Skandal Century Kehilangan Kisah

Oleh: Hendrajit

Direktur Eksekutif Global Future Institute

Skandal Bank Century sepertinya marak kembali menyusul penggusuran Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat yang kemudian disusul dengan keluarnya keputusan KPK menetapkan dirinya sebagai tersangka kasus Mega Proyek Hambalang. Sayangnya, kasus ini hanya mengerucut pada keterlibatan mantan Menkeu Sri Mulyani dan Wakil Presiden Budiono.

Meriset kembali peristiwa seputar Rapat Pansus DPR-RI terkait skandal Century pada 2009 lalu, sebenarnya ada satu mata-rantai penting yang bisa membuka cerita sesungguhnya apa skema Presiden SBY dan para kroninya. Yaitu kemunculan Marsilam Simanjuntak yang mengundang aneka tafsir seputar peran sesungguhnya dalam proses pengambilan keputusan pencairan dana talangan Century yang awalnya sekitar Rp 600 miliar sebagaimana yang diklaim oleh Sri Mulyani, namun pada perkembangannya menjadi Rp 6,7 triliun.

Apakah Marsilam hadir dalam rapat-rapat strategis yang dipimpin Menkeu Sri Mulyani dalam kapasitasnya sebagai Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi(UKP3R) yang berarti bisa dibaca sebagai seseorang yang diberi otoritas oleh presiden dalam keputusan yang sangat strategis dan sensitif tersebut? Ataukah dia hadir dalam dalam rapat di Kementerian Keuangan tersebut dalam kapasitas sebagai staf khusus Menkeu bidang Hukum. Sehingga fakta ini bisa dimaknai sebagai indikasi adanya rencana strategis dan skenario building dari sebuah jaringan siluman yang bekerja di luar struktur pemerintahan resmi.

Karena itu isu sentral dari kasus Century bukan bola liar, tapi soal bagaimana menghidupkan kembali sebuah kisah yang mengungkap adanya pemerintahan paralel di luar struktur pemerintahan resmi, jaringan siluman yang tidak kasat mata, dan dilancarkannya operasi senyap sebagai modus operandi yang melayani cara kerja jaringan tersebut.

Yang menggelisahkan saya, kasus ini sepertinya sama sebangun dengan Skandal Watergate yang mulai terungkap antara 1974-1976. Kasus ini mengemuka bermula sekadar sebagai kasus kriminal biasa terkait pembobolan dan pencurian di markas Partai Demokrat. Namun pada perkembangannya ditemukan adanya bukti penyadapan di markas Partai Demokrat dari kubu Nixon dan Partai Republik terhadap beberapa pertemuan strategis tim sukses calon presiden George McGovern dari Partai Demokrat.

Sayang, kisah Watergate ini hanya sebatas mengungkap adanya pemerintahan paralel di luar struktur pemerintahan yang merancang dan melancarkan operasi senyap sebagai modus operandi pemenangan dan sekaligus propaganda hitam terhadap pasangan George McGovern-R Sargent Shriver dari Partai Demokrat yang merupakan saingan Nixon pada Pemilu Presiden 1972. Seperti juga kisah Skandal Watergate yang bermuara pada kejatuhan Nixon pada 1974, bukan tak mungkin SBY pun akan alami nasib serupa. Namun juga seperti cerita yang terkandung pada kisah Watergate, bahwa kejatuhan presien akibat ulah tim siluman dan pemerintahan paralel, sejatinya bukan ditujukan untuk membongkar sistem politik yang koruptif secara mengakar, melainkan justru untuk melestarikan sistem tersebut seraya mengorbankan presiden yang sebenarnya hanya sekadar puncak gunung es dari sistem politik yang koruptif dan berwatak siluman tersebut.

Related posts