Sudah Mahal, Saham Perbankan Rawan Terkoreksi - Koleksi Saham Lapis Dua

NERACA

Jakarta- Melesatnya pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jum’at akhir pekan hingga menembus level 4.800, dipicu aksi beli investor asing terhadap saham-saham perbankan. Kata analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono, berkat aksi borong investor membawa indeks BEI kembali kezona hijau,”IHSG masih mampu ditutup menguat melanjutkan kenaikan didorong oleh naiknya saham perbankan dan properti," katanya.

Oleh karena itu, saham sektor perbankan menjadi salah satu pemimpin pasar yang dijagokan saat ini. Namun saham perbankan tidak selamanya dapat menjadikan saham tersebut layak untuk menjadi portofolio investasi jangka panjang. “Kondisi harga yang sudah mahal sehingga akan rawan terjadi koreksi. Sebaiknya untuk trading jangka pendek, atau satu bulan ke depan,”ujar analis saham, Lucky Bayu Purnomo di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurutnya, mahalnya saham perbankan dan menunjukkan perform yang cukup positif di tahun ini tidak lantas menjadikan saham tersebut aman untuk investasi jangka panjang. Selain itu, saat ini pasar masih menunggu hasil pemilihan umum (pemilu) Italia. “Ini berdampak pada CAC40 yang merupakan indeks Eropa, Dow Jones dan mempengaruhi pergerakan IHSG.” ujarnya.

Jika hasil pemilu tersebut bagus, lanjut Lucky maka pasar akan menguat. Sebaliknya, jika hasilnya buruk atau hasil yang didapat tidak mewakili ekspektasi rakyat maka bisa jadi akan membuat pasar terkoreksi di kisaran 2-3%. Proyeksinya, batas atas IHSG di satu bulan ke depan akan berada pada level 4.850, sedang batas bawahnya mencapai 4.750.

Berpeluang Menguat

Kata Lucky, meski pada prinsipnya harga saham perbankan sudah mahal, angka yang dicatatkannya belum tinggi sehingga masih ada peluang terjadinya penguatan (rebound). Selain itu, saat ini kinerja sektor perbankan didukung adanya sentimen positif dari bank-bank besar yang mencatatkan pertumbuhan laba positif, antara lain PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Sepanjang tahun 2012, BMRI meraup laba bersih sebesar Rp 15,5 triliun atau naik sebesar 26,6% dari perolehan laba bersih perseroan Rp 12,2 triliun di tahun 2011. BBRI mencatat perolehan laba bersih yang mencapai Rp 18,5 triliun atau meningkat sebesar 22,79% dibanding tahun 2011 yang lalu yang hanya mencapai Rp 15 triliun. Sementara BBNI meraup laba bersih sebesar Rp 7,1 triliun atau naik 21 % dibandingkan pencapaian 2011 sebesar Rp 5,81 triliun.

Kinerja yang cukup positif dari bank-bank tersebut, menurut Lucky, berpeluang menguat sekitar 10-15% dan memberi sentimen positif bagi kinerja saham bank-bank lainnya yang termasuk dalam kategori saham lapis kedua. Selain itu, IHSG telah mencatatkan rekornya sepanjang sejarah, yaitu di atas level 4.700. “Apresiasi untuk beli saat ini lebih besar dibanding jual.” jelasnya.

Saham Lapis Dua

Meski demikian, untuk saat ini Lucky merekomendasikan saham-saham lapis pertama dengan nilai kapitalisasi besar. Pasalnya, jika akan terjadi koreksi, dimungkinkan masih dalam batas yang wajar atau cenderung tidak terlalu dalam.

Selain sektor perbankan, Lucky menilai, sektor properti seperti SMRA, dan WSKT ataupun ADHI dari sektor infrastruktur masih bisa dijagokan. Alasannya, saat ini sektor properti masih menjadi sektor yang memimpin pasar sehingga menjadi sentimen positif ke depan.

Sementara terkait infrastruktur karena saat ini merupakan periode mendekati pemilu, yang pada umumnya membawa institusi pada kajian membangun negara, yaitu memperbaiki maupun membangun infrastruktur secara masif. (lia)

Related posts