Blackberry Kuasai 20% Pasar Smartphone Indonesia - Perdagangan Gadget

NERACA

Jakarta – Industri telekomunikasi khususnya ponsel pintar (Smartphone) di Indonesia sedang mengalami pertumbuhan yang cukup bagus. Hal ini bisa dilihat persaingan antar produsen handphone yang semakin seringnya mengeluarkan produk-produk barunya, tak terkecuali Blackberry. Produsen smartphone asal Kanada telah menguasai pasar Indonesia mencapai 15-20%. “Saat ini, Blackberry hanya menguasai 15-20% pasar smartphone di Indonesia,” ungkap Managing Director BlackBerry South Asia Hastings, Hastings Singh di Jakarta, Senin (4/3).

Ia mengungkapkan bahwa pihaknya berusaha untuk mempertahankan dan terus menggenjot pangsa pasar di Indonesia. Untuk itu, BlackBerry terus melahirkan produk baru. “Peluncuran ponsel terbaru ini diharapkan dapat mempertahankan pangsa pasar sekaligus meningkatkannya. Indonesia merupakan pasar paling penting di Asia Tenggara,” jelasnya.

Dia menambahkan, BlackBerry Z10 yang dibanderol dengan harga Rp 6,9 juta mulai dipasarkan di tiga distributor BlackBerry, yaitu PT Teletama Artha Mandiri (TAM), PT Comtech Selular, dan PT Surya Citra Multimedia (SCM).

Singh mengaku produk terbarunya ini membidik pasar premium di Indonesia. Meskipun harganya cukup tinggi, dia optimistis produk terbarunya ini mampu berkompetisi dengan ponsel pintar lain seperti Samsung dan iPhone 5. Penetrasi atau pertumbuhan ponsel di Indonesia mencapai 62% per tahun. Dari total tersebut, penetrasi pengguna smartphone hanya 18%.

Ditopang Mobile Internet

Sementara itu, Lembaga penelitian Frost & Sullivan menyatakan bahwa pertumbuhan industri telekomunikasi 2013 akan ditopang oleh peningkatan internet seluler atau mobile internet. “Bisa dibilang mobile internet inilah yang akan jadi penyelamat industri telekomunikasi Indonesia 2013. Hal itu dilihat dari semakin murahnya harga ponsel pintar dan tingginya tingkat adopsi jejaring sosial,” kata Head of Consulting ICT Practice Frost & Sullivan Dev Yusmananda.

Menurut Dev, mobile internet akan tetap menjadi pendorong tingginya penetrasi internet di Indonesia. Disamping itu, mobile internet juga akan menciptakan sumber pendapatan yang potensial bagi para pelaku industri telekomunikasi. Dia juga mengungkapkan adanya peningkatan penggunaan mobile internet akan mendorong pertumbuhan penjualan perangkat nirkabel.

Pada 2013, Dev memprediksi penjualan wireless dongle diperkirakan akan tumbuh 47,5% CAGR (compounded annual growth rate), sementara ponsel cerdas akan tumbuh sekitar 16,1% CAGR dan komputer tablet tumbuh 11,6% CAGR. “Kondisi pasar yang semakin kompetitif mendorong pelaku industri telekomunikasi untuk bertransformasi guna mempertahankan pertumbuhan,” katanya.

Layanan data seluler, menurut Dev, akan menawarkan nilai tambah yang dapat menjadi sumber pendapatan penting bagi operator. Dia menuturkan dari total pendapatan penyedia jasa telekomunikasi di Indonesia senilai Rp135 triliun, sebanyak 38% merupakan pendapatan dari layanan data. Sementara pelanggan layanan data seluler pada 2012 telah melebihi 250 juta orang.

Di tengah kinclongnya pasar ponsel tersebut, sangat disayangkan, seperti data Kementerian Perindustrian yang menyebutkan sedikitnya 50 juta telepon genggam atau handphone impor telah membanjiri Indonesia. "Ini harus segera ditanggulangi dengan pengurangan melakukan substitusi," ungkap Menteri Perindustrian MS Hidayat.

Hidayat memastikan pada tahun ini terdapat investor telepon genggam yang akan berinvestasi besar di Indonesia. Hal ini sebagai langkah menekan besarnya impor telepon genggam di tengah kondisi kebutuhan masyarakat akan telepon genggam sangat besar.

Titik Jenuh

Sebelumnya, Plt. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro melihat industri telekomunikasi mulai mencapai titik jenuh dan sulit untuk bertumbuh kembali, padahal sumbangannya terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) cukup besar. Sumbangan sektor telekomunikasi bersama transportasi kepada pertumbuhan Indonesia pada 2013 diperkirakan pemerintah sebesar 12,1%. “Komunikasi memang relatif sudah jenuh, kita bisa lihat dari perusahaan telekomunikasi kan mereka steady saja,” ucapnya.

Ia menambahkan, saat ini justru kinerja sektor transportasi, terlebih di transportasi udara yang menunjukkan pontensi meningkat, dilihat dari tingginya permintaan masyarakat akan jasa ini. Selain itu, lanjutnya, melonjaknya permintaan masyarakat akan komoditi membuat transportasi logistik melalui darat dan laut akan turut meningkat. “Jadi lebih banyak di transportasi terutama transportasi udara. Laut dan darat sih terutama untuk transportasi barang,” katanya.

Sementara penurunan dinilainya akan terjadi di sektor pertambangan, dimana tahun depan hanya akan menyumbang sekitar 2,8% terhadap pertumbuhan Indonesia. Hal tersebut disebabkan minimnya eksplorasi lokasi tambang baru, baik minyak dan gas, maupun mineral, pun penerapan kebijakan bea keluar. “Saya pikir tidak apa-apa (bea keluar), lebih baik berpikir bagaimana untuk memberi nilai tambah,” tuturnya.

Related posts