Penetrasi Pasar Produk Teknologi Informasi Masih Rendah

Rabu, 27/02/2013

NERACA

Jakarta - Penetrasi pasar Teknologi Informasi (TI) di Indonesia masih terbilang rendah. Hal itu bisa dilihat dari sedikitnya produsen produk TI yang berinvestasi di Indonesia. Maka dari itu, Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) meminta kepada pemerintah untuk mendorong pasar produk TI dan memancing kepada produsen untuk membangun pabriknya di Indonesia.

"Selama ini, pasar produk TI di Indonesia masih sangat rendah dan perlu upaya nasional untuk meningkatkan penetrasi produk TI seperti komputer di Indonesia. Upaya tersebut diharapkan bisa menarik perusahaan komputer global untuk membangun pabrik di Indonesia," kata Ketua Yayasan Apkomindo, Hidayat Tjokrodjojo di Jakarta, Selasa (26/2).

Untuk itu, dia meminta kepada pemerintah untuk mendorong pasar produk TI dengan cara mengeluarkan kebijakan yang memanfaatkan produk-produk TI. "Dengan kebijakan pemerintah agar sekolah memakai perangkat komputer tablet untuk kegiatan belajar mengajar bisa meningkatkan investasi produsen dengan membangun pabrik di dalam negeri. Kebijakan seperti itu bisa meningkatkan penggunaan komputer tablet di Indonesia dan menciptakan iklim investasi di industri produk TI," ujarnya.

Hidayat menuturkan bahwa kawasan industri di Indonesia, menurut Hidayat, memiliki sarana penunjang yang baik dengan perbaikan. Selain itu, jumlah sumber daya manusia yang terdidik dan terlatih juga memadai. "Penghambat masuknya investasi pabrik baru adalah minimnya pemanfaatan produk TI oleh masyarakat, sehingga pasar TI di Indonesia belum berkembang," paparnya.

Nilai pasar produk TI di Indonesia cukup besar dengan pertumbuhan sekitar 15%-20% menjadi Rp150 triliun di 2013. Dari jumlah tersebut, Rp50 triliun berasal dari penjualan produk hardware, seperti personal computer (PC), notebook, dan komputer tablet. Penjualan produk komputer tahun ini diperkirakan tumbuh menjadi 6 juta unit. Pasar komputer tablet tahun ini diperkirakan mencatat pertumbuhan sekitar 60% dibandingkan tahun lalu sebesar 40% dan pertumbuhan pasar notebook tahun ini berada di level 23% hingga 30%.

Sementara itu, Ketua DPD Apkomindo DKI Jakarta Nana Osay menjelaskan era teknologi informasi berubah sangat cepat. Empat tahun lalu, tutur dia, pasar TI disesaki berbagai produk PC. Di tahun ini, produk TI di Indonesia sudah dipenuhi oleh produk-produk tablet dan gadget. "Perkembangan pasar TI tidak bisa diprediksi. Tren berubah sangat dan sulit ditebak akhirnya," ujar Nana Osay.

Saat ditanya mengenai pasar ultrabook yang mulai berkembang, menurut hemat Nana, pasar ultrabook cenderung mengerucut pada segmen kelas atas atau high end. "Pasar ultrabook masih kecil, dianggap barang baru. Tapi, sekarang sudah banyak perusahaan yang mulai memasarkannya. Kemungkinan akan banyak peminat," ucap Nana Osay. Untuk mendongkrak penjualan produk TI, Apkomindo terus menjalin kerja sama dengan Dyandra Promosindo dalam penyelenggaraan pameran TI. "Melalui pameran, para pengusaha akan lebih mudah untuk memasarkan produk-produknya," tutup Nana Osay.

Keuntungan Luas

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendorong pengembangan industri teknologi dan informasi (TI) di Tanah Air karena dapat memberikan keuntungan yang lebih luas bagi Indonesia. "Saya mendukung penuh jika ada (investor) yang ingin berkeja sama membangun industri TI di Tanah Air," kata Presiden.

Dalam pidatonya, Kepala Negara menegaskan dirinya sudah mendapat laporan bahwa Kementerian Perindustrian dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sedang menjajaki kerja sama dengan mitra dari luar negeri untuk mengembangkan industri TI.

Menurut Presiden, jika kerja sama tersebut terealisasi, dalam dua hingga tiga tahun ke depan Indonesia mendapat setidaknya tiga keuntungan sekaligus.

Keuntungan yang dimaksud, yaitu pertama, terciptanya lapangan kerja yang lebih luas, baik bagi "intellectual un-employment" (tenaga terdidik tapi belum mendapat pekerjaan). Kedua produk yang dihasilkan akan berguna untuk perkembangan dunia pendididikan, pemerintah, dan bisnis. Kemudian ketiga, komponen produk-produk TI tersebut bahkan bisa diekspor dengan merek Indonesia.

Diketahui saat ini, perusahaan asal Taiwan, Foxconn Technology Group menjajaki menanamkan modal di Indonesia investasi sekitar Rp9,5 triliun. Menteri Perindustrian M.S. Hidayat menegaskan bahwa Foxconn bercita-cita membuat "Indonesia Silicon Valley".