BNI, Bank Nasional Pertama Layani Trustee

NERACA

Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk mencetak sejarah baru dalam industri perbankan Indonesia, menjadi bank pertama yang memberikan pelayanan Trustee atau jasa penitipan yang disertai pengelolaan aset. Jasa ini langsung dimanfaatkan oleh industri minyak dan gas Indonesia yang memang membutuhkan pelayanan Trustee, termasuk di dalamnya pengelola lapangan gas Blok Mahakam yang menjadi pengguna pertama jasa Trustee BNI, yakni PT Pertamina (Persero), Total E&P Indonesie, dan INPEX Corporation.

Direktur Utama BNI, Gatot Mudiantoro Suwondo, mengatakan hal tersebut menjadi tonggak sejarah baru bagi industri perbankan di Indonesia, di mana untuk pertama kalinya BNI, melalui kantor cabangnya di Singapura, memberikan layanan Trustee yang selama berpuluh-puluh tahun dikuasai oleh bank asing di luar negeri.

”Ini juga menjadi tonggak baru bagi industri minyak dan gas Indonesia karena kini pelayanan Trustee sudah beralih ke perbankan nasional sehingga target penggunaan local content dalam industri minyak dan gas semakin nyata terwujud,” ujar Gatot di Jakarta, Senin (25/2). Sebagai Trustee, BNI cabang Singapura akan menjalankan fungsi sebagai Agen Pembayar (Payment Agent), yaitu menerima hasil penjualan gas dari Blok Mahakam dan menyalurkan pembayaran ke pihak beneficiary yang disepakati dalam perjanjian.

Secara hukum, layananTrustee ini sudah sejalan dengan kebijakan otoritas moneter yang telah menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 14/17/PBI/2012 tanggal 23 November 2012 tentang Kegiatan Usaha Bank Berupa Penitipan dan Pengelolaan (Trustee). Nilai ikatan antara BNI dan pengelola Blok Mahakam ini tergolong signifikan dalam tataran transaksi keuangan di sektor minyak dan gas Indonesia karena volume tranksaksi penjualan gas Blok Mahakam mencapai 10-12 shipment per bulan, dengan nilai sebesar US$50 juta-US$60 juta untuk setiap shipment.

Gatot juga menegaskan, keberhasilan pelayanan Trustee BNI ini akan terus ditingkatkan, antara lain dengan memperkuat jasa serupa di pasar domestik. Oleh karena itu, BNI siap untuk Go Live Trustee Domestic pada 1 Juli 2013 mendatang. Dengan pelayanan Trustee oleh BNI, maka pengelolaan devisa yang dihasilkan oleh pelaku usaha di industri berbasis ekspor, termasuk minyak dan gas, Indonesia akan memberikan manfaat lebih besar pada perekonomian nasional, karena pasar keuangan domestik semakin dalam.

Dengan demikian, pengoperasian jasa Trustee oleh BNI ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang optimal bagi pelaku ekonomi dalam mengelola devisa mereka. Hal ini juga diharapkan dapat memberikan tambahan pasokan valuta asing di dalam negeri dan memberikan kontribusi positif pada kestabilan nilai tukar rupiah serta daya saing perbankan domestik.

Perlu UU

Gatot juga mengakui kalau aturan bisnisTrusteedi Indonesia masih lemah. Pasalnya, belum ada payung hukum yang kuat untuk memberikan ketegasan bagi perbankan nasionnal menjalankan bisnisTrusteedi dalam negeri pada waktu-waktu mendatang.

“Kalau dalam negeriTrustee Law (payung hukum) memang belum ada. Otomatis, UUTrusteepun nggak ada juga”, ungkapnya. Menurut dia, dengan belum adanya perundang-undangan yang mengatur tentang Trusteedi Indonesia, maka ditakutkan akan ada kebijakan yang salah arah dan penyelesaian sengketa yang tidak berdasarkan hukum.

Pada akhirnya, kata Gatot, yang ditakutkan tidak ada landasan hukum kuat yang mengatur tentang bisnistrusteedan penyelesaian sengketaTrusteeitu. “Kalau aturan BI itu kan lembaga. Kalau adasengketa, larinya bisa ke UU. Jadi, perlu didorong pembentukan UU Trustee ini. Kalau sudah ada, akan lebih mudah mengalihkan Trusteedi luar negeri ke dalam negeri,” jelas Gatot.

Kendati ada potensi besar pada bisnisTrusteedi BNI cabang Singapura, namun Gatot masih enggan merinci angka atau persentase keuntungan yang didapat bank pelat merah itu dari bisnis tersebut. Akan tetapi, Ketua Himbara itu menekankan BNI akan menggenjot kualitas pelayanan agar bisnisTrusteeBNI bisa berkelanjutan ke depan. [ardi/kam]

Related posts