Bisnis Ritel Menjamur, Harga Sulit Dikendalikan

NERACA

Jakarta – Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengungkapkan bahwa kini pemerintah cukup sulit untuk mengendalikan angka inflasi. Pasalnya jika dulu pemerintah cukup memberikan pasokan kepada usaha grosir maka kini banyak produsen yang langsung menjual barangnya kepada konsumen tanpa perantara usaha grosir.

“Misalnya kalau dahulu ada kenaikan harga beras, maka pemerintah cukup menambah pasokan di Cipinang maka seluruh Jakarta harganya akan mereda. Kalau sekarang justru tidak,” kata Bayu ketika ditemui di kantornya, Senin (4/3).

Ia menjelaskan saat ini dominasi bisnis grosir dalam penyebaran bahan pangan semakin menurun. Pada 1991, pasar induk dan toko grosir menguasai tata niaga di kisaran 73%. Sementara pada 2011, porsinya turun tinggal menjadi 59% saja. Sementara pedagang ritel dan eceran meningkat dari 1990 mencapai 26% dan pada 2011 mencapai 40%. “Dengan menjamurnya bisnis ritel maka dari sisi distribusi memang baik, akan tetapi membuat pengendalian harga menjadi lebih sulit,” katanya.

Dengan demikian, pemerintah mengaku sulit menanggulangi lonjakan harga bahan makanan yang menjadi salah satu alasan tingginya inflasi Februari yakni 0,75% atau tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Produk hortikultura yang rusak karena hujan saat pengiriman, menjadi faktor utamanya.

Produk hortikultura yang menjadi biang kerok inflasi adalah bawang putih sebesar 0,12%, cabai merah 0,04%, dan telur ayam 0,02%. “Kita tahu produk hortikultura kita kebanyakan segar sehingga bisa rusak dalam masa curah hujan tinggi seperti sekarang, imbasnya adalah distribusi yang terganggu,” tuturnya.

Dari pantauan Kemendag, beberapa kota yang mengalami inflasi akibat bahan pangan tertinggi adalah Jayapura sebesar 3,15%, Lhokseumawe 1,78%, dan Cilegon 1,23%. Untuk bahan makanan, seperti bawang putih, Kemendag berharap musim panen di awal bulan ini akan menurunkan harga. Hujan yang semakin berkurang juga diharapkan bisa mengurangi risiko terjadinya banjir di banyak wilayah, sehingga distribusi barang tidak terganggu.

Transpotasi Logistik

Selain menjamurnya pedagang ritel, masalah transportasi logitik juga mempengaruhi terhadap mahalnya barang-barang kebutuhan pokok. Untuk itu, pemerintah berharap untuk bisa memperbaiki sistem transportasi logistik yang terintegrasi dengan baik. Diharapkan sistem transportasi logistik bisa diterapkan pada 2013. “Selama ini kan barang-barang kebutuhan pokok harganya sangat mahal. Ini karena transportasi logistiknya mahal,” ujar Menteri Pertanian Suswono.

Untuk itu, dia menjelaskan, saat ini pihaknya bersama kementerian terkait sedang membahas perihal kebijakan transportasi logistik di Tanah Air. Dengan demikian kedepannya diharapkan bisa membantu mewujudkan upaya pemerintah untuk menekan harga-harga kebutuhan pokok di dalam negeri. Pasalnya, biaya transportasi logistik antardaerah di Indonesia justru lebih mahal dibanding biaya transportasi logistik impor.

“Misalnya mengangkut ternak dari NTT atau NTB, selama ini bisa lebih mahal daripada mengangkut ternak dari Australia. Padahal, bila transportasi logistiknya sudah baik, itu bisa memenuhi kebutuhan daging di Jakarta dengan harga yang murah. Problem kita ongkosnya mahal, lebih mahal dari daging dari Australia,” tutur Suswono.

Dia berharap, kebijakan terkait sistem transportasi logistik ini bisa diterapkan pada tahun depan. “Mudah-mudahan tahun 2013 sudah mulai ada perbaikan-perbaikan. Angkutan ternak sudah dipersiapkan, mudah-mudahan 2013 sudah bisa digunakan. Kami sedang mengusahakan daging bisa diangkut dengan pesawat. Bekerja sama dengan Garuda misalnya, dengan diberikan insentif-insentif tertentu,” ujar Suswono.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Ahmad Erani Yustika mengatakan, problem klise berupa kenaikan harga bahan kebutuhan pokok sudah bertahun-tahun tak pernah terselesaikan. “Sumber masalahnya ada tiga, yaitu ketergantungan impor, konsentrasi distribusi, dan keterbatasan peran Perum Bulog,” kata Erani.

Hampir semua komoditas penting pangan nasional Indonesia bergantung pada impor dalam jumlah yang besar, seperti jagung, kedelai, daging, dan beras. Implikasinya, ketika terjadi kenaikan harga internasional atau tiba-tiba permintaan pasar domestik naik, harga di pasar akan cepat berubah naik. “Ini hanya akan bisa diatasi apabila produksi ditingkatkan atau manajemen stoknya bagus. Celakanya, keduanya tidak dipunyai dan dilakukan pemerintah,” lanjutnya.

Related posts