Indeks Melejit, Aksi Borong Investor Asing Hanya Sesaat

WASPADAI CAPITAL OUTFLOW

Selasa, 26/02/2013

NERACA

Jakarta – Melesatnya pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang nyaris tembus level 4.700 adalah sebuah prestasi, namun kondisi ini juga tidak terlalu membanggakan lantaran dibanyak di picu transaksi beli investor asing ketimbang investor domestik.

NERACA

Menurut analis Trust Securites, Reza Priyambada, aksi borong saham investor asing di bursa adalah wajar karena pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif, ““Konsep investor asing itu hampir sama dengan investor secara umum, yaitu ingin nilai dananya meningkat. Mereka ingin melakukan investasi di negara-negara yang masih tumbuh,” kata Reza kepada Neraca di Jakarta, Senin(25/2).

Derasnya dana asing yang masuk, juga perlu diwaspadai karena kemungkinan terjadinya capital outflow terbuka lebar. Pasalnya, dalam kuartal pertama ini masih banyak sentimen positif yang mendorong investasi asing masuk ke BEI. Terutama karena rilis kinerja keuangan dari emiten-emiten yang ada.

Namun pasca laporan keuangan, indeks kembali menyusut seiring deras pula dana asing yang keluar dari pasar modal, “Begitu kuartal satu selesai, earning season berakhir. Mereka melihat sentimen berikutnya di kuartal dua dan tiga. Akan banyak sentimen-sentimen ekonomi yang mengalihkan investor. Saat itu, mungkin saja terjadi capital outflow. Beberapa sentimen negatif yang mungkin terjadi, kata Reza, adalah dari penurunan rating, kondisi ekonomi di Eropa, bahkan pernyataan petinggi suatu negara juga bisa menjadi sentimen negatif,”ujarnya.

Saham Basis Konsumsi

Kata Reza, emiten yang digemari investor asing adalah emiten yang berbasis konsumsi. Dimana, dari indeks masing-masing sektor yang terus meningkat adalah barang-barang konsumsi dan industri dasar, ada semen, pakan ternak, “Dua sektor ini yang menggerakkan. Perbankan juga turut mendukung. Pergerakan positif juga terjadi di sektor properti dan perdagangan,”ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani, dalam beberapa hari ke depan nilai transaksi tersebut akan turun. "Saya mencurigai ini akan mencapai titik jenuh beli. Paling investor minimal jumlahnya Rp800 miliar. Kalau untuk yang akhir-akhir ini, investor asing melihat situasi global yang membaik," ujarnya.

Menurutnya, kondisi global yang membaik juga salah satunya disebabkan oleh dikeluarkan UU Tenaga Kerja di AS. "Jadi bisa dibilang dalam beberapa hari ke depan uang bisa "terbang" ke sana atau mungkin juga ke Cina. Tapi ini tidak akan sampai membuat kondisi pasar modal kita kolaps sih," paparnya.

Alasannya, kata dia, disebabkan oleh kondisi investasi di pasar modala Indonesia masih aman, walaupun tidak reasonable. "Di sini tidak fluktuatif, jika dibandingkan dengan pasar modal di Jepang atau Korea. Di sini istilahnya "safe something with balance" atau melemah tapi tidak sampai jatuh (landai)," katanya.

Sementara pengamat pasar modal Satrio Utomo menuturkan, beberapa saham yang mendorong pergerakan IHSG saat ini yaitu sektor perbankan, properti, dan konstruksi. Kekhawatiran akan terjadinya penurunan likuiditas pasar saat ini, bukan hal yang akan terjadi dalam waktu dekat. Karena saat ini, IHSG ditopang dengan adanya pergerakan saham-saham lapis dua dan tiga oleh investor lokal. “Saat ini baik lapis kedua maupun ketiga bergerak semua. Sementara asing sebagian besar masih pada saham-saham blue chip,” tandasnya.

Investor Domestik Tumbuh

Sebaliknya, Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen menilai, porsi asing di pasar modal selalu menunjukan penurunan sedangkan investor lokal menunjukan peningkatan. “Dalam 3 tahun terakhir dapat terlihat bahwa porsi asing menunjukan penurunan dan lokal cenderung meningkat walaupun masih belum mendominasi. Akan tetapi kenaikan itu terjadi di investor lokal,”ujarnya

Dia mengatakan investor domestik kini sudah mulai mengimbangi transaksi perdagangan saham terhadap asing di pasar modal Indonesia. Hoesen juga berharap investor lokal bisa semakin membaik ketimbang investor asing.

Hoesen berharap dalam tahun-tahun mendatang porsinya akan ditopang investor lokal dengan mencapai 60% berbanding 40%. “Dengan banyaknya investor lokal yang akan menanamkan modalnya ke BEI maka akan mempertahankan modal ke dalam negeri dan menghindari pengaruh spekulan asing,” katanya.

Untuk meningkatkan saham investor lokal, pihaknya dan juga otoritas telah menjalankan beberapa program seperti Pojok Bursa yang sudah mencapai 90 unit, Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) yang telah mencapai 17. “Ini adalah upaya-upaya kami untuk meningkatkan kepemilikan investor lokal di pasar modal,” katanya.

Sementara itu, pihaknya juga tidak melupakan perlindungan investor seperti program id investor, dan investor protection fund. Asal tahu saja, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Rahmat Waluyanto pernah bilang, tingginya aliran dana asing (capital inflow) yang masuk ke pasar modal dinilai akan menyebabkan pasar saham rentan terhadap terjadinya collaps.

Transaksi Asing

Derasnya, aksi beli investor asing membawa rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp5,3 triliun atau hampir mendekati target yang dipatok BEI hingga akhir tahun sebesar Rp5,5 triliun. Aksi beli belu investor asing sudah mencapai Rp 13,4 triliun. Secara historis itu cukup besar yang mencerminkan tingginya kepercayaan asing terhadap fundamental ekonomi dan emiten Indonesia.

Tercatat perdagangan Senin awal pekan kemarin, IHSG ditutup menguat menguat 44,984 poin (0,97%) ke level 4.696,107. Transaksi asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 410,11 miliar di seluruh pasar.

Delapan sektor mendorong indeks sampai rekor tertingginya sepanjang masa dan sedangkan dua sektor menjadi penghambat. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya BCA (BBCA) naik Rp 750 ke Rp 11.300, Nipress (NIPS) naik Rp 600 ke Rp 5.100, Lion Metal (LION) naik Rp 600 ke Rp 14.000, dan Mayora (MYOR) naik Rp 450 ke Rp 23.200. ria/lia/iqbal/bari/bani