Ekspansi Kredit, Mandiri Terbitkan Obligasi di Kuartal I

Dalam Bentuk Dollar

Rabu, 27/02/2013

NERACA

Jakarta – Maraknya industri keuangan bank dan non bank yang menerbitkan obligasi seiring pertumbuhan ekonomi yang positif, rupanya tidak mau dilepas begitu saja bagi PT Bank Mandiri Tbk. Pasalnya, diakhir kuartal pertama 2013 perseroan bakal menerbitkan obligasi.

Direktur Keuangan Bank Mandiri, Pahala Nugraga Mansury mengatakan, dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk penambahan biaya untuk ekpansi kredit perseroan, “Untuk waktu, nilai hingga denominasi valas atau rupiah akan diputuskan pada akhir kuartal pertama 2013 atau awal kuartal dua 2013,"katanya di Jakarta kemarin.

Sementara Direktur Treasury, Financial Institutions and Special Asset Management Bank Mandiri Royke Tumilaar mengungkapkan, pihaknya saat ini tengah mempelajari kondisi market untuk penerbitan obligasi tersebut, “Kita lagi mempelajari market-nya sekarang mungkin bagus, tapi lihat situasi dulu. Dari sisi kebutuhan tenor, jangka waktu masih lihat. Akhir kuartal satu dan awal kuartal dua,”ujarnya.

Diharapkan, kata dia, penerbitan obligasi tersebut mampu mendukung ekspansi kredit. Hal itu terkait dengan rencana perseroan untuk bisa meningkatkan pertumbuhan kredit hingga 20-22% di tahun ini."Untuk likuiditas kita masih cukup, tapi ini untuk pendanaan jangka menengah dan panjang, Ini peluang untuk memperkuat likuiditas kita," tandasnya.

Pada 2013, Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 20% sampai 22%. Pertumbuhan ini lebih rendah dibanding pencapaian pada sepanjang 2012 sebesar 23,7%. Sedangkan, dana pihak ketiga (DPK) ditargetkan akan tumbuh sebesar 17% hingga 18%.

Pasar Obligasi

Sebagai informasi, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan nilai obligasi dan MTN yang akan diterbitkan pada tahun 2013 mencapai sebesar Rp80 triliun. Direktur Utama Pefindo, Ronald T. Andi Kasim pernah bilang, peluang pertumbuhan obligasi di tahun ini masih cukup besar. Salah satunya didukung tingkat suku bunga acuan yang berada di level 5,75% dinilai masih cukup rendah.

Di samping itu, meski terjadi peningkatan dari sisi supply belum mampu mengcover permintaan pasar. "Penerbitan obligasi lebih erat kaitannya dengan tingkat suku bunga. Suku bunga rendah akan sangat menarik bagi perusahaan untuk menerbitkan surat utang karena dinilai akan dapat menutupi kewajiban utangnya." jelasnya.

Kemudian kekhawatiran akan kenaikan inflasi yang dapat mendorong tingkat suku bunga tidak akan berpengaruh signifikan terhadap minat penerbitan obligasi. Karena penerbitan obligasi merupakan keputusan masing-masing perusahaan dan hanya akan melakukan adaptasi. (bani)