BRI: Kehadiran Branchless Banking Masih Terkendala - Bagi Dividen Rp5,55 Triliun

NERACA

Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk menyatakan, keberadaanagent banking di sistem branchless bankingatau kantor tanpa kantor cabang, yang aturannya tengah digodok Bank Indonesia (BI), masih akan menemui beberapa kendala. Direktur Utama BRI, Sofyan Basir, mengatakan, untuk agen itu sendiri misalnya, apabila berbentuk kantor maka harus ada keputusan berjenjang yang dibuat untuk mengeluarkan kredit mikro.

“Saya kira hal itu tidak semudah yang didiskusikan. Kalau suatu ketika agent banking ini, misalnya, berbuat jahat. Mereka membuat kredit fiktif lalu uang nasabah dibawa lari, di mana sistem kontrolnya dibangun?Kannamanya tetap kredit mikro atau bank mikro. Kalau kita bicara kredit mikro maka harus siap juga dong SDM-nya seperti harus memiliki pengalaman. Nggak begitu saja ada,” kata Sofyan di Jakarta, Kamis (28/2).

Namun, dirinya memandang positif apabila ada bank lain yang mau melakukanbranchless banking dengan menggunakanagent banking. Dia pun menekankan bahwa bank tersebut harus konsisten dalam menjalankan konsep tersebut.

“Kita sangat senang kalau bank lain melakukan itu. Masuk ke daerah juga bersama-sama membangun masyarakat desa serta menciptakan pertumbuhan ekonomi di lapangan. Kami terbuka saja. Tapi, jangan sampai hari ini antusias sekali terus tiba-tiba hilang,” ujar Sofyan, mengingatkan.

Konsepagent banking, menurut Sofyan, sebenarnya tidak begitu riskan. Namun memang perlu diawasi lebih dalam dan harus memiliki sistem teknologi informasi yang mumpuni. “Itu (agent banking) tidak riskan. Selama konsep pengawasannya utuh danonlineteknologinya juga harus utuh,” imbuhnya.

Meski begitu, dirinya tidak menutup kemungkinan untuk ke depan, BRI akan bekerja sama dengan perusahaan ritel atau telekomunikasi untuk makin mengembangkan bisnisnya antara lain dengan perusahaan telekomunikasi dan Indomaret. Namun, dia kembali mengingatkan kalau BRI lebih mengutamakan kerja sama dengan sesama bank terlebih dahulu. Pasalnya, perusahaan telekomunikasi masih belum bisa berperan penuh dalam transaksi keuangan, terlebih sector keuangan bukanlah ranah bisnis mereka.

“Telco, ya, bisnisnya di komunikasi. Dan itu adalah bagian dari sebuah transaksi bank. Bagaimana pun mereka harus punya sumber dana, jaringan dengan bank, giro wajib minimum (GWM), memenuhi kriteria KYC, dan harus tunduk kepada UU transaksi lintas keuangan. Jadi, mari kita matangkan dahulu dan pelajari dengan baik konsep branchless banking,” tegas dia.

Dengan demikian, Sofyan melihat gabungan antara kantor cabang, ATM, danpoint of paymentlainnya akan menjadi satu kesatuan rencanafinancial inclusionBRI di masa depan. “Kalau dibandingkan dengan semua bank, mana yang paling tersebar, mana konsentrasi di Jawa dan Jabodetabek. Nanti akan terlihat kalau kami penguasa daerah,” ujar dia, optimis.

Kontribusi agency positif

Di tempat yang sama, Direktur Keuangan BRI, Achmad Baiquni, menjelaskan BRI mencatat kontribusi kantor perwakilan (agency) di luar negeri membukukan kinerja yang positif. "Kontribusi laba agency di New York, AS meningkat dari US$5 juta pada 2010 menjadi US$11,5 juta di 2012," ujarnya.

Dia mengatakan transaksi kantor perwakilan di luar negeri di dominasi oleh sindikasi (kredit) dan transaksi surat berharga sehingga meperkuat perolehan fee base income perseroan. Dari sisi aset, kantor perwakilan di New York juga mengalami pertumbuhan positif, dari US$500 juta di 2010 menjadi US$1,2 miliar pada tahun lalu.

Selain di New York, Baiquni juga mengatakan, BRI memiliki kantor perwakilan di Caymand Island, dan kantor representatif di Hong Kong. Secara keseluruhan total aset BRI mencapai Rp535,21 triliun periode 2012 atau meningkat 17,23% dibanding Rp456,53 triliun pada akhir 2011.

Seiring dengan kinerja perseroan yang positif, BRI akan membagikan dividen senilai Rp5,55 triliun atau sebesar 30% dari total laba bersih 2012 yang sebesar Rp18,5 triliun. "Pembagian dividen tahun ini meningkat sebesar 84,2% menjadi Rp225,232 per lembar saham menyusul kebijakan dari Kementerian BUMN, hal itu diperkirakan karena masih negatifnya sektor perkebunan dan pertambangan," ujar dia.

Baiquni menambahkan, sebesar 14% dari laba bersih 2012 atau sekitar Rp2,592 triliun akan digunakan untuk Cadangan Tujuan guna mendukung investasi. "Sehingga sisa laba bersih perseroan sebesar 56% atau sebesar Rp10,371 triliun akan menjadi laba ditahan," tandasnya. [ria/rin]

Related posts