SKK Migas Minta Insentif Eksplorasi - Tambah Cadangan Minyak

NERACA

Jakarta – Guna menambah cadangan minyak Indonesia yang hanya mencapai 4 miliar barel, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) meminta kepada Kementerian Keuangan untuk diberikan insentif eksplorasi.

“Insentif sangat perlu dalam kegiatan eksplorasi. Sehingga bisa meningkatkan cadangan minyak dengan banyaknya eksplorasi yang dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS),” ungkap Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini di Jakarta, Senin (4/3).

Ia menjelaskan bahwa jika diberikan insentif kepada KKKS untuk eksplorasi minyak, maka hasilnya baru akan terlihat sekitar 10-20 tahun mendatang. “Jika insentif diberikan oleh Kemenkeu saat ini, maka hasil dari pemberian insentif tersebut akan terasa dalam kurun waktu 10-20 tahun mendatang,” katanya.

Jika insentif eksplorasi tidak diberikan, lanjut Rudi, maka cadangan minyak Indonesia akan semakin menipis sehingga pada saatnya nanti Indonesia tidak akan memiliki cadangan minyak untuk dieksplorasi. “Kalau insentif tidak diberikan, maka dijamin cadangan minyak akan menurun,” gertak Rudi.

Menurut dia, insentif yang dimaksud adalah Kemenkeu tidak mengenakan pajak kepada KKKS yang masih dalam tahap pengeboran atau eksplorasi. Pasalnya menurut dia, pada tahap tersebut belum tentu menghasilkan minyak dan gas bumi sehingga tidak perlu dikenakan pajak. “Kalau sudah mendapatkan minyak dan untung makanya itu yang dipajaki. Tapi eksplorasi, jangan kan untung, ketemu saja belum tentu,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan Rudi, pada 2012, produksi minyak bumi Indonesia sebanyak 314,67 juta barel. Sedangkan cadangan minyak yang ditemukan hanya sebesar 164,28 juta barel. Ia mengatakan, dari pengeboran 80 sumur eksplorasi pada 2012, hanya 51 sumur yang berhasil. Dari jumlah tersebut, sumur penghasil minyak hanya ada 12 sumur, sementara sumur penghasil minyak dan gas sebanyak 16 sumur. “Jadi persepsi bahwa Indonesia kaya minyak dan layak mendapat bahan bakar minyak dengan murah itu keliru,” kata Rudi.

Namun, dia menegaskan, penemuan cadangan gas di Indonesia masih di atas angka produksi. Pada 2012, rasio pengembalian cadangan untuk gas dicatat sebesar 127%. Data SKK Migas menyebutkan, cadangan gas pada awal 2013 sebesar 104,25 triliun standar kaki kubik (TCF). Jumlah gas yang diproduksi pada 2012 sebesar 2,98 TCF, sementara pengembalian cadangan sebesar 3,79 TCF. “Cadangan gas ditemukan lebih banyak daripada produksi. Memang gas akan menjadi andalan Indonesia ke depan,” kata Rudi. Untuk itu, dalam jangka panjang, SKK Migas akan meningkatkan penemuan cadangan migas dengan melakukan eksplorasi secara masif.

Sebelumnya, hingga Februari 2013, SKK Migas belum bisa mencapai target yang telah ditetapkan. "Banyak dari target yang telah kami buat akan tetapi rata-rata belum mencapai target," ungkap Kepala Divisi Humas SKK Migas Elan Biantoro di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Sudah Tua

Tidak hanya cadangan minyak Indonesia yang semakin menipis, tetapi lapangan minyak di Indonesia sudah terlalu uzur sehingga pemanfaatannya tidak maksimal. “Cadangan besar ketemunya, disedot terus menerus jadi makin tipis. Untuk itu, kita harus tingkatkan terus kegiatan eksplorasi," jelas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Edy Hermantoro.

Dia mengaku pemerintah telah meningkatkan dana Rp 100 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mendukung kegiatan survei seismik yang dilakukan Badan Geologi. Survei seismik tersebut dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas data wilayah blok minyak dan gas yang saat ini dikeluhkan para investor migas. “Tapi penemuan cadangan saat ini, baru bisa dinikmati 10 tahun lagi,” paparnya.

Selain melakukan survei seismik, pemerintah juga menggandeng investor swasta untuk melakukan studi bersama (joint study) untuk mendukung penemuan cadangan minyak baru di kawasan Indonesia Timur. Edy menyebutkan terdapat 49 perusahaan dari dalam dan luar negeri telah mengajukan proposal untuk pelaksanaan joint study. “Ini menunjukkan Indonesia masih menarik untuk berinvestasi,” tuturnya.

Untuk menambah cadangan minyak, pemerintah akan menyiapkan dana untuk eksplorasi sebesar US$2,9 miliar atau setara Rp 28 triliun. “Kami harapkan alokasi itu bisa terserap secara optimal. Karena pada tahun lalu dari alokasi US$ 2 miliar, hanya terserap US$ 150 juta,” ungkap Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswo Utomo.

Menurut Susilo, Kementerian ESDM telah mendukung tim yang bertugas untuk mempercepat kegiatan eksplorasi. “Kita akan siapkan tim help desk bersama staf menteri, itu akan membantu pak Dirjen menyelesaikan masalah teknis maupun non teknis, seperti pembebasan lahan,” katanya.

Related posts