Harga Sewa Menara Telekomunikasi Bakal Terkerek

Dampak Kenaikan Harga Baja

Kamis, 28/02/2013

NERACA

Jakarta - Asosiasi Pengembang Menara Telekomunikasi (Aspimtel) memperkirakan harga sewa menara telekomunikasi pada tahun ini meningkat 10% karena kenaikan harga bahan baku baja lokal sebesar 15%.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Aspimtel, Peter Simanjuntak mengungkapkan, saat ini komponen baja merupakan bahan utama pembangunan menara yang berkontribusi hingga 50%. Naiknya harga baja lokal sebesar 15% akan mempengaruhi pembangunan menara telekomunikasi terutama di daerah baru

Meningkatnya harga baja lokal, menurut Peter akan berpengaruh kepada belanja modal dan biaya operasional perusahaan-perusahaan menara. “Kenaikan harga sewa menara tidak hanya disebabkan kenaikan harga baja, tetapi juga didorong kenaikan tarif listrik sebesar 15% dan upah minimum provinsi (UMP) di beberapa daerah,” paparnya di Jakarta, Rabu (27/2).

Perusahaan menara, lanjut Peter, diharapkan melakukan negosiasi dengan operator telekomunikasi yang menjadi penyewa menaranya, supaya terjadi titik temu soal harga sewa. “Kenaikan harga sewa merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Harga sewa menara akan kembali naik jika harga baja terus meningkat,” ujarnya.

Saat ini. penyewa utama menara telekomunikasi adalah operator telekomunikasi. Durasi sewa operator biasanya 8 tahun-10 tahun, dengan masa perpanjangan hingga 5 tahun.

Permintaan menara baru setiap tahun mencapai 6.000 unit dan 60% dari permintaan tersebut didorong dari kebutuhan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL). Sementara permintaan menara dari operator code division multiple access (CDMA) cenderung stagnan.

Sementara itu,Direktur Marketing Krakatau Steel Irvan Kamal Hakim menuturkan, tekanan produk baja dari luar negeri cukup besar, misal dari China. Namun, pangsa pasar KS sampai 2014 di kisaran 65 %, tetap lebih baik dibandingkan Jepang dan Korea yang hanya menguasai pangsa pasar dalam negeri di negaranya masing-masing sebesar 35%.

Untuk itu, kata Irvan, Krakatau berharap pemerintah bisa memberikan perhatian lebih pada kebijakan baja nasional. Saat ini, meski Krakatau Steel juga memimpin di pasar ekspor, dari segi persaingan dengan China tetap kalah. Mengapa? Sebab, China mengeluarkan kebijakan dalam industri strategis.

Irvan memberi contoh, bagaimana baja khusus untuk menara menara (tower) telekomunikasi (BTS), harga pabrikasinya lebih murah dibanding bahan baku. "Baja tower (China itu), sampai pabrikasi di sini tinggal distel, itu harganya bisa lebih murah dari bahan baku. Bagaimana mungkin? Itu kan, karena ada kebijakan yang mendukung," kata dia.

Tentunya, Irvan menambahkan, kuncinya untuk memenangkan pertarungan di sisi ekspor, harus banyak diungkapkan masalah kebijakan ini dan banyaknya komitmen perdagangan bebas. Perusahaan baja nasional, PT Krakatau Steel Tbk (KS) optimis bisa menjadi raja baja di tingkat nasional. Bahkan, dari sisi penguasaan pasar, Krakatau jauh lebih baik dibanding perusahaan baja milik negara seperti di Jepang dan Korea.

Direktur Marketing Krakatau Steel Irvan Kamal Hakim menuturkan, tahun depan, pangsa pasar KS di Indonesia masih sebesar 65%. Pangsa pasar ini tidak bergerak dibandingkan tahun ini. "65% itu sampai 2014, karena kita baru ekspansi 2014," kata Irvan.

Andalkan Impor

Pembangunan infrastruktur menjadi pendorong utama dalam penggunaan besi terlebih dengan adanya program Masterplan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Dengan adanya program pembangunan infrastruktur tersebut, permintaan besi semakin meningkat. Namun, di kala permintaan semakin meningkat, tidak satupun produsen lokal bahan baku besi bisa memasoknya.

Hal ini seperti dikemukakan Ketua Asosiasi Industri Pengecoran Logam Indonesia (Aplindo) Achmad Safiun ketika ditemui seusai press conference Pameran Indometal 2013 di Jakarta, Senin (18/2). "Realisasi konsumsi besi baja Indonesia 2012 telah mencapai 9 juta ton. Untuk tahun ini (2013), kami memprediksi akan tumbuh sekitar 20% lantaran pembangunan yang semakin banyak dan juga program MP3EI pemerintah turut mendorong penggunaan besi baja," ujarnya.

Namun demikian, Safiun mengatakan bahwa 100% bahan baku baja adalah impor. Pasalnya produsen lokal tidak mampu memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia untuk dijadikan bahan baku besi baja. "Dahulu pernah biji besi diolah di Krakatau Steel (KS) namun KS belum berhasil menjadi barang jadi. Maka dari itu, hingga sekarang KS belum mampu memprdoksi besi dari mineral," katanya. Justru, kata dia, KS hanya memanfaatkan besi-besi tua untuk didaur ulang sehingga bisa dimanfaatkan kembali.