Pertamina Tercecer di Belakang Petronas - Perbandingan Kinerja

NERACA

Jakarta - Kinerja PT Pertamina (Persero) dinilai kalah jauh dibanding perusahaan asal Malaysia Petronas. Hal ini terlihat dari perbedaan fokus dua perusahaan tersebut. Namun, Direktur of Indonesia Center for Green Economy Darmawan Prasodjo melihat, kekalahan tersebut bukan salah Pertamina. Dia melihat, kesalahan ada di pemerintah yang selalu ketergantungan terhadap lifting minyak untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Pertamina tertinggal jauh jika harus dibandingkan dengan Petronas. Pertamina hanya berorientasi pada profit, sedangkan Petronas memiliki orientasi pada pertumbuhan pasar," ujar Darmawan di Jakarta, Senin (4/3).

Keuntungan yang diperoleh pemerintah dari pemberian profit Pertamina hanya 10% yang dikembalikan ke Pertamina untuk investasi. Sedangkan, Petronas diberikan 70% dari keuntungan yang diberikan ke negara untuk diinvestasikan kembali. "Pertamina kurang dari 10% profit diinvestasikan kembali ke Pertamina, sedangkan Petronas 70% dari profit diinvestasikan kembali ke Petronas," kata dia.

Pengamat migas ini juga menambahkan, Pertamina saat ini hanya memiliki belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 10 miliar atau Rp 9,5 triliun sedangkan Petronas memiliki capex 9 kali lipat dari Pertamina yang mencapai US$ 91 miliar. "Artinya Pertamina kekurangan capital yang kronis sedangkan Petronas memiliki capital yang cukup untuk mendukung pertumbuhan," tegas dia.

Sebelumnya PT Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina) berniat menyalip kinerja dan operasional Petroliam Nasional Bhd (Petronas) pada 2015-2016. Nanang Untung Cahyono, Senior Vice President Gas & Power Pertamina, mengatakan niat tersebut akan dibarengi dengan peningkatan kinerja. “Kita harus lebih keras kerjanya dibandingkan dengan mereka, kalau mereka kerja 5 hari seminggu, kita kerja 7 hari. Kalau mereka kerja 8 jam sehari, kita kerja 16 jam,” ujar Nanang.

Dia mengatakan kerja keras tersebut juga harus dimulai dengan kerja pintar dari seluruh pegawai perusahaan pelat merah itu. Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) S. Priyono mengatakan pemerintah mendukung Pertamina untuk mencapai tujuan tersebut. Dia mengatakan pemerintah memberikan peluang sebesar-besarnya kepada Pertamina sebagai perwakilan Indonesia dalam setiap tender proyek di dalam negeri. “Kami ingin Pertamina hadir dalam setiap tender dan perpanjangan kontrak operator blok migas, perlu kerja keras dalam usaha (mencapai kinerja setinggi Malaysia) itu,” ungkapnya.

Sekedar informasi, seluruh rakyat Indonesia, nama Pertamina bukanlah hal asing lagi. Dari Sabang sampai Merauke semuanya tahu bahwa PT pertamina (Persero) adalah perusahaan Negara yang mengurusi Sumber daya Migas kita. Keberlangsungan energi kita tidak terlepas dari peranan pertamina sebagai salah satu pihak yang terlibat langsung dalam pendayagunaan energi di Indonesia.

Kalau Indonesia punya Pertamina, tetangga kita Malaysia juga punya perusahaan yang sama yaitu Petronas. Malaysia memberikan kepercayaan penuh dan hak istimewa kepada petronas untuk mengelola Migasnya. Uniknya, Petronas yang lahir belakangan dan lebih muda dari Pertamina ternyata menduduki peringkat 18 (tahun 2006), 17 (tahun 2007) dari PIW (petroleum intelligent weekly,2007) berdasarkan PIW index sedangkan Indonesia hanya mampu mencapai peringkat 30 (tahun 2006 dan 2007).

Pertamina VS Petronas

Kalau kita bandingkan pertamina dengan petronas, rasanya sungguh tidak mengenakkan. Pertamina lahir lebih dahulu, mencetuskan dan menerapkan system Production Sharing Contract lebih awal, tetapi ternyata malah Petronas yang lebih Berjaya. Hal ini bukan hanya karena Petronas berhasil mengimplementasikan system PSC dengan sangat baik, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu Malaysia menggunakan hasil minyaknya untuk pendidikan dan mengembangkan kemampuan nasionalnya.

Sedangkan Indonesia menggunakannya untuk subsidi BBM, membayar hutang dan korupsiTerdapat kritik bahwa birorat di Indonesia punya kecenderungan tidak biasa bekerja sama (sering disebut dengan egoisme sektoral, egoisme profesi dsb).

Pemerintah Malaysia pada saat ini hanya memberikan subsidi sekitar Rp 800,00/liter untuk harga minyak berapapun (harga BBM di Malaysia sekarang sekitar Rp 7750,00/liter). Disamping itu, Petronas juga mengelola banyak lapangan migas di luar negeri. Pada tahun 2000, Petronas tercatat beroperasi di 24 negara.

Budaya birokrasi baik di pemerintahan maupun perusahaan milik Negara lebih mendukung kemajuan bangsa. Salah satu penyebab pertamina kurang maju pada waktu itu adalah karena bersifat dan bermental Juragan. Pertamina tidak punya keinginan untuk melakukan sesuatu sendiri. Kalau bisa semuanya dilakukan oleh pihak ketiga baik di sektor hulu maupun hilir.

Related posts