Februari, SKK Migas Tak Capai Target - Hanya Bisa Bor 10 Sumur Migas

NERACA

Jakarta – Hingga Februari 2013, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yang baru saja dibentuk pada awal tahun 2013 belum bisa mencapai target yang telah ditetapkan. "Banyak dari target yang telah kami buat akan tetapi rata-rata belum mencapai target," ungkap Kepala Divisi Humas SKK Migas Elan Biantoro saat berdiskusi dengan wartawan di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Diantara terget yang belum tercapai adalah survei seismik 2D yang hanya mencapai 228 km. Padahal direncanakan bisa mencapai 1.250 km. Dari realisasi kegiatan pemboran sumur eksplorasi hanya bisa mengebor sekitar 10 sumur, padahal ditargetkan bisa mencapai 21 sumur. Sedangkan pemboran pengembangan terealisasi 100 dari rencana 144 sumur.

Untuk kegiatan kerja ulang (workover) tercapai 88 pekerjaan dari target 190 pekerjaan. Atau tercapai 46%. Sedangkan kegiatan perawatan sumur terrealisasi 1.250 pekerjaan dari rencana 2.470 pekerjaan, yakni baru tercapai 51%. "Kita harus kejar ketertinggalan agar target bisa teralisasi mendekati seratus persen di akhir tahun," kata Elan.

Sementara itu, ada satu sisi yang membanggakan yaitu realisasi pelaksanaan survei seismik 3D yang telah mencapai 957 km. "Padahal kami menargetkan bisa mencapai 750 km. Artinya realisasi survei ini melebihi 27% dari rencana awal," ujarnya.

Elan mengaku, ada beberapa penghambat dari ketidaktercapainya target-target tersebut. Yaitu masalah kendala cuaca, perizinan, tumpang tindih lahan, pencurian dan pengadaan alat seperti rig. Hambatan non teknis seperti perizinan, tumpang tindih lahan, cuaca, dan pencurain mencapai 33% dari keseluruhan kendala yang ada. Khusus cuaca, imbuh Elan, tak bisa dihindari karena ada di luar kontrol.

"Yang bisa diuapayakan misalnya hambatan pemboran karena kedatangan rig yang tertunda. Rig kita terbatas jumlahnya. Saat urus izin pemilik rig bingung padahal ada perusahaan di negara lain yang sudah siap membor. Kita ditinggal, dan ngantri lagi," ucap Elan.

Dengan demikian, lanjut dia, SKK Migas akan tetap menggenjot para kontraktor migas dalam realisasi target-target kerjanya. Hal ini sejalan dengan ketetapan SKK Migas bahwa 2013 merupakan tahun pemboran.

Terkait dengan produksi minyak mentah Indonesia, Elan mengungkapkan bahwa saat ini rata-rata produksi minyak mencapai 830.000 barel per hari. Angka tersebut masih jauh dibandingkan dengan target pemerintah yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013, dimana lifting minyak ditargetkan mencapai 900.000 barel per hari (bph).

Namun demikian, pihaknya mengakui 3 kendala utama yang menyebabkan produksi minyak masih stagnan. Kata Elan, tiga hambatan utama tersebut antara lain pengadaan rig (alat bor) yang cukup sulit saat ini. "Setidaknya 3 perusahaan minyak seperti CICO, Chevron, dan Premier Oil kesulitan dalam pengadaan rig," ujar Elan.

Hambatan kedua, kata Elan, yakni kondisi cuaca yang buruk. "Ini dialami Chevron daerahnya banjir, Pertamina Hulu Energi, dan WMO," ucap Elan. Hambatan utama yang ketiga, sulitnya perizinan lahan yang dialami PC Jabung, Seleraya, dan Odira Energy. "Akibat berbagai hambatan tersebut produksi minyak kita saat ini masih diangka 830.000 barel per hari. Namun produksi minyak saat ini memang bisa hanya di sekitar angka itu, karena saat ini produksi minyak sedang turun-turunnya karena faktor alami sumur minyak, tahun ini adalah tahun terendah dalam sejarah produksi minyak Indonesia," tandas Elan.

Menkeu Pesimis

Dari banyaknya hambatan tersebut, Menteri Keuangan Agus Martowardojo merasa pesimistis target lifting minyak 900 ribu barel per hari pada 2013 akan tercapai. Berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan lifting minyak baru akan ada hasilnya pada 2014. "Realisasinya mungkin hanya 850 barel per hari. Walaupun berbagai upaya untuk meningkatkan lifting telah dilakukan diperkirakan baru terealisasi pada 2014 ke atas," kata Agus.

Agus menjelaskan bahwa harapan Indonesia walaupun sudah ada banyak upaya untuk meningkatkan lifting tetapi inisiatif itu baru meghasilkan pada 2014 ke atas. "Harapan kita yang utama masih dari Cepu," tambah Agus.

Tidak hanya lifting minyak yang sulit tercapai. Agus juga menyatakan, target lifting gas setali tiga uang. "Dalam APBN target lifting gas adalah 1,36 juta barel setara minyak per hari. Namun realisasinya diperkirakan antara 1,24 juta-1,36 juta barel setara minyak per hari," ujarnya. Sebelumnya, pengamat energi Pri Agung Rakhmanto juga mengatakan, produksi minyak 1 juta bph pada 2014 akan sulit tercapai.

Related posts