial.

“Saya meminta tim untuk menghitung secara keseluruhan, bukan hanya total konstruksi,” ujarnya.Menurut Djoko, aspek yang perlu mendapat perhatian dalam kajian di antaranya yaitu perlengkapan keamanan dan pengamanan terowongan, biaya operasi dan pemeliharaan, sirkulasi udara, dan permasalahan kelistrikan. Menteri PU mengaku dirinya belum dapat memutuskan MPDT layak dibangun atau tidak sebelum mendapatkan hasil kajian lebih lanjut dari tim yang dibentuknya.

Sementara itu Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Mohammad Hasan menanggapi permintaan Menteri PU, menyatakan timnya akan kembali bekerja untuk mengkaji lebih lanjut. Dia menargetkan dalam dua sampai tiga bulan hasil kajian lebih komprehensif sudah bisa dilaporkan.

Hasan mengatakan, “Konstruksi terowongan tersebut membutuhkan Rp 1 triliun per kilometernya. Dengan perhitungan tersebut, total biaya konstruksinya mencapai Rp 26,5 triliun belum termasuk biaya operasional dan pemeliharaannya yang juga sangat tinggi,” kata Hasan.

Proses konstruksi pembuatan MPDT, lanjut Hasan, akan berlangsung selama lima tahun dengan umur bangunan 50 tahun. Trase terowongan akan dimulai dari kawasan Balekambang menuju Kanal Banjir Barat dan berakhir di utara (Pluit).

“Tadinya kita akan membangun melewati Semanggi, tapi terlalu banyak pondasi gedung pencakar langit. Karena pertimbangan terhadap tanah yang lunak dan pondasi gedung, kita memutuskan akan membangun di bawah rel kereta yang relatif aman,” jelas Hasan.

Hasan mengatakan, keberadaan terowongan multiguna tersebut akan mengurangi lima titik banjir di ibukota. Selain berfungsi sebagai infrastruktur penanganan banjir, MPDT juga akan menjadi salah satu sumber air baku dengan kapasitas 4 juta meter kubik. Manfaat penting lainnya ialah sebagai saluran utilitas dan jalan tol selama musim kemarau. “Berdasarkan perhitungan, LHR (lalu-lintas harian rata-rata) kendaraannya mencapai 30 ribu kendaraan,” pungkas Hasan. [iqbal]

BERITA TERKAIT

Sasa Inti Kembali Meraih Penghargaan Marketing Award

    NERACA   Jakarta - PT Sasa Inti kembali meraih apresiasi dari masyarakat yakni lewat produk Sasa Bumbu Komplit,…

Meski Ada Tekanan, Sri Mulyani Optimis Target Penerimaan Pajak Tercapai

    NERACAJakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku optimistis target penerimaan pajak tahun 2019 akan tercapai meski menghadapi…

DPR Tolak Kenaikan Iuran BPJS Kelas Tiga

    NERACA   Jakarta - Ketua Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf mengatakan para legislator sepakat menolak kenaikan iuran…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Chakra Jawara Targetkan Jual 60 Unit Truk - Pameran Indonesia Energy & Engineering Show 2019

      NERACA   Jakarta – Ajang Pameran Indonesia’s Energy & Engineering Show 2019 dijadikan sebagai langkah bagi distributor…

Aplikasi Masduit Memudahkan Transaksi Emas

    NERACA   Jakarta - Platform jual beli emas secara online bernama Masduit resmi diluncurkan sekaligus menindaklanjuti kerjasama strategis…

GM Tractors Targetkan Penjualan Alat Berat Naik 20%

    NERACA   Jakarta - PT. Gaya Makmur Tractors (GM Tractors), distributor alat berat untuk sejumlah sektor industroi menargetkan…