PLN Desak Konsorsium Segera Bangun Pembangkit Geothermal - Percepat Proyek 10.000 Megawatt

NERACA

Jakarta - Demi mensukseskan mega proyek 10.000 mega watt (MW) yang dicanangkan oleh PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN), Direktur Utama PLN Nur Pamudji mendesak konsorsium untuk segera merealisasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) atau geothermal.

"Kami menghimbau agar konsorsium bisa merealisasikan PLTP sebagai bagian dari mega proyek 10.000 MW tahap kedua. Untuk itu, kami memberikan waktu 4 tahun untuk dinyatakan siap dalam pengembangan PLTP," kata Nur di Jakarta, Rabu (27/2).

Menurut Nur, untuk pengembangan PLTP diperlukan pendanaan yang tidak sedikit. Sebab, untuk awal eksplorasi dibutuhkan sekitar US$7 juta. Hal itu digunakan untuk pendanaan mengebor saja sehingga masih ada proses yang diperlukan dan juga pendanaan yang tidak sedikit. Ia juga memaparkan, potensi ditemukannya uap biasanya berada di kedalaman 1.000 meter.

Namun demikian, lanjut dia, pengeboran tidak hanya dilakukan untuk sekali saja, namun bisa lebih dari dua atau tiga kali pengeboran secara sekaligus untuk mendapatkan potensi uap bumi yang jumlahnya besar. Hal lainnya adalah mengenai infrastruktur dalam membuat akses root.

"Sebagian besar, potensi panas bumi berlokasi di pegunungan. Perusahaan dituntut untuk membuka akses infrastruktur agar pengelolaan PLTP di sekitar lokasi juga berjalan dengan baik," ungkap Nur.

Nur menambahkan, mereka yang tidak punya modal itu dipastikan tidak bisa mengebor. Karena kalau kesiapan ini saja tidak dilakukan maka pihaknya tidak akan memasukkan dalam list proyek PLTP.

Sementara itu, PT Medco Energi Power melalui anak usahanya, PT Medco Cahay Geothermal, telah ditunjuk untuk membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Ijen di Jawa Timur berkapasitas 2x55 megawatt (MW). PLTP tersebut diperkirakan akan beroperasi pada 2016 mendatang. Untuk itu, pihaknya telah mempersiapkan dana sebesar USD 400 juta atau sekitar Rp 3,8 triliun untuk membangun PLTP Ijen.

Namun, Medco hanya mengeluarkan USD 20 juta untuk tahun pertamanya dalam eksplorasi sumur di Ijen. "Untuk pengeboran sumur pertama USD 7 juta, kalau kita bisa lakukan pengeboran sumur kedua akhir tahun ini jadi USD 14 juta. Kemudian juga ada pengembangan-pengembangan engineering, desain engineering kita harus spend USD 6 juta," ujar Presiden Direktur Medco Energi Power Fazil Alfitri.

Fazil mengungkapkan pendanaan tersebut mempunya porsi 30 persen dari perseroan dan 70 persen pinjaman bank. Dalam pengeboran tersebut akan diketahui cadangan terbukti dari PLTP Ijen yang mencapai 255 MW. "Itu dengan pengeboran itu kita bisa membuktikan bahwa kandungannya benar ada 255 MW, karena selama ini kita hanya tau dari data geologinya saja," tegas dia.

Dia menambahkan pihaknya menjual listrik dari PLTP Ijen ke PLN sebesar US$8,58 sen per kilo Watt hour (kWh) dan dengan biaya transmisi sebesar USD 0,3 sen. Transmisi tersebut akan masuk ke dalam sistem GI Banyuwangi. "Transmisinya itu kira-kira 30 km, nyambung dari power plant kita ke gardu induk di Banyuwangi," kata Fazil.

Percepatan Proyek

Lebih lanjut lagi, Nur Pamudji mengatakan dengan masuknya proyek PLTP Ijen 2X55 Mw ini tersebut merupakan salah satu daftar proyek percepatan tahap kedua (fast track program II/FTP II) seperti yang diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 4 tahun 2010 dan Permen ESDM nomor 15 tahun 2010 maka proyek ini berhak mendapat penjaminan dari Pemerintah di mana tata cara pemberian jaminan diatur dalam Peraturan Menteri keuangan nomor 139 tahun 2011 (PMK 139).

"Pemberian jaminan ini dilakukan dalam rangka mengupayakan pemenuhan pembiayaan proyek pembangkit listrik atau kata lain proyek pembangkit tersebut agar dapat bankable," kata Nur Pamudji.

Pamudji mengungkapkan, dengan adanya pengembang proyek yang memiliki pengalaman, kemampuan keuangan yang kuat dan kemampuan teknis yang sangat kompeten, bertanggung jawab dan profesional serta didukung penjaminan dari Pemerintah maka diharapkan pembangunan PLTP Ijen ini dapat direalisasikan.

"Diharapkan dapat memberi kontribusi terhadap pembangunan yang berkelanjutan dan ramah terhadap lingkungan yang langsung akan memberi manfaat kepada masyarakat Provinsi Jawa Timur," tukas dia.

Aturan tentang sistem tarif setrum atau feed In Tariff (FIT) dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) membuat bisnis pembangkit itu lebih menarik. Kementerian ESDM menyatakan, sejak penetapan FIT itu ada sejumlah investor yang nyaris hengkang dari investasi PLTP, memilih kembali. "Investor panas bumi banyak yang sudah berminat lagi karena harganya sudah menarik secara keekonomian lagi," kata Direktur Jenderal Energi baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana.

FIT listrik panas bumi dari pengembang ke PLN ini diatur dalam Permen ESDM Nomor 22 Tahun 2012. Dalam beleid itu tarif tenaga listrik panas bumi (geothermal) ditetapkan sesuai kondisi wilayah masing-masing.

Related posts