JK Dorong Pengembangan Ekonomi Syariah Berbasis Masjid - Dukung Branchless Banking

NERACA

Jakarta - Bank-bank nasional berbasis syariah didorong untuk berkantor di masjid-masjid di seluruh Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan perekonomian berbasiskan masjid sehingga akan lebih mudah dalam menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Ketua Dewan Masjid Indonesia, Jusuf Kalla, mengatakan konsep tersebut dinilai juga dapat membantu upaya Bank Indonesia (BI) dalam merealisasikan kebijakanbranchless banking atau bank tanpa kantor cabang yang rencananya akan diterapkan akhir 2013.

“Minggu depan (Selasa, 5/3), kita akan rapat pelaksanaan (dengan seluruh bank syariah) mengenai pembangunan seribu masjid di seluruh Indonesia. Kemudian, akan ditentukan bagaimana konsep dan mekanisme (ekonomi berbasis masjid), termasuk pengembangan UMKM. Sebelumnya, kita sudah lakukan kerja sama (MoU) dengan berbagai bank syariah. Pokoknya, seluruh bank syariah akan berkantor di seribu masjid seluruh Indonesia," ungkap Jusuf Kalla di Jakarta, Sabtu (2/3), pekan lalu.

Dewan Masjid Indonesia telah bekerjasama dengan Al Azhar dan perbankan syariah seperti PT Bank Muamalat Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, PT BNI Syariah, dan PT BRI Syariah, dalam membangun seribu masjid. Langkah ini merupakan suatu cara guna menumbuhkan perekonomian berbasiskan masjid. JK, begitu dirinya disapa, berharap ide tersebut bakal terealisasi di tahun ini.

Upaya untuk mewujudkan rencana tersebut sudah dimulai dengan penandatangan kerja sama seluruh masjid di Indonesia serta pemantauan ke sejumlah dewan masjid yang di Tanah Air.Lebih lanjut dirinya menuturkan, hampir seluruh bank syariah yang beroperasi membutuhkan nasabah. Sedangkan masjid, kata JK, sebagai tempat berkumpul masyarakat muslim yang melakukan ibadah tentunya memiliki banyak calon nasabah.

Upaya untuk mendekatkan bank dengan jamaah masjid juga dilakukan dengan menggerakkan ekonomi di sekitar masjid melalui pengembangan sektor UMKM. "Jadi nanti kalau berhubungan dengan bank syariah, bisa langsung di masjid. Ini konsep modern. Juga arahnyake branchless banking," terangnya. Apabila konsep ini terwujud, bank syariah yang beroperasi di seribu masjid yang akan dibangun tidak harus membuka kantornya setiap hari.

Mengenai sistem pembayaran angsuran, kata JK, dapat diawasi oleh pengelola masjid. Selain itu, bagi masyarakat yang menunggak angsuran maka harus siap diumumkan di masjid. "Pembayarannya mudah. Nanti disiarkan di masjid dan pastinya mereka akan bayar. Intinya, masyarakat memakmurkan masjid dan masjid juga memakmurkan masyarakat sekitar. Tahun ini kita mulai dan harus fokus," ujar JK, menjelaskan.

“Indonesia Gemilang”

Di tempat yang sama, Direktur Al-Azhar Peduli Ummat, Harry Rachmad, menambahkan dengan mengusung semangan sinergi menuju pemberdayaan dan kesejahteraan untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. Al Azhar menghadirkan sebuah program pemberdayaan masyarakat pedesaan yang terintegrasi yang komprehensif, terukur dan berkelanjutan. "Kami melalui “Indonesia Gemilang” akan mengusung paradigma baru melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis sinergi guna mengurangi angka kemiskinan secara komprehensif," kata dia.

Harry juga menambahkan, desa-desa yang potensial menjadi sasaran program akan bertransformasi menjadi "Desa Gemilang" tahap satu, melalui akselerasi program sinergi pemberdayaan masyarakat berwawasan e-learning dan renewable energy dalam bidang pemenuhan kebutuhan dasar dan ketahanan pangan, bina kemandirian, program menuju pemberdayaan keluarga, serta program keamanan masa depan keluarga desa dalam bentuk dana tabungan non riba bagi masyarakat.

"Target capaian program kita untuk meningkatkan taraf kesehatan keluarga guna memperpanjang Usia Harapan Hidup (UHH), meningkatkan pengetahuan dan menunjang pendidikan dasar-menengah dan keahlian dalam bidang tertentu, meningkatkan daya beli masyarakat, serta mendorong masyarakat dalam hidup sesuai dengan norma agama," papar Harry.

Informasi saja, bank sentral telah memberikan lima “wejangan” untuk kemajuan perbankan syariah Indonesia pada 2013 ini. Pertama, pembiayaan perbankan syariah yang mengarah kepada sektor ekonomi produktif dan masyarakat yang lebih luas. Kedua, pengembangan produk yang lebih memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor produktif.

Ketiga, transisi pengawasan yang tetap menjaga kesinambungan pengembangan perbankan syariah. Keempat, revitalisasi peningkatan sinergi dengan bank induk. Terakhir, peningkatan edukasi dan komunikasi dengan terus mendorong peningkatan kapsitas perbankaan syariah pada sektor produktif serta komunikasi parity dan distinctiveness. [ardi]

BERITA TERKAIT

Bank Jatim Dorong Pembiayaan Rumah Syariah

    NERACA   Jakarta - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) melalui Unit Usaha Syariah (UUS)…

Pengusaha Optimistis Regulator Dukung Industri

NERACA Jakarta – Pelaku usaha mengaku optimistis dengan hasil pemilihan umum yang baru dilansir Komisi Pemilihan Umum (KPU) bahwa pemerintah…

Lewat LinkAja, BNI Syariah Incar Fee Based Naik 52%

    NERACA   Jakarta - PT. BNI Syariah mengincar pendapatan berbasis komisi dapat meningkat hingga 52 persen menjadi Rp115…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Meski Terjadi Aksi 22 Mei, Transaksi Perbankan Meningkat

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan demonstrasi terkait Pemilu pada 22 Mei 2019 yang diwarnai…

Libur Lebaran, BI Tutup Operasional 3-7 Juni

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menetapkan untuk meniadakan seluruh kegiatan operasional pada 3-7 Juni 2019 atau…

Asosiasi Fintech Minta Dapat Kemudahan Akses Data Kependudukan

    NERACA   Jakarta – Industri Finansial Technology (fintech) berharap agar pemerintah bisa mengizinkan usaha fintech bisa mendapatkan akses…