Industri Komponen Otomotif Makin Bergairah - Gara-gara Program Mobil Murah Ramah Lingkungan

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkirakan investasi komponen roda 4 pada tahun ini bisa menyentuh US$1,2 miliar karena tingginya permintaan produk dan adanya program mobil murah serta ramah lingkungan atau low cost and green car (LCGC).

Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Budi Darmadi mengungkapkan tahun lalu, pasar mobil nasional telah menembus angka 1 juta unit. Program LCGC yang tergabung dalam kebijakan low carbon emission project (LCEP) ini bisa meningkatkan kapasitas produksi dan pasar mobil di dalam negeri yang diprediksi stagnan pada tahun ini sebesar 1,1 juta unit.

Peraturan LCEP, menurut Budi, diharapkan keluar pada akhir kuartal I tahun ini dan pemerintah diharapkan segera menyosialisasikan detail dari aturan tersebut kepada pelaku industri komponen dalam negeri.

“Kami sedang mencocokkan kebutuhan komponen setiap prinsipal dengan kemampuan produsen komponen yang ada. Namun, tidak semua produsen komponen siap memproduksi kebutuhan sesuai dengan program LCEP karena ada setiap prinsipal membutuhkan jenis komponen yang berbeda-beda sesuai dengan produk LCGC,” terang Budi di kantornya, akhir pekan lalu.

Produksi mesin spesifikasi tertentu, lanjut Budi, sangat bergantung pada jenisnya sehingga investasi membangun fasilitas produksi baru dibutuhkan untuk mendukung program tersebut. “Honda, Toyota, Daihatsu, masing-masing berbeda spesifikasinya. Jadi, perlu disesuaikan dengan produsen komponen,” tandasnya.

Sebelumnya Hidayat mengungkapkan ada sekitar 50 investor yang sudah berminat untuk ikut mengembangkan program LCGC ini. Akan tetapi Hidayat juga mengingatkan kalau tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk produk mobil murah dan ramah lingkungan atau low cost and green car (LCGC) mencapai 80% dan mendorong investasi komponen di Indonesia. “Untuk produk LCGC 80% harus menggunakan 80% komponen yang diproduksi dari dalam negeri. Hal tersebut akan membuat biaya produksi mobil menjadi lebih murah,” katanya.

Sementara itu, Budi Darmadi, mengharapkan beberapa ATPM menjadi pelopor pengembangan industri komponen berdaya saing tinggi serta memberikan perhatian pada peningkatan penguasaan kemampuan teknologi.

Perkuat Otomotif

,Anggota Komisi VI DPR Ferrari Romawi mengungkapkan untuk memperkuat industri otomotif nasional, pemerintah bareng swasta harus memperkuat industri komponennya terlebih dahulu. Pasalnya apabila Indonesia mau membangun industri otomotif tanpa diimbangi dengan maju industri komponen, sampai kapanpun tidak akan berhasil dan sudah pasti akan ketergantungan impor komponen. “Industri otomotif harus diimbangi dengan kemajuan industri komponen dalam negeri,” terang Ferarri kepada Neraca.

Ferarri memaparkan kalau selama ini Indonesia hanya dijadikan pasar saja oleh Jepang, tanpa dibarengi alih teknologi. “Sehingga bangsa ini tidak pernah bisa mandiri di sektor otomotif. Berbicara mobil nasional tidak bisa untuk tidak menceritakan kisah terciptanya mobil “Kijang”. Indonesia memiliki kedekatan khusus secara bilateral dengan Jepang,” tambahnya.

Menurut dia, tidak mengherankan jika hampir lebih dari 30 tahun lamanya prinsipal otomotif dari Jepang diberikan hak atas penguasaan pasar otomotif di Indonesia. Melalui ATPM yang dipegang oleh ASTRA, Jepang hendak mewujudkan perakitan mobil pertama yang sekaligus nantinya akan menjadi ledakan industri otomotif di tanah air.

Upaya yang dipelopori oleh Toyota kemudian diikuti oleh pesaingnya dari Jepang lainnya seperti Honda, Suzuki, Daihatzu, Isuzu, dan Mitsubishi. Industri perakitan mobil pun akhirnya diikuti pula dengan kemunculan industri otomotif dari Jepang pula untuk jenis kendaraan roda dua. Kedua jenis tersebut meraih sukses besar hingga saat ini.

Sekedar informasi, program pemerintah untuk mobil murah dan ramah lingkungan atau Low cost and green car (LCGC) rupanya menarik perhatian para investor. Pasalnya di tahun ini, 50 investor industri komponen tier I dan tier II telah menyatakan minatnya untuk membangun pabrik di dalam negeri. Investasi tersebut akan memberikan nilai tambah bagi industri otomotif.

BERITA TERKAIT

Impor Garam Kembali Dibuka?

NERACA Jakarta – Indonesia memang memiliki lautan yang cukup luas, tapi impor garam yang masuk ke Tanah Air ini juga…

Kemenperin Siap Menopang Industri Tekstil

NERACA Jakarta – Ditengah-tengah membanjirnya pakaian impor maka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) siap menopang atau membantu industri tekstil dalam negeri. Hal…

Kembangkan Potensi Petani Sawit, Wilmar Gelar Hari Petani

NERACA Riau – PT Siak Prima Sakti (SPS), grup Wilmar menggelar program tahunan Hari Petani Wilmar (Wilmar Farmer’s Day) untuk…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

2020, Ekspor CPO ke India Diprediksi meningkat

NERACA Jakarta - Ekspor Ekspor minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) ke India diprediksi bakal naik. Hal ini terkait…

Laporan BPS, Ekspor Pertanian Paling Tinggi

NERACA Jakarta – Setiap awal tahun sudah menjadi tugas Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melaporkan data ekspor dan impor di…

Proper Hijau Berhasil Diraih Kawasan Industri Jababeka

NERACA Jakarta - PT. Jababeka Tbk, melalui anak perusahaannya PT. Jababeka Infrastruktur, selaku pengelola Kawasan Industri Jababeka, berhasil meraih penganugerahan…