Rumah Liar di Bantaran Kali Mulai Dibersihkan

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai bersih-bersih terhadap rumah-rumah liar di kawasan bantara kali. Selain menimbulkan pemandangan tidak sedap, hunian liar itulah yang menyebabkan banjir di Jakarta tak pernah sirna. Sebab, kehadiran mereka telah menyebabkan sungai menyempit, sungi menjadi dangkal, hingga akhirnya elevasi atau pemukaan sungai pun meninggi.

Setiap banjir tiba, tidak hanya rumah-rumah liar itu saja yang terendah, tapi air bah juga mulai menyerbu kawasan perumahan legal di atasnya. Banjir terakhir di akhir Januari lalu banhkan mencapai ketinggian hingga 1,5 meter.

Pekan ini, pembongkaran rumah liar dilakukan di sepanjang Kali Pakin yang ada di Jalan anah Pasir Bakti, RT 01/RW 07, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Kali Pakin itu berujung di Waduk Pluit. Puluhan bangunan yang dipakai sebagai tempat tinggal maupun usaha, seperti bengkel, tempat mandi,cuci, dan kakus (MCK), dan warung mulai dibersihkan. Yang masih disisakan adalah Mushola Baitussalam dan gedung Pendidikan Anak Usia Dini (Paud). Nantinya, kedua bangunan itu akan direlokasi ke Rusun Marunda.

Bangunan liar itu sudah berdiri sejak 20 tahun lalu. Agustini, warga RT 001/07 Penjaringan, mengaku kaget karena pembongkaran dilakukan secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya, Menurut dia, bangunan yang didiami dan sudah digusur itu merupakan warisan orang tuanya.

Koordinator Pelaksanaan Paska Darurat Banjir Waduk Pluit Heryanto menjelaskan, ada sekitar 60 bangunan yang dibongkar. Selama ini, selain lebar kali menyempit, jalanan pun juga sulit dilintasi mobil. “Ini perintah pak gubernur agar masyarakat semuanya tidak kebanjiran lagi seperti kemarin. Ini tidak ada ganti ruginya karena keberadaan mereka di sini ilegal," tutur Heryanto.

Rencananya, setelah bersih dari bangunan liar, kali akan dikeruk. Saat ini kedalaman hanya meter, setelah dikeruk diharapkan bisa mencapai kedalaman 5 meter. Sedangkan areal bekas bangunan itu akan dibuat jalan inspeksi hingga tak memungkinkan lagi orang bikin bangunan liar di sana. "Saat ini yang sudah dinormalisasi sepanjang 400 meter. Selain itu juga akan jalan inspeksi dengan lebar 7,5 meter dan panjang 600 meter," tutur Heryanto.

Saluran di Kapuk

Kawasan banjir di Klurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat juga dibersihkan dari hunian liar. Saluran yang menghubungkan RW 10 dengan RW 16 itu. Selama ini, saluran sepanjang 1 km itu sering meluap. Airnya pun sudah berupa lumpur kotor. Sebagian saluran berubah fungsi menjadi tempat usaha seperti jualan es kepala, bengkel motor, jualan bambu, maupun diditanami sayuran.

“Dulu ketika musim hujan tahun 2002 dan 2007 ketika saluran ini masih berfungsi dengan baik, wilayah kami tidak pernah tergenang air. Sekarang, selalu kebanjiran lebih dari 40 cm,” tutur” ujar Abah Muhtar (65), warga RW 16, Kelurahan Kapuk.

Saluran itu berakhir di Kali Cengkareng Drain. Kali itu sendiri sudah 15 tahun tak dikeruk. Kasudin PU Tata Air Jakarta Barat, Monang Ritonga menjelaskan, normalisai saluran itu paling lambat akan diselesaikan hingga 2014. (saksono)

Related posts