Penyaluran Kredit BNI Capai Rp200,7 T - Di 2012

NERACA

Jakarta – PT Bank Negara Indonesia Tbk mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp200,7 triliun di akhir tahun 2012. Ini tumbuh 22,8%, dari hasil pencapaian di akhir 2011 yang sebesar Rp163,5 triliun. Sementara NPL gross tercatat sebesar 2,8% di akhir tahun lalu.

“Dalam mengucurkan kreditnya, BNI menjaga agar arah dana yang mengalir harus ke sektor produktif. Pada 2012, sebesar 74% dari total kredit BNI disalurkan ke sektor produktif, baik pada segmen korporasi, menengah, kecil, internasional, maupun ritel,” kata Gatot M. Soewondo, Direktur Utama BNI, ketika ditemui dalam acara Paparan Kinerja BNI 2012, di Jakarta, Kamis (28/2).

BNI, ujar Gatot, mematok pertumbuhan kredit di kisaran 23%-25% di tahun ini. Maka itu outstanding kredit perseroan bisa mencapai Rp243,86 triliun sampai Rp250,87 triliun. “Target pertumbuhan kredit industri kan 22%, kita 23-25%, pertumbuhan perkreditan di semua sektor. Kredit business banking dipatok tumbuh 21-23% pada tahun ini, sementara kredit konsumer dan ritel ditargetkan meningkat 27%-29%. Sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) gross, diupayakan akan ada di level 2,5%-2,75%.,” ujarnya.

Gatot menambahkan bahwa aliran kredit perseroan tetap fokus pada delapan sektor unggulan, yakni pertanian, komunikasi, kelistrikan, ritel, minyak dan gas, konstruksi, makanan dan minuman, dan sektor kimia. “Pembagian kredit di delapan sektor unggulan. Agrobisnis 8%-9%, komunikasi 8-10%, listrik 5%, migas dan tambang 10%, engineering (konstruksi) 6%, ritel, food and beverages (makanan dan minuman) 15%, yang terkait kimia 15%,” ungkapnya.

Dana pihak ketiga (DPK) meningkat 11,4% dari Rp231,32 triliun menjadi Rp257,7 triliun. Sementara rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 16,7%, marjin bunga bersih (NIM) sebesar 5,9%, rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) sebesar 49,5%, rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 2,8%, rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) sebesar 77,3%, return on asset (ROA) sebesar 2,9%, dan return on equity (ROE) sebesar 20%.

Sementara, untuk perolehan laba bersih tercatat sebesar Rp7,1 triliun selama 2012, meningkat 21% dibanding Rp5,81 triliun pada 2011. Dari penyaluran kredit tercatat mengalami pertumbuhan 22,8% dari Rp163,5 triliun menjadi Rp200,7 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) naik 11,4% dari Rp231,32 triliun menjadi Rp257,7 triliun.

Sementara rasio keuangan lainnya tercatat rasio kecukupan modal (CAR) 16,7%, marjin bunga bersih (NIM) 5,9%, rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) 49,5%, rasio kredit bermasalah (NPL) gross 2,8%, rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) 77,3%, return on asset (ROA) 2,9%, return on equity (ROE) 20%. Perseroan juga mencatatkan pendapatan bunga bersih tumbuh 17,1% dari Rp13,19 triliun menjadi Rp15,45 triliun. Sementara fee based income tumbuh 11,1% dari Rp7,6 triliun menjadi Rp8,44 triliun.

“Kinerja yang bersinar pada peningkatan kredit, sebagai sumber pendapatan bunga, dan operasional BNI lainnya yang memberikan kontribusi pada pendapatan non bunga (fee based income) menjadi penopang laba bersih. Juga ada perbaikan kualitas aset sehingga menurunkan beban PPAP (penghapusan penyisihan aktiva produktif) sebesar 33%,” jelasnya.

Pendapatan bunga bersih BNI memang mencapai Rp 13,20 triliun, atau naik 13% dari 2010 yang sebesar Rp 11,72 triliun. Sedangkan pendapatan nonbunga mencapai Rp 7,6 triliun, yang pada tahun lalu sebesar Rp 7,06 triliun.

Gatot kemudian menerangkan bahwa beban operasional meningkat 15% dari Rp 9,94 triliun menjadi Rp 11,13 triliun, namun beban PPAP pada tahun lalu turun 33% dari Rp 3,63 triliun menjadi Rp 2,42 triliun, sehingga laba bersih juga ikut meningkat. “Laba bersih per saham juga naik dari Rp 266 menjadi Rp 312 per saham pada 2011,” tutupnya. [ria]

Related posts