Dyandra Yakin IPO Perusahaan "Laris Manis" Oleh Asing - Roadshow Hongkong, Singapura dan Malaysia

NERACA

Jakarta- Pada masa bookbuilding penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO), PT Dyandra Media International Tbk mencatatkan minat investor asing cukup tinggi dari roadshow yang diselenggarakan pihak manajemen di Hongkong. Setelah Hongkong, perseroan pun akan melanjutkan roadshow ke Singapura dan Malaysia. “Kami berharap melalui roadshow ke Hong Kong, Singapura dan Kuala Lumpur dapat menarik investor asing untuk berinvestasi di industri MICE yang kompetitif dan berpotensi. Selain itu, kami yakin industri ini akan terus berkembang cepat,”kata Direktur Operasional PT Dyandra Media International, Danny Budiharto melalui surat elektroniknya yang diterima Neraca di Jakarta (25/2).

Dari roadshow di Hongkong, menurut dia, antusiasme investor untuk bertemu dengan manajemen sangat tinggi dan slot waktu yang terbatas. Untuk satu slot pertemuan, beberapa investor bahkan digabung sekaligus dalam format group meeting dan luncheon yang dihadiri hingga sepuluh investor sekaligus yang terdiri dari para manajer investasi dan institusi keuangan.

Perseroan telah memulai masa bookbuilding IPO sejak tanggal 19 Februari 2013 dan akan berakhir pada tanggal 5 Maret 2013. Perseroan yang bergerak di bidang penyedia jasa penyelenggaraan event dan ekshibisi yang terintegrasi dengan convention center dan hotel ini sedang melakukan roadshow untuk bertemu dengan investor potensial baik investor domestik maupun internasional.

Dari pelaksanaan IPO, perseroan akan menggunakan sekitar 67% untuk pengembangan usaha dalam bentuk penyertaan modal pada entitas anak. Sekitar 24% untuk pelunasan pokok utang bank sehubungan dengan proyek-proyek yang sudah dilaksanakan DMI, dan 9% akan digunakan sebagai modal kerja.

Sebelumnya disebutkan, pelepasan saham ke publik ini dilakukan perusahaan untuk mendukung rencana pengembangan bisnis dalam merespons perkembangan industri MICE. “Indonesia sebagai tujuan MICE yang paling besar. Saat ini India dan Cina sudah cukup jenuh, minimum dapat menjadikan Indonesia terbesar di asia tenggara.” jelasnya.

Garap Bisnis Properti

Menurut Danny di samping bisnis utama yang saat ini tengah dijalankan perusahaan, pihaknya akan melakukan ekspansi di bisnis properti, khususnya perhotelan sehingga dapat mendukung rencana pengembangan bisnis MICE sendiri. Di tahun 2014, Dyandra menargetkan akan membangun 20 hotel baru dengan jumlah 2.400 unit. “Dyandra akan menambah tiga convention hall serta sejumlah hotel yang menyerap anggaran senilai Rp300 miliar.” jelasnya.

Ketiga convention hall tersebut, lanjut Danny adalah pembangunan tahap kedua Bali Nusa Dua Convention center seluas 25000 meter per segi. Selain itu, perusahaan juga tengah melakukan pembangunan Indonesia International Expo di Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang Selatan, Banten, dan pembangunan Makassar Convention Center yang terletak di kawasan Tanjung Bunga Makassar, Sulawesi Selatan.

Danny menyebutkan, untuk pembangunan hotel di Bali, pihaknya menanamkan investasi sebesar Rp 500 miliar, sementara untuk hotel yang berlokasi di wilayah BSD, Tangerang, dana yang dibutuhkan mencapai Rp2,1 triliun, yang ditargetkan akan selesai pada Juni tahun depan. Saat ini pihaknya mencatat, DMI memiliki 1 hotel Santika dan 5 hotel amaris dengan total 657 unit kamar hotel yang di berbagai kota di Indonesia.

Pihaknya menilai, peluang bisnis MICE masih cukup besar mengingat permintaan yang tinggi untuk penyediaan fasilitas MICE itu sendiri. Di samping pertumbuhan wisatawan, pihaknya mencatat global player yang masuk ke Indonesia 4-5 tahun ke depan diperhitungkan masih dalam kondisi aman, terlebih jika pemerintah dapat menjaga kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Sebagai informasi, PT Dyandra Media Internasional adalah anak perusahaan grup Kompas Gramedia dengan aset sekitar Rp3 triliun-Rp5 triliun. Selain itu, perseroan mengklaim memiliki 'market share' cukup besar hampir 75% dalam bisnis pertemuan, insentif, konferensi, dan pameran (MICE). Perseroan melepas sahamnya ke publik sekitar 30% dan menargetkan dana hasil IPO sekitar Rp 1 triliun. (lia)

Related posts